Peringatan Bisa Muncul di TV dan Ponsel, Indonesia Bakal Punya EWS Canggih Seperti di Jepang

Rika Anggraeni
Rika Anggraeni Jum'at, 30 Agustus 2024 19:47 WIB
Peringatan Bisa Muncul di TV dan Ponsel, Indonesia Bakal Punya EWS Canggih Seperti di Jepang

Ilustrasi megathrust Indonesia./Bisnis.com

Harianjogja.com, JAKARTA—Dalam waktu dekat, Indonesia bakal memiliki sistem peringatan dini (early warning system/EWS) bencana alam yang notifikasinya bakal muncul di siaran televisi dan ponsel. Sistem canggih ini merupakan bantuan dari Pemerintah Jepang.

Direktur Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika (PPI) Kemenkominfo, Wayan Toni Supriyanto, mengatakan alat sistem peringatan dini bencana alam dari Negeri Sakura itu akan diluncurkan di Bali pada September 2024, tetapi masih sebatas uji coba.

“Kami mendapatkan bantuan aplikasi dari pemerintah Jepang, Indonesia mirip kondisi konturnya dengan pemerintah Jepang, banyak bencana juga, bencana gempa. Sehingga kami diberikan aplikasi yang bisa digunakan untuk di Indonesia,” kata Wayan dalam acara Ngopi Bareng di Gedung Kemenkominfo, Jakarta, Jumat (30/8/2024).

Nantinya, sistem peringatan bencana itu akan terhubung dengan informasi yang dimiliki Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hal ini mengingat BMKG merupakan lembaga yang memiliki informasi akan sumber bencana seperti ancaman gempa megathrust, termasuk potensi tsunami.

Wayan menjelaskan sinyal peringatan bencana dari BMKG akan dikirim melalui televisi, sejalan dengan langkah pemerintah yang mematikan siaran analog (analog switch off/ASO).

Di samping itu, masyarakat juga akan menerima peringatan bencana melalui handphone yang terhubung jaringan 2G dan 3G. “Kemenkominfo memberikan alert kepada setup box penyiaran yang stand by, dia langsung menjadi alarm dan alarm handphone. Langsung dia memberikan [sinyal] ada bencana. Nah ini akan sedang dikaji oleh Direktorat pita lebar,” ujarnya.

Adapun, mekanismenya nanti, pesan peringatan bencana akan muncul dengan layar televisi berwarna hitam dan berbunyi dengungan. Pesan itu menandakan adanya bencana sedang terjadi di Indonesia.

“Jadi, nanti kalau yang melalui broadcast, dia langsung bentuknya alert. Sementara nanti akan ada alert, kalau posisi televisi [layar menjadi] agak hitam, dia akan informasi tenggg [berdengung], bencana gempa,” jelasnya.

Wayan menyampaikan bahwa langkah ini dilakukan agar masing-masing pemerintah daerah membangun budaya sensitif akan sinyal peringatan dini bencana alam. Sehingga, pemerintah bisa menyelematkan lebih banyak orang saat sistem itu berbunyi.

“Kalau gempa bumi itu hitungannya detik, maka ini real time, sumber informasi secara sistem dibuat, kemudian secara real time memberikan alat kepada TV digital dan ponsel. Ponsel nanti ada alert juga,” ucap dia.

Lebih lanjut, Wayan menambahkan bahwa layanan kebencanaan ini bersifat non-komersial, sehingga Kemenkominfo harus turun. “Mudah-mudahan dalam 1–2 tahun ke depan layanan ini sudah bisa dilaksanakan.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online