Tragis, Ini Kronologi Tewasnya 2 Calon Manajer KDMP Dilatih Militer

Newswire
Newswire Rabu, 24 Juni 2026 20:27 WIB
Tragis, Ini Kronologi Tewasnya 2 Calon Manajer KDMP Dilatih Militer

Calon Manajer KDMP saat menjalani pelatihan militer. /Antara.

Harianjogja.com, JAKARTA—Kronologi meninggalnya dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Kedua peserta yang dipersiapkan menjadi manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih itu meninggal dunia di lokasi pendidikan yang berbeda dengan penyebab medis yang tidak sama.

Kabar meninggalnya Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq sempat menjadi perhatian publik di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Kemenhan memastikan kedua peserta telah menjalani proses seleksi kesehatan sebelum mengikuti rangkaian pelatihan yang digelar bersama TNI.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemenhan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa kedua peserta meninggal dunia setelah mengalami kondisi kesehatan darurat saat menjalani pendidikan dasar kemiliteran.

Kronologi Meninggalnya Yonanda Muhammad Taufiq

Yonanda Muhammad Taufiq tercatat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja, Sumatra Selatan.

Pada Senin, 15 Juni 2026, Yonanda mulai mengeluhkan kondisi fisik yang menurun saat menjalani program pelatihan. Keluhan tersebut kemudian mendapat perhatian dari tim kesehatan yang bertugas di lokasi pendidikan.

Dua hari kemudian, tepatnya Rabu, 17 Juni 2026, kondisi kesehatannya dilaporkan terus memburuk. Tim medis kemudian merujuk Yonanda ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Meski telah memperoleh perawatan intensif, nyawa peserta SPPI tersebut tidak dapat diselamatkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Yonanda dinyatakan meninggal dunia akibat mengalami cardiac arrest atau henti jantung mendadak.

Kronologi Meninggalnya Anisa Muyassaroh

Kasus berikutnya terjadi pada Anisa Muyassaroh yang menjalani Latsarmil di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pada Kamis, 18 Juni 2026, Anisa mengalami gangguan kesehatan serius saat mengikuti kegiatan pelatihan. Kondisi tersebut membuat tim medis di lokasi segera memberikan pertolongan pertama.

Setelah mendapatkan penanganan awal di fasilitas kesehatan militer, Anisa kemudian dirujuk ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya terus menurun dan membutuhkan perawatan lebih intensif.

Berdasarkan diagnosis medis, Anisa meninggal dunia akibat mengalami heat stroke atau sengatan panas. Kondisi tersebut terjadi ketika suhu tubuh meningkat secara ekstrem hingga berpotensi mengganggu fungsi organ vital tubuh.

Kemenhan Sebut Peserta Telah Lolos Pemeriksaan Kesehatan

Menanggapi berbagai pertanyaan yang muncul di masyarakat, Rico menegaskan seluruh peserta SPPI, termasuk Anisa dan Yonanda, telah melalui tahapan pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pendidikan dasar kemiliteran.

"Kami memastikan bahwa semua materi pelatihan fisik yang diberikan oleh instruktur TNI pada dasarnya dirancang aman dan terukur untuk diadopsi oleh warga sipil," ujar Rico dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya, Kemenhan bersama TNI juga berkomitmen memberikan pendampingan kepada keluarga kedua peserta yang meninggal dunia. Selain itu, proses pemenuhan hak-hak peserta dan penanganan jenazah disebut dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Evaluasi Menyeluruh Pelaksanaan Latsarmil

Insiden meninggalnya dua peserta SPPI tersebut mendorong Kemenhan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Latsarmil. Evaluasi dilakukan bersama Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) guna memastikan aspek keselamatan peserta dapat lebih ditingkatkan pada pelaksanaan berikutnya.

Rico mengatakan Kemenhan terbuka terhadap berbagai masukan dari masyarakat sebagai bahan perbaikan program. Sejumlah aspek yang akan dievaluasi meliputi sistem skrining kesehatan peserta, penguatan pengawasan medis selama pelatihan, mekanisme penanganan peserta yang menunjukkan gejala gangguan kesehatan, hingga prosedur pelaporan keadaan darurat.

Langkah evaluasi tersebut dilakukan seiring pelaksanaan program pengaderan calon pengelola Koperasi Merah Putih yang masih menjadi salah satu agenda strategis pemerintah. Perbaikan sistem keselamatan dan pengawasan kesehatan peserta menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan program pada masa mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online