Arab Saudi Mulai Khawatirkan Rencana Serangan AS ke Iran

Newswire
Newswire Minggu, 02 Agustus 2026 13:47 WIB
Arab Saudi Mulai Khawatirkan Rencana Serangan AS ke Iran

Ilustrasi perang, dibuat menggunakan AI/magnific

Harianjogja.com, ISTANBUL— Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyampaikan kekhawatiran kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait laporan mengenai rencana serangan besar-besaran baru Amerika Serikat terhadap Iran. Pembicaraan melalui telepon itu berlangsung ketika Washington dilaporkan tengah mempersiapkan operasi militer berskala besar terhadap Iran.

Menurut laporan Axios pada Sabtu, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan pihak Arab Saudi meminta penjelasan mengenai langkah yang akan ditempuh Washington.

"Pihak Saudi menyampaikan kekhawatiran mereka dan meminta penjelasan mengenai rencana tindakan yang akan diambil," kata seorang pejabat Amerika Serikat kepada Axios.

Sumber lain yang mengetahui isi pembicaraan tersebut mengatakan Mohammed bin Salman juga mendesak Donald Trump untuk meredakan ketegangan serta membatalkan rencana serangan terhadap Iran.

Peringatan itu disampaikan sehari setelah Trump mengancam akan melancarkan serangan yang disebutnya sangat keras terhadap Iran.

Situasi tersebut berkembang ketika sejumlah kedutaan besar Amerika Serikat di Timur Tengah mengeluarkan peringatan keamanan kepada warga negara Amerika Serikat terkait kemungkinan meningkatnya eskalasi situasi.

Menurut Axios, Gedung Putih dan Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington menolak memberikan komentar mengenai pembicaraan tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menghubungi para mitranya dari Turki, Pakistan, dan Arab Saudi.

Dalam pembicaraan itu, Araghchi menegaskan setiap tindakan agresi dari Amerika Serikat maupun Israel akan dibalas dengan tindakan yang "tegas dan proporsional" oleh Iran.

Ketegangan kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran. Pada Sabtu, media Israel juga melaporkan aparat pertahanan negara tersebut tengah bersiap menghadapi kemungkinan serangan besar-besaran Amerika Serikat terhadap Iran.

Sebelumnya, kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, melaporkan pada Sabtu mengenai sejumlah fasilitas energi di negara-negara Teluk dan Israel yang berpotensi menjadi sasaran apabila Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Laporan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurut Fars, Washington menyadari berbagai infrastruktur energi utama di kawasan Teluk dan Israel berada dalam jangkauan rudal presisi Iran apabila konflik semakin meluas.

Fasilitas yang disebutkan meliputi ladang minyak Ghawar serta fasilitas pengolahan minyak Abqaiq dan Khurais di Arab Saudi, kilang minyak Ruwais dan ladang minyak lepas pantai Zakum di Uni Emirat Arab, serta cadangan gas North Field dan terminal ekspor gas alam cair Ras Laffan di Qatar.

Fars juga menyebut ladang minyak Burgan di Kuwait, kilang minyak Sitra dan fasilitas Ma'ameer di Bahrain, serta ladang gas Leviathan dan Tamar di Israel.

Menurut kantor berita tersebut, serangan terhadap fasilitas-fasilitas itu akan berdampak besar terhadap pasar energi dunia karena sebagian di antaranya memegang peranan penting dalam pasokan minyak mentah dan gas alam cair global.

Fars juga menyinggung konflik yang berlangsung selama 40 hari antara Iran dan Israel. Dalam periode tersebut, Iran disebut menyerang fasilitas pemrosesan gas terbesar di dunia di Qatar setelah ladang gas South Pars menjadi sasaran serangan.

Laporan tersebut muncul di tengah spekulasi mengenai kemungkinan pembalasan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan apabila Washington kembali menyerang negara itu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online