Diresmikan Menkomdigi, Garuda Spark Jadi Penggerak Kedaulatan Digital

Newswire
Newswire Rabu, 26 Agustus 2026 12:57 WIB
Diresmikan Menkomdigi, Garuda Spark Jadi Penggerak Kedaulatan Digital

Garuda Spark Innovation Hub resmi diluncurkan Kemkomdigi untuk memperkuat ekosistem digital, talenta, startup, investasi, dan kedaulatan digital. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meresmikan Garuda Spark Innovation Hub (GSIH) di Biomedical Campus, BSD City, Tangerang dan serentak di 10 kota di Indonesia, Rabu (26/8/2026). Fasilitas ini disiapkan sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem digital Indonesia sekaligus mendorong kedaulatan digital.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan pengembangan ekonomi digital Indonesia selama ini belum sepenuhnya optimal karena berbagai elemen masih bergerak secara terpisah.

Elemen tersebut mencakup talenta digital, perusahaan rintisan atau startup, investor, pelaku industri, akademisi, hingga pemerintah pusat dan daerah.

"Garuda Spark ini kita lahirkan untuk membentuk satu ruang kerja bersama dari seluruh elemen tadi. Karena dalam rangka meningkatkan kekuatan kita untuk transformasi digital, keseluruhan elemen ini harus duduk bersama dalam satu ruang bersama," ujar Meutya Hafid.

Ekonomi Digital 

Meutya menyebut sekitar 235 juta penduduk atau 81% masyarakat Indonesia telah terhubung dengan internet pada 2026. Sementara itu, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$99 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$180 miliar hingga US$340 miliar pada 2030.

Pertumbuhan tersebut juga terlihat dari sektor informasi dan komunikasi yang mencatat pertumbuhan 8,35% pada 2025 dengan kontribusi sebesar 4,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski konektivitas terus diperluas, pemerintah masih menghadapi tantangan dalam memastikan pertumbuhan ekonomi digital tersebar secara merata.

Menurut Meutya, pemerintah tidak hanya ingin masyarakat di berbagai daerah mendapatkan akses internet, tetapi juga memastikan konektivitas tersebut menghasilkan aktivitas ekonomi.

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai connectivity become growth untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah juga mendorong efisiensi investasi dengan menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dari level 6 menjadi 4,8.

Karena itu, keberhasilan GSIH tidak akan hanya diukur melalui kegiatan atau seremoni, tetapi dari keluaran yang terukur, termasuk kontribusinya terhadap kedaulatan digital.

"Kita enggak bisa ketemu yang namanya kedaulatan digital kalau kita tidak memberi ruang dan pendidikan kepada talenta-talenta digital di Tanah Air," tegas Meutya.

Jangkau 15.700 Talenta

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kemkomdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan Garuda Spark dirancang untuk mencegah kesenjangan akses teknologi semakin melebar.

Menurutnya, teknologi harus menjadi jembatan yang memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan, mengembangkan talenta, mengakses modal, hingga masuk ke jaringan pasar.

"Garuda Hub sejak awal didesain untuk sharing knowledge, sharing opportunities, sharing resources, dan yang paling penting adalah sharing responsibility. Masa depan ekosistem digital Indonesia bukan tanggung jawab satu kementerian saja, tapi tanggung jawab kita bersama," kata Edwin.

Dalam 10 bulan pelaksanaannya, Garuda telah berkembang menjadi 10 hub dan 60 spoke di sejumlah daerah, termasuk Jogja, Medan, Makassar, dan Jayapura. Program tersebut telah menjangkau lebih dari 15.700 talenta digital, membina 80 startup, serta menarik investasi langsung lebih dari Rp429,5 miliar.

Kemkomdigi selanjutnya menargetkan pengembangan jaringan menjadi 20 hub dan 500 spoke dalam dua tahun ke depan. Program tersebut ditargetkan mampu mencetak 2 juta talenta digital dan 2 juta technopreneur.

Pertahankan Talenta Digital

Di Jogja ekosistem Garuda Spark ini berada di kompleks Kampus STMM MMTC. Ekosistem digital yang dibangun ini diharapkan dapat menciptakan lebih banyak kesempatan bagi talenta lokal untuk tetap berkarya dan bekerja dari Jogja.

Ketua STMM MMTC, Muhammad Agung Harimurti Purnomojati menyoroti potensi sekaligus tantangan pengembangan talenta digital di Indonesia. Dia menyebut Indonesia diproyeksikan mengalami kekurangan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030-an.

Menurut dia, Jogja selama ini dikenal sebagai salah satu gudang talenta. Namun, banyak lulusan perguruan tinggi kemudian meninggalkan daerah setelah menyelesaikan pendidikan untuk bekerja di luar daerah maupun luar negeri.

"Kita berharap bagaimana talenta-talenta digital yang dimiliki di Jogja itu tidak kemudian segera pergi setelah lulus, bisa bekerja dari sini, bisa berkontribusi di sini, dan ending-nya bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jogja," jelas Agung.

Kehadiran GSIH diharapkan memperkuat fasilitas dan kolaborasi antarpelaku ekosistem digital. Selain mempertahankan talenta lokal, jejaring tersebut diarahkan agar talenta dan pelaku usaha digital di daerah dapat terhubung dengan pasar global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online