Peneliti Temukan Resep Membuat Es Krim Anti Meleleh
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Di Selat Bering, terletak Pulau Diomede Besar dan Pulau Diomede Kecil, yang berjarak 4 km tapi punya beda waktu 21 jam. / X.com/@TheBigDataStats
Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah hamparan luas Selat Bering yang memisahkan Benua Asia dan Amerika, terdapat fenomena geografis luar biasa yang melampaui batas dan menentang perjalanan waktu tradisional.
Di selat itu, terletak Kepulauan Diomede—duo yang terdiri dari Pulau Diomede Besar dan Pulau Diomede Kecil—di mana seseorang tidak hanya dapat melintasi daratan, tetapi juga melintasi hari-hari, menciptakan pengalaman yang mirip dengan perjalanan waktu.
Terletak di tengah Selat Bering, Pulau Diomede Besar berada dalam wilayah Rusia, sehingga mendapat julukan "Pulau Besok", 21 jam lebih cepat dari Pulau Diomede Kecil. Sementara itu, Pulau Diomede Kecil, berada di dalam yurisdiksi Amerika dan diberi nama "Pulau Kemarin".
Dilansir dari ABPLive, menurut situs resmi observatorium bumi NASA, asal usul nama-nama menarik ini berasal dari Garis Penanggalan Internasional yang melintasi Selat Bering, memberikan pulau-pulau tersebut perbedaan karena berada dalam hari kalender yang berbeda meskipun letak geografisnya dekat.
BACA JUGA: Jangan Coba-coba Bawa Pulang Kerang dari Pantai Ini Jika Tidak Ingin Didenda Miliaran Rupiah
Keanehan geografis ini menghasilkan kekhasan yang mempesona, yaitu pengalaman melompat dari satu hari ke hari berikutnya hanya dengan melintasi celah antar pulau. Penyesuaian zona waktu secara bertahap menghadirkan sensasi perjalanan ke masa depan saat seseorang menginjakkan kaki di Pulau Diomede Besar. Fenomena ini, sebuah persimpangan menawan antara waktu, ruang, dan nuansa fisika, menawarkan eksplorasi mendalam terhadap dunia temporalitas, menurut NASA.
Meskipun Kepulauan Diomede Besar dan Diomede Kecil hanya dipisahkan sejauh tiga mil (kira-kira 4,8 km), keduanya berada dalam domain temporal yang berbeda. Pembagian waktu ini disebabkan oleh adanya Garis Penanggalan Internasional yang memotong Samudera Pasifik, sehingga membagi waktu itu sendiri menjadi dua. Hasilnya adalah jarak satu hari antar pulau, yang merangkum esensi perjalanan waktu dalam jarak beberapa mil dari hamparan lautan.
Untuk memfasilitasi pergerakan antar pulau, sebuah jembatan dibangun selama bulan-bulan musim dingin ketika es menyelimuti wilayah tersebut. Jalur pejalan kaki ini memberikan kesempatan bagi penduduk dan pengunjung untuk melintasi antar pulau. Sebuah proposisi unik terungkap ketika seseorang memulai perjalanan pada hari Senin dari satu ujung, hanya untuk menemukan diri mereka disambut pada hari Selasa setelah mencapai ujung yang lain.
BACA JUGA: Seekor Kucing Dianugerahi Gelar Doktor dari Universitas
Secara historis, pulau-pulau ini memiliki arti penting sebagai bagian dari perbatasan yang pernah membatasi wilayah teritorial Rusia dan Amerika Serikat. Kepulauan Diomede berperan dalam menentukan perbatasan selama era pembelian Alaska dari Rusia oleh Amerika Serikat pada tahun 1867. Dinamakan berdasarkan nama penjelajah Denmark-Rusia Vitus Bering, yang pertama kali melihatnya pada 16 Agustus 1728, pulau-pulau ini terus berkembang.
Meskipun konsep perjalanan waktu sering kali berada dalam ranah fiksi ilmiah, Kepulauan Diomede berdiri sebagai bukti nyata konvergensi ruang dan waktu, mengundang rasa ingin tahu untuk menavigasi jaringan kronologi rumit yang terjalin di Selat Bering.
Despite being only two miles apart, each the Diomede Islands lay in two different countries and two different days of the week. https://t.co/gCutjPGtvb https://t.co/xSupCXl897 pic.twitter.com/mgN252htWd
— The Big Data Stats (@TheBigDataStats) July 18, 2021
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : abplive.com
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak hingga Rp52 juta akibat sistem adaptive pricing FIFA. Federasi kecil paling terdampak.
Apple resmi menghadirkan iPhone 17e di Indonesia dengan MagSafe, chip A19, dan Action Button. Harga mulai Rp13,4 juta.
Netflix digugat Texas karena dituding membuat fitur adiktif untuk anak dan mengumpulkan data pengguna tanpa izin yang jelas.
Persis Solo berada di ujung degradasi BRI Super League 2025/2026. Dua laga terakhir menjadi penentu nasib Laskar Sambernyawa.
Penelitian AAA mengungkap cuaca panas dan dingin ekstrem dapat memangkas jarak tempuh mobil listrik dan hybrid.