Nadeo Targetkan Indonesia Akhiri Penantian 30 Tahun Juara ASEAN Cup
Nadeo Argawinata menegaskan Timnas Indonesia menargetkan gelar juara ASEAN Hyundai Cup 2026 untuk mengakhiri penantian 30 tahun.
Massa yang tergabung dalam Aliansi Simpul Puan membawa foto Marsinah dalam aksi saat peringatan Hari Perempuan Internasional 2024 di Bandung, Jawa Barat, Jumat (8/3/2024). ANTARA FOTO/Novrian Arbi/nym. (ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)
Harianjogja.com, JAKARTA—Hari Perempuan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Peringatan Women's Day ini memiliki sejarah panjang yang berakar pada perjuangan hak-hak perempuan, terutama dalam hal kesetaraan, keadilan, dan hak pekerja.
Perayaan ini bukan sekadar simbolis, tetapi juga merupakan hasil dari berbagai gerakan sosial yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad.
Sejarah hari perempuan sedunia ini dimulai pada awal abad ke-20, saat kelompok perempuan di berbagai negara mulai menuntut kondisi kerja yang lebih baik, hak memilih dalam pemilu, serta perlakuan yang lebih adil di lingkungan sosial dan ekonomi.
BACA JUGA: Baru 2 Bulan, Ada 29 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Gunungkidul
Gerakan ini semakin berkembang hingga akhirnya diakui secara global sebagai Hari Perempuan Sedunia.
Gelombang I (Tahun 1830-1900an): Gerakan awal
1909 - Amerika Serikat merayakan Hari Perempuan Nasional pertama kali pada 28 Februari sebagai respons terhadap protes ribuan buruh perempuan yang menuntut kondisi kerja lebih layak setelah kejadian pada tahun 1908.
1910 - Organisasi sosialis internasional mengadakan konferensi di Kopenhagen, Denmark, untuk menetapkan Hari Perempuan. Usulan ini disepakati oleh lebih dari 100 perempuan dari 17 negara.
1911 - Sejumlah besar perempuan dan laki-laki di Eropa mengadakan demonstrasi besar-besaran menuntut hak pilih serta mengakhiri diskriminasi gender di tempat kerja.
1913-1914 - Hari Perempuan Internasional mulai diperingati di berbagai negara, khususnya oleh aktivis perempuan di tengah Perang Dunia I.
1928 - Perempuan Indonesia mulai ikut memperjuangkan hak-hak mereka dalam Kongres Perempuan Indonesia yang digelar pada 22-25 Desember.
BACA JUGA: Angkat Isu Kesehatan Mental Perempuan, TP PKK DIY Gelar Festival Mbok Mlayu 2025
Gelombang II (Tahun 1960-1980an): Pengakuan global
1960 - Munculnya gerakan hak-hak sipil di berbagai belahan dunia, termasuk tuntutan kesetaraan perempuan di Amerika-Afrika, Meksiko, dan Asia-Amerika.
1964-1973 - Gerakan feminisme semakin kuat di Amerika Serikat dan Eropa, bersamaan dengan protes besar terhadap perang di Vietnam.
1975 - Untuk pertama kalinya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai perayaan resmi di berbagai negara.
Seiring berjalannya waktu, Hari Perempuan Sedunia bukan hanya menjadi momen peringatan, tetapi juga momentum refleksi dan aksi nyata untuk memperjuangkan kesetaraan gender.
Setiap tahun, berbagai organisasi, pemerintah, dan aktivis di seluruh dunia menyelenggarakan kampanye, diskusi, serta program-program yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan hak-hak perempuan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Nadeo Argawinata menegaskan Timnas Indonesia menargetkan gelar juara ASEAN Hyundai Cup 2026 untuk mengakhiri penantian 30 tahun.
Bea Cukai Kudus menerapkan ultimum remidium terhadap tujuh kasus rokok ilegal dengan total denda Rp582,71 juta sepanjang semester I/2026.
PDIP memperingati 30 tahun Kudatuli dengan aksi teatrikal, ritual adat, dan pembacaan puisi di Gedung DPP PDIP di Jakarta.
Sebanyak 11 SPPG di Sleman menghentikan operasional sementara akibat kendala renovasi, IPAL, dan administrasi.
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp5 miliar untuk memperbaiki tiga ruas jalan pada 2026. Dua proyek sudah memasuki tahap kontrak.
Sebanyak 80 siswa SD di sekitar Bandara YIA diajak mengenal dunia penerbangan dan aktivitas kebandarudaraan melalui program TJSL.