Zulhas: Sinergi KDMP dan MBG Mulai Beri Kepastian Pasar bagi Warga

Newswire
Newswire Senin, 03 Agustus 2026 10:07 WIB
Zulhas: Sinergi KDMP dan MBG Mulai Beri Kepastian Pasar bagi Warga

Zulkifli Hasan. /Antara- Dhemas Reviyanto

Harianjogja.com, JAKARTA—Sinergi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan kepastian pasar bagi hasil budi daya masyarakat. Skema tersebut dijalankan melalui penyerapan produk oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sehingga dinilai mampu menggerakkan ekonomi desa sekaligus mendukung penyediaan pangan bergizi.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan model tersebut telah diterapkan di KDMP Kamolan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang memasok lele bersih untuk memenuhi kebutuhan protein dalam Program MBG.

Menurut Zulhas, integrasi antara koperasi, masyarakat, dan SPPG membentuk ekosistem ekonomi desa yang saling terhubung dari proses produksi hingga pemasaran hasil budi daya.

“Inilah yang kita bangun, sebuah closed-loop economy. Warga memiliki kepastian pasar, koperasi menjadi penggerak ekonomi desa, dan anak-anak memperoleh sumber protein berkualitas melalui Program MBG,” kata Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan masyarakat berperan menjalankan kegiatan produksi, koperasi mengelola usaha, sedangkan SPPG menyerap hasil budi daya secara berkelanjutan.

Model tersebut ditinjau langsung oleh Menko Pangan bersama Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Menteri Kelautan dan Perikanan, anggota DPR RI, serta Bupati Blora di unit budi daya bioflok KDMP Kamolan.

KDMP Kamolan memasok lele bersih kepada empat SPPG dengan harga Rp25.000 per kilogram (kg). Setiap SPPG rata-rata memesan sekitar 250 kg lele dalam satu kali pengambilan.

Menurut Zulhas, pola penyerapan tersebut memberikan kepastian permintaan sehingga para pembudidaya dapat merencanakan jumlah produksi sekaligus jadwal panen sesuai kebutuhan SPPG.

Unit budi daya bioflok Kamolan mulai beroperasi sejak Februari 2026. Pada siklus pertama, unit usaha tersebut menghasilkan sekitar 1,04 ton lele.

Memasuki siklus kedua, pengelola telah melakukan panen parsial sebanyak sekitar 605 kilogram.

Saat ini, 22 dari 24 kolam telah terisi dengan total penebaran sekitar 92.000 benih lele. Penebaran dilakukan secara bertahap agar waktu panen dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasokan bagi empat SPPG.

Perkuat Ekonomi Desa dan Ketahanan Pangan

Zulhas menilai keterhubungan antara produksi masyarakat, pengelolaan usaha oleh koperasi, dan penyerapan hasil oleh SPPG mampu menggerakkan aktivitas ekonomi desa sekaligus memperkuat penyediaan pangan bergizi.

"Integrasi KDMP dengan MBG menjadi bukti bahwa program pemerintah kini terhubung dari hulu hingga hilir. Produksi masyarakat terserap, ekonomi desa bergerak, dan manfaatnya kembali kepada masyarakat melalui penyediaan pangan bergizi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional," ujar Zulhas.

Menurutnya, integrasi KDMP dan MBG juga diharapkan memperkuat peran koperasi sebagai pengelola usaha produktif serta membantu masyarakat memperoleh akses pasar yang berkelanjutan.

Secara nasional, pemerintah menargetkan produksi ikan budi daya pada 2026 mencapai 7,15 juta ton. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah mengembangkan Program Budi Daya Tematik Bioflok guna meningkatkan produksi ikan, menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi desa, serta memasok kebutuhan protein bagi Program MBG.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online