Bus KSPN Jogja: Jadwal dan Tarif ke Pantai Selatan 2026
Jadwal Bus KSPN Jogja 2026, tarif mulai Rp12.000 ke Parangtritis, Drini, Obelix Sea View dari Malioboro. Hemat dan praktis.
Peluncuran koleksi terbaru Dagadu bertajuk 'Crafted with Stories – Merangkai Jejak Menjahit Makna' di Beteng Vredeburg, Jogja, Jumat (25/4/2025) malam.
Harianjogja.com, JOGJA–Dagadu, brand fashion asli Jogja akhirnya melakukan tranformasi bisnis untuk menjawab persaingan pasar fasyen. Selain menata managemen, Dagadu juga membuat pakaian yang dibutuhkan generasi kekinian.
Dagadu yang dalam bahasa walikan khas Jogja berarti Matamu, menyadari bahwa persaingan pasar tak lagi sama sejak didirikan pada tahun 1994. Sejak dulu, Dagadu terkenal dengan kalimat nyeleneh, unik dan mengundang senyum. Dengan logo matanya, Dagadu saat itu mencuri perhatian dan menjadi andalan oleh-oleh wisatawan yang datang ke Jogja.
CEO Dagadu Mia Argianti mengatakan bagi orang zaman dulu, Dagadu dengan mudah dikenali. Namun bagi generasi Z dan alpha, nama Dagadu tak lagi dikenal. Fakta tersebut diperoleh dari hasil riset yang dilakukan tim internal kepada kalangan mahasiswa di Jogja.
"Ya, mereka hanya sebatas tahu bahwa Dagadu merek fashion. Riset ini membuka mata kami untuk berevolusi, berubah. Anak muda belum banyak yang tahu tentang Dagadu," kata Mia di sela peluncuran koleksi terbaru Dagadu bertajuk 'Crafted with Stories – Merangkai Jejak Menjahit Makna' di Beteng Vredeburg, Jogja, Jumat (25/4/2025) malam.
Sejak didirikan 31 tahun silam, lanjut Mia, DAGADU telah menjadi simbol kreativitas dan kebanggaan lokal. Meski membidik anak muda kekinian yang terkenal lantang dan kritis, kata Mia, Dagadu tidak akan meninggalkan ciri khasnya dan menjadi peluang sekaligus tantangan untuk mengembangkan pasar dengan inovasi yang disukai tiap generasi.
Transformasi yang dilakukan Dagadu, sambung Mia, menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan di tengah arus tren global. Dia percaya, nilai lokal yang jadi identitas khas Dagadu tidak akan ketinggalan zaman. Justru, ketika dibalut dengan pendekatan desain yang lebih modern dan kontekstual, budaya bisa tampil lebih berani dan menyentuh audiens yang lebih luas.
BACA JUGA: DYN Clothingline Wujudkan Semangat Kartini Melalui Pemberdayaan Perempuan di Dunia Kerja
Mia ingin menjadikan Dagadu bukan sekadar oleh-oleh, tetapi menjadi fashion statement yang membanggakan Jogja. "Dengan desain yang lebih fleksibel, Dagadu ingin memperluas jangkauan pasar dan menghadirkan koleksi yang dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, dari kasual hingga semi-formal, tanpa kehilangan esensi budayanya," katanya.
Koleksi Baru Dagadu
Peluncuran koleksi baru Dagadu seperti Special Collection (Berkembang, KPR, Serakah Punah, Plastic Toxic, Hamemayu), Jogja Series (Kasongan, Nasi Tery, Ramah Marah) dan Teen Series (Home dan Tamagotchi) dilengkapi penampilan Fashion Trunk yang unik dengan diiringi makna hidup generasi muda sekarang.
Seperti narasi KPR menceritakan tentang “Beli rumah makin kesini makin jadi mimpi indah yang berat buat diwujudin! Di sisi lain, kita juga sedih lihat hutan ditebang habis-habisan demi lahan. Alam rusak, satwa kehilangan habitatnya. Kita susah punya rumah, mereka kehilangan rumah.”
Transformasi ini tidak hanya berbicara soal visual atau desain. Ini tentang misi yang lebih besar yaitu menciptakan dampak sosial dan membuka ruang kolaborasi kreatif, khususnya bagi generasi muda di Jogja. Sebagai bagian dari industri kreatif, Dagadu berkomitmen menjadi wadah yang memberdayakan—menginspirasi talenta lokal untuk berkarya dan membawa warna budaya Indonesia ke panggung yang lebih besar.
Kolaborasi dengan Shaggydog
Melalui kerja sama dengan InJourney, Dagadu juga akan hadir di sejumlah daerah dengan konsep gerai pop up di sejumlah bandara di Bali, Medan, Surabaya, dan Makassar. Sebagai bagian dari peluncuran ini, Dagadu kembali menggandeng Shaggydog. Grup musik asal Sayidan ini sebelumnya telah berkolaborasi dengan Dagadu dan menghasilkan 11 desain eksklusif budaya urban khas Jogja.
“Kolaborasi Dagadu dan Shaggydog selalu membawa semangat kreatif dan kearifan lokal. Dagadu dan Shaggydog sama-sama tumbuh di Jogja dan memiliki akar budaya yang kuat. Dengan berkolaborasi, kami ingin menunjukkan bahwa musik dan fashion bisa menjadi media ekspresi yang terus berkembang, tetap relevan, dan dekat dengan masyarakat,” kata Heru Wahyono, vokalis Shaggydog.
Wali Kota Joga Hasto Wardoyo mengatakan Dagadu sebagai penanda karya istimewa di Kota Jogja, bukan sekadar merek fashion, tetapi juga simbol kreativitas dan identitas Jogja. "Sebagai bagian dari industri kreatif lokal, Dagadu telah membuka banyak peluang bagi generasi muda untuk berkarya dan berkontribusi dalam perkembangan ekonomi kreatif. Kami berharap Dagadu dapat terus berkembang dan membawa nama Jogja ke tingkat nasional maupun global,” ujar Hasto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal Bus KSPN Jogja 2026, tarif mulai Rp12.000 ke Parangtritis, Drini, Obelix Sea View dari Malioboro. Hemat dan praktis.
Serangan Israel ke Lebanon kembali meningkat. Puluhan wilayah dihantam, korban tewas bertambah. Simak perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.
Kesbangpol DIY menyelenggarakan pendidikan politik perempuan di Wates, Kabupaten Kulonprogo, Rabu (13/5/2026). Pendidikan ini ditujukan untuk mendorong kaum Haw
Prabowo ungkap Rp49 triliun uang tak terurus di bank akan masuk negara. Dana diduga terkait koruptor dan siap dimanfaatkan untuk rakyat.
Komet C/2025 R3 PANSTARRS muncul di 2026 dan tak kembali selama 170.000 tahun. Fenomena langka yang simpan sejarah Tata Surya.
Derbi PSIM vs PSS kembali di Liga 1 2026. Wali Kota Jogja ingatkan suporter jaga kondusivitas dan hindari bentrokan.