Gempa M 7,1 Guncang Kumamoto, Korban Tewas Naik Jadi 13 Orang

Jumali
Jumali Rabu, 29 Juli 2026 10:37 WIB
Gempa M 7,1 Guncang Kumamoto, Korban Tewas Naik Jadi 13 Orang

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, JOGJA—Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang selatan, terus bertambah. Hingga Rabu (29/7/2026), sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas, sementara proses pencarian korban masih berlangsung di sejumlah titik yang mengalami kerusakan paling parah.

Pemerintah Jepang mengerahkan berbagai sumber daya untuk mempercepat operasi penyelamatan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa setiap menit sangat berharga karena masih ada warga yang diyakini terjebak di bawah puing-puing bangunan.

"Hingga saat ini masih ada orang-orang yang menunggu untuk diselamatkan dan ini adalah perlombaan melawan waktu. Kami akan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang," ujar Takaichi dikutip dari Reuters.

Kenaikan jumlah korban jiwa cukup signifikan dibanding laporan awal yang hanya menyebut tiga orang meninggal dunia. Selain korban tewas, puluhan orang lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Salah satu lokasi yang menjadi fokus pencarian adalah sebuah pusat perbelanjaan besar yang mengalami keruntuhan sebagian akibat gempa. Pada Rabu dini hari, tim penyelamat berhasil mengevakuasi delapan orang dari bangunan tersebut.

Tragedi di lokasi itu semakin parah setelah terjadi ledakan sekitar satu jam setelah gempa mengguncang wilayah tersebut. Dua perempuan berusia sekitar 20 tahun dilaporkan meninggal dunia akibat insiden tersebut. Otoritas setempat masih menyelidiki penyebab ledakan, meskipun dugaan awal mengarah pada kebocoran gas.

Laporan media setempat menyebut sekitar 20 hingga 30 pekerja pusat perbelanjaan sempat belum diketahui keberadaannya setelah gempa terjadi. Tim gabungan dari kepolisian, pemadam kebakaran, dan militer terus melakukan pencarian terhadap korban yang kemungkinan masih terjebak.

Di lokasi lain, tujuh orang juga dilaporkan hilang setelah cerobong asap di fasilitas milik Nippon Paper Industries runtuh. Empat korban lainnya mengalami luka serius.

Dampak gempa tidak hanya dirasakan pada sektor keselamatan warga, tetapi juga mengganggu layanan publik dan aktivitas ekonomi. Sekitar 36.000 rumah masih mengalami pemadaman listrik hingga Rabu pagi. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru karena suhu udara diperkirakan mencapai 34 derajat Celsius yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi warga terdampak.

Sekitar 260.000 penduduk di berbagai wilayah Kumamoto telah diminta mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Pemerintah Jepang juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan selama beberapa hari ke depan, termasuk ancaman tanah longsor di daerah perbukitan.

Fasilitas kesehatan di kawasan terdampak turut menghadapi tekanan berat. Salah satu rumah sakit di Kota Uki melaporkan operasional terganggu akibat pemadaman listrik.

"Kondisinya kini seperti rumah sakit lapangan," kata perwakilan rumah sakit kepada media penyiaran publik NHK.

Rumah sakit lain di kota yang sama bahkan menghentikan sementara penerimaan pasien baru setelah menangani puluhan korban gempa, termasuk beberapa pasien dengan kondisi luka berat.

Kerusakan paling mencolok terjadi di pusat perbelanjaan AEON yang merupakan salah satu mal terbesar di Prefektur Kumamoto. Sebagian bangunan runtuh dan ledakan menyebabkan kerusakan besar pada struktur gedung. Puing-puing berserakan di area parkir, sementara rangka baja bangunan terlihat dari luar akibat hancurnya salah satu sisi gedung.

Bencana ini juga berdampak pada aktivitas industri. Sejumlah perusahaan besar seperti Honda dan Tokyo Electron menghentikan sementara operasional pabrik mereka. Produsen semikonduktor TSMC juga sempat mengevakuasi pekerja sebelum secara bertahap melanjutkan kegiatan produksi.

Jalan raya di sejumlah wilayah mengalami kerusakan serius berupa retakan besar yang menghambat mobilitas dan distribusi bantuan.

Jepang memang dikenal sebagai salah satu negara paling rawan gempa di dunia karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Wilayah ini menjadi lokasi sekitar 20 persen gempa bumi berkekuatan magnitudo 6 atau lebih yang terjadi secara global.

Peristiwa kali ini kembali mengingatkan masyarakat Jepang pada gempa besar Kumamoto satu dekade lalu yang menewaskan 275 orang, melukai ribuan warga, serta merusak berbagai bangunan bersejarah termasuk Kastel Kumamoto yang menjadi ikon wisata daerah tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online