Meutya Hafid Bantah Komdigi Terkait Isu IG-FB Down saat Demo

Delfi Rismayeti
Delfi Rismayeti Minggu, 14 Juni 2026 06:57 WIB
Meutya Hafid Bantah Komdigi Terkait Isu IG-FB Down saat Demo

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. /Instagram-Meutya Hafid.

Harianjogja.com, JAKARTA— Isu Komdigi penyebab Instagram, Facebook, hingga WhatsApp down saat aksi demo mahasiswa di Jakarta pada Jumat (12/6/2026) dibantah langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) RI Meutya Hafid. Ia menegaskan bahwa narasi tersebut tidak benar dan tidak sesuai dengan fakta gangguan layanan yang terjadi secara global.

Meutya menjelaskan, gangguan interaksi pengguna di Instagram pada hari tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dilaporkan di berbagai negara lain, termasuk Amerika Serikat dan sejumlah wilayah di Eropa. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan tersebut bersifat internasional, bukan akibat intervensi dari pihak tertentu di dalam negeri.

Menanggapi tudingan yang menyebut Kementerian Komdigi memiliki kewenangan untuk mematikan akses media sosial selama aksi demonstrasi mahasiswa, Meutya dengan tegas membantah hal tersebut. Ia menilai anggapan itu tidak logis karena kewenangan pemerintah Indonesia tidak mencakup pengaturan layanan lintas negara.

“Komdigi tidak se-powerful itu sampai bisa mengatur agar Instagram shutdown di beberapa negara. Karena memang kemarin Instagram itu down di banyak negara, termasuk di Amerika Serikat dan Eropa,” kata Meutya di sela agenda Kumpul Komunitas yang digelar Komdigi di Medan bertajuk ‘Waspada Kejahatan Digital’ pada Sabtu (13/6/2026).

Isu tersebut sebelumnya beredar di media sosial dan mengaitkan gangguan platform dengan aksi demonstrasi mahasiswa yang membahas sejumlah isu, seperti dugaan korupsi MBG, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, hingga kenaikan harga BBM Pertamax. Narasi itu dinilai Meutya sengaja dipelintir untuk memicu kegaduhan publik.

Dalam pernyataannya, Meutya menyebut terdapat pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan situasi gangguan layanan global tersebut untuk membangun narasi provokatif yang berpotensi memecah belah masyarakat. Ia menilai penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dapat dengan mudah dipercaya publik karena rendahnya budaya literasi digital.

Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang lebih cepat menerima informasi sensasional tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Menurutnya, hal ini diperparah oleh karakter konsumsi media sosial yang lebih menyukai konten kontroversial dan viral dibandingkan informasi berbasis data.

Sejalan dengan itu, Meutya menyinggung peran algoritma media sosial seperti Instagram yang cenderung menampilkan konten sesuai minat dan riwayat interaksi pengguna. Kondisi ini, jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang kuat, dinilai dapat membentuk ruang informasi yang sempit bagi generasi muda.

“Jadi, tidak betul kemarin itu Instagram ditutup. Karena itu terjadi di hampir seluruh negara di dunia. Ada orang yang memang sengaja mengangkat isu itu berharap dapat membohongi yang lain. Jangan mau dibohongi, teman-teman,” tandasnya.

Sebelumnya, Meutya juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi di media sosial di tengah situasi demonstrasi, serta menyoroti ancaman “ilusi algoritma” yang dapat memengaruhi persepsi publik.

Di sisi lain, Komdigi juga memperkuat pengawasan ruang digital, termasuk pemantauan terhadap narkotika yang disamarkan dalam bentuk vape, sebagai bagian dari agenda penguatan ekosistem digital Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis