Ramadhipa Kejar Gelar Moto3 Junior, Siap Tempur di Valencia
Kiandra Ramadhipa membidik gelar juara Moto3 Junior Valencia setelah mengoleksi 64 poin dan berada di posisi kelima klasemen.
Presiden Ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/foc/aa.
Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyoroti pentingnya kepemimpinan yang kuat dan mampu menjaga kepercayaan publik di tengah situasi global yang semakin tidak menentu.
Dalam forum The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, Kamis (4/6/2026), SBY menilai dunia saat ini tengah menghadapi fase penuh ketidakpastian. Kondisi tersebut ditandai oleh meningkatnya rivalitas geopolitik, konflik di berbagai kawasan, hingga perubahan besar dalam rantai pasok global.
Menurutnya, dalam situasi seperti ini, peran pemimpin menjadi sangat krusial. Tidak hanya untuk merespons krisis, tetapi juga menciptakan peluang baru di tengah disrupsi yang terjadi.
“Kepemimpinan yang kuat adalah tentang menjaga kepercayaan publik dan tetap mampu menghadirkan harapan,” ujarnya.
SBY berbicara berdasarkan pengalamannya memimpin Indonesia dalam berbagai periode krisis, mulai dari dampak krisis Asia 1997-1998, bencana tsunami Aceh 2004, hingga krisis keuangan global 2008.
Dari pengalaman tersebut, ia menekankan bahwa ketenangan menjadi fondasi utama dalam kepemimpinan. Pemimpin yang panik, menurutnya, justru dapat memperburuk situasi karena ketakutan mudah menyebar dan melemahkan institusi.
Ia menambahkan, seorang pemimpin harus tetap jujur, memiliki arah kebijakan yang jelas, serta mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Selain itu, SBY menekankan pentingnya keseimbangan antara pragmatisme dan prinsip. Dalam dunia yang kompleks, kebijakan harus adaptif dan realistis, tetapi tetap berpegang pada nilai dasar yang menjadi pijakan bangsa.
“Tidak cukup hanya fleksibel, tetapi juga harus konsisten pada prinsip,” katanya.
SBY juga menyoroti pentingnya visi jangka panjang dalam pembangunan. Ia menilai berbagai agenda strategis seperti penguatan sumber daya manusia, reformasi kelembagaan, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta inovasi tidak bisa dicapai secara instan.
Karena itu, pemimpin harus memiliki pandangan jauh ke depan dan tidak hanya berfokus pada hasil jangka pendek.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa pembangunan harus bersifat inklusif. Ketimpangan yang terlalu besar, menurutnya, berpotensi menimbulkan instabilitas sosial dan ekonomi.
“Pertumbuhan harus dirasakan secara merata, bukan hanya oleh segelintir kelompok,” tegasnya.
Meski tantangan global semakin kompleks, SBY tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia dan kawasan ASEAN. Ia menilai kawasan ini memiliki modal besar, mulai dari populasi muda, kewirausahaan yang berkembang, hingga ekosistem digital yang terus tumbuh.
Menurutnya, kekuatan tersebut tidak hanya berada di pusat ekonomi besar, tetapi juga tersebar di desa-desa, komunitas lokal, dan pelaku usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi.
Dengan modal tersebut, SBY meyakini Indonesia dan ASEAN mampu menghadapi berbagai tantangan global di masa depan, selama kepemimpinan tetap mampu menjaga kepercayaan publik dan arah pembangunan yang jelas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kiandra Ramadhipa membidik gelar juara Moto3 Junior Valencia setelah mengoleksi 64 poin dan berada di posisi kelima klasemen.
Jadwal KA Bandara YIA Sabtu 5 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA serta waktu tempuhnya.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu 5 September 2026 tersedia 5 perjalanan PP. Cek jam keberangkatan dan informasi lengkapnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 5 September 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal lengkap hingga tiba di Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 5 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun, tarif Rp8.000, dan cara pembayarannya.
OJK DIY menyebut judi online bisa mendorong masyarakat menggunakan pinjol. Outstanding P2P lending DIY capai Rp1,41 triliun.