Tak Harus S1, Ini 9 Profesi Paling Dicari di Luar Negeri pada 2026

Jumali
Jumali Senin, 31 Agustus 2026 09:17 WIB
Tak Harus S1, Ini 9 Profesi Paling Dicari di Luar Negeri pada 2026

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Peluang bekerja di luar negeri pada 2026 tidak hanya terbuka bagi lulusan perguruan tinggi. Sejumlah negara justru membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan praktis, mulai dari perawatan lansia, konstruksi, teknisi hingga energi terbarukan.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi pencari kerja Indonesia yang ingin membangun karier di luar negeri. Namun, kebutuhan tenaga kerja setiap negara berbeda sehingga calon pekerja tetap harus memperhatikan persyaratan visa, kemampuan bahasa, sertifikasi, pengalaman, dan pengakuan kualifikasi.

Laporan Skills England 2026 menunjukkan sejumlah pekerjaan prioritas diperkirakan terus mengalami peningkatan kebutuhan dalam satu dekade mendatang. Di Amerika Serikat, sektor kesehatan, teknologi, dan energi terbarukan juga termasuk bidang dengan prospek pertumbuhan yang tinggi.

Artinya, bekerja di luar negeri tidak selalu identik dengan pekerjaan kantoran atau profesi yang mensyaratkan gelar sarjana.

Berikut sembilan pekerjaan yang memiliki prospek dan kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara pada 2026.

1. Perawat dan Tenaga Kesehatan

Sektor kesehatan menjadi salah satu bidang yang menghadapi kebutuhan tenaga kerja cukup besar. Salah satu faktor pendorongnya adalah bertambahnya populasi lanjut usia dan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan kesehatan.

Di Amerika Serikat, misalnya, pekerjaan nurse practitioner termasuk profesi yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan tinggi hingga 2035.

Peluang juga tersedia untuk perawat dan tenaga perawatan di berbagai negara lain. Namun, profesi kesehatan tidak bisa dimasuki hanya bermodalkan pengalaman karena umumnya membutuhkan pendidikan, registrasi, lisensi, serta pemenuhan standar profesi di negara tujuan.

2. Caregiver dan Pekerja Perawatan Lansia

Kebutuhan tenaga perawatan tidak hanya berasal dari rumah sakit.

Pekerja yang membantu lansia atau orang yang membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari juga semakin dibutuhkan. Di Inggris, care workers dan home carers termasuk kelompok pekerjaan yang diperkirakan membutuhkan tambahan tenaga kerja dalam jumlah besar hingga 2035.

Skills England memperkirakan sekitar 199.000 pekerja tambahan dibutuhkan untuk kelompok pekerjaan tersebut.

Bagi calon pekerja Indonesia, profesi caregiver dapat menjadi salah satu pilihan. Namun, kemampuan bahasa dan pelatihan perawatan tetap penting karena pekerjaan ini berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari orang lain.

3. Software Developer

Digitalisasi membuat kebutuhan terhadap pengembang perangkat lunak tetap tinggi.

Di Inggris, pekerjaan yang berkaitan dengan pemrograman dan pengembangan perangkat lunak termasuk kelompok pekerjaan prioritas. Jumlah pekerjanya diperkirakan bertambah sekitar 192.000 hingga 2035.

Perkembangan kecerdasan buatan juga membuat kebutuhan industri teknologi berubah dengan cepat. Karena itu, kemampuan pemrograman perlu dilengkapi dengan kemampuan memecahkan masalah, memahami teknologi baru, serta beradaptasi dengan perkembangan AI.

4. IT Business Analyst dan System Designer

Peluang kerja di bidang teknologi tidak hanya tersedia untuk programmer.

Perusahaan juga membutuhkan tenaga yang mampu menganalisis kebutuhan bisnis, merancang sistem, serta menjadi penghubung antara kebutuhan perusahaan dan tim teknologi.

Di Inggris, kelompok IT business analysts, architects, and systems designers termasuk pekerjaan yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan.

Profesi ini cocok bagi pekerja yang memiliki perpaduan kemampuan teknologi, analisis, komunikasi, dan pemahaman bisnis.

5. Engineer

Tenaga engineer juga memiliki peluang di berbagai negara, khususnya pada sektor infrastruktur, manufaktur, energi, dan teknologi.

Kebutuhan tenaga teknik berkaitan erat dengan perkembangan industri dan pembangunan infrastruktur. Karena itu, jenis engineer yang dibutuhkan dapat berbeda antara satu negara dengan negara lainnya.

