Gempa Kumamoto Jepang Tewaskan 38 Orang, 9.200 Mengungsi

Newswire
Newswire Minggu, 02 Agustus 2026 18:27 WIB
Gempa Kumamoto Jepang Tewaskan 38 Orang, 9.200 Mengungsi

Foto ilustrasi seismograf pencatat getaran gempa. - Foto dibuat oleh AI StockCake

Harianjogja.com, KUMAMOTO—Korban meninggal akibat gempa bumi yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, terus bertambah. Hingga Minggu (2/8/2026), otoritas setempat mencatat 38 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 9.200 warga masih mengungsi di 210 pusat evakuasi yang telah dibuka di berbagai wilayah terdampak.

Selain menimbulkan korban jiwa, gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,1 itu juga menyebabkan kerusakan luas pada permukiman, infrastruktur, serta layanan dasar masyarakat. Pemerintah Jepang masih mengerahkan berbagai sumber daya untuk mempercepat penanganan darurat dan pemulihan pascabencana.

Ribuan Rumah Terdampak, Listrik dan Air Masih Terganggu

Data terbaru menunjukkan sebanyak 1.590 rumah tangga masih mengalami pemadaman listrik. Selain itu, 46.800 rumah tangga belum mendapatkan pasokan air bersih, sedangkan 8.700 rumah tangga masih mengalami gangguan distribusi gas.

Kerusakan bangunan juga cukup besar. Sebanyak 3.400 rumah dilaporkan mengalami kerusakan, sementara 181 rumah hancur total akibat guncangan gempa.

Gempa M 7,1 Disusul Gempa Susulan M 6,1

Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,1 terjadi pada 28 Juli di lepas pantai Kumamoto. Guncangan tersebut sempat memicu peringatan tsunami untuk Teluk Ariake dan Teluk Yatsushiro.

Sekitar satu jam kemudian, wilayah yang sama kembali diguncang gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,1.

Gempa susulan itu tercatat terjadi pada pukul 17.08 waktu setempat atau 15.08 WIB dengan pusat gempa berada pada kedalaman yang dangkal.

Kebakaran dan Bangunan Runtuh Terjadi di Sejumlah Lokasi

Dampak gempa tidak hanya dirasakan melalui guncangan kuat, tetapi juga memicu kebakaran, kerusakan jalan, serta runtuhnya sejumlah bangunan di berbagai lokasi.

Sebuah pusat perbelanjaan di dekat Kota Kumamoto dilaporkan mengalami keruntuhan sebagian setelah terkena ledakan.

Untuk mempercepat proses penanganan, lebih dari 5.000 personel Pasukan Bela Diri Jepang telah dikerahkan ke wilayah terdampak bencana.

Operasional PLTN Dipastikan Tetap Aman

Badan Meteorologi Jepang (JMA) sebelumnya mengonfirmasi gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah Kumamoto dan sempat memicu peringatan tsunami bagi kawasan terdampak.

Selain menimbulkan korban luka, gempa juga menyebabkan sejumlah kebakaran serta kerusakan pada bangunan rumah dan infrastruktur jalan.

Meski demikian, otoritas memastikan tidak terdapat gangguan maupun kerusakan terhadap operasional pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang berada di sekitar Prefektur Kumamoto.

Sebagai langkah tanggap darurat, Pemerintah Jepang langsung mendirikan pusat koordinasi dan operasional pelayanan darurat (crisis center) di Kantor Perdana Menteri untuk mengoordinasikan penanganan pascagempa.

Mengapa Jepang Sering Dilanda Gempa?

Jepang merupakan salah satu negara dengan aktivitas gempa bumi tertinggi di dunia karena berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yakni jalur vulkanik dan seismik paling aktif di dunia.

Secara geologis, Jepang berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Laut Filipina, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Amerika Utara. Pergerakan serta tumbukan antarlempeng tersebut menyebabkan akumulasi energi yang sewaktu-waktu dilepaskan dalam bentuk gempa bumi, termasuk gempa megathrust.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online