Calon pekerja sebaiknya terlebih dahulu memeriksa kebutuhan industri di negara tujuan. Sertifikasi, pengalaman, serta pengakuan terhadap kualifikasi pendidikan juga perlu diperhatikan.

6. Pekerja Konstruksi

Pekerjaan konstruksi menjadi salah satu pilihan bagi pencari kerja yang tidak memiliki gelar sarjana.

Tidak semua posisi di sektor ini membutuhkan pendidikan universitas. Pengalaman kerja, keterampilan praktis, kemampuan membaca gambar teknis, dan sertifikasi tertentu justru dapat menjadi modal penting.

Di Inggris, sektor konstruksi diproyeksikan membutuhkan tambahan tenaga kerja dalam jumlah besar pada periode 2025 hingga 2035.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keterampilan lapangan tetap memiliki nilai tinggi di pasar kerja internasional.

7. Teknisi dan Skilled Trades

Peluang juga terbuka bagi pekerja dengan keahlian teknis.

Contohnya teknisi listrik, mekanik, teknisi pemeliharaan, hingga berbagai profesi skilled trades. Sejumlah negara menghadapi kekurangan tenaga kerja pada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan praktis tersebut.

Bagi pencari kerja Indonesia, pengalaman kerja dan sertifikasi profesi dapat menjadi nilai tambah.

Namun, persyaratan untuk bekerja sebagai teknisi di luar negeri berbeda-beda. Karena itu, calon pekerja perlu memastikan sertifikasi yang dimiliki dapat diakui di negara tujuan.

8. Teknisi Energi Terbarukan

Peralihan menuju energi bersih turut menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Di Amerika Serikat, solar photovoltaic installers dan wind turbine service technicians termasuk pekerjaan yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan pesat hingga 2035.

Sementara itu, di Inggris, pekerjaan prioritas dalam sektor energi bersih diperkirakan meningkat lebih dari 70 persen dari tingkat saat ini hingga 2035.

Pekerja dengan latar belakang kelistrikan, teknik, atau keterampilan teknis memiliki peluang untuk masuk ke sektor tersebut.

9. Data Scientist dan Spesialis Teknologi

Kebutuhan tenaga yang mampu mengolah dan menganalisis data juga terus berkembang seiring penggunaan AI.

Di Amerika Serikat, data scientists serta computer and information research scientists termasuk pekerjaan yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan hingga 2035.

Profesi ini memang membutuhkan kemampuan teknis yang lebih tinggi. Pengetahuan matematika, statistik, ilmu komputer, pemrograman, serta analisis data menjadi bekal penting.

Bagi mereka yang memiliki kemampuan tersebut, perkembangan AI justru membuka peluang baru di pasar kerja global.

Tak Harus S1, tetapi Keterampilan Tetap Penting

Tren kebutuhan tenaga kerja tersebut menunjukkan bahwa gelar sarjana bukan satu-satunya jalan untuk mendapatkan pekerjaan di luar negeri.

Pekerjaan konstruksi, caregiver, teknisi, dan sektor energi terbarukan dapat menjadi pilihan bagi pekerja yang memiliki keterampilan praktis.

Skills England memperkirakan sekitar 38 persen tambahan kebutuhan pada pekerjaan prioritas hingga 2035 akan diisi pekerja dengan kualifikasi tingkat 2 atau 3, yang umumnya berada di bawah jenjang pendidikan tinggi.

Meski begitu, tingginya permintaan tenaga kerja tidak otomatis membuat warga negara asing mudah mendapatkan pekerjaan.

Kemampuan bahasa, pengalaman, sertifikasi, pengakuan kualifikasi, visa kerja, serta kebijakan imigrasi tetap menjadi faktor penting.

Karena itu, calon pekerja sebaiknya tidak hanya mencari informasi mengenai profesi yang sedang banyak dibutuhkan. Persyaratan negara tujuan juga harus dipelajari sejak awal.

Bagi pencari kerja Indonesia, persiapan dapat dimulai dengan meningkatkan keterampilan, mengurus sertifikasi yang relevan, memperkuat kemampuan bahasa, serta mencari informasi melalui kanal resmi pemerintah dan perusahaan.

Dengan persiapan tersebut, peluang bekerja di luar negeri dapat dikejar bukan hanya oleh lulusan S1, tetapi juga oleh pekerja yang memiliki keterampilan dan pengalaman sesuai kebutuhan pasar global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online