Jadwal Prameks Jogja-Kutoarjo 2026, Jam Sibuk Tiket Ludes
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Calon presiden nomor urut tiga, Ganjar Pranowo saat Debat Capres 2024 pada Minggu (7/1/2024). Tangkapan layar Live Streaming KPU RI
Harianjogja.com, JAKARTA—Calon presiden (capres) nomor urut 3 Ganjar Pranowo mempertanyakan alasan Prabowo Subianto yang menjadi capres sekaligus masih menjabat Menteri Pertahanan (Menhan), terkait alasan membeli alat utama sistem senjata (alutsista) bekas. Termasuk di antaranya, soal rencana pembelian satu skuadron pesawat tempur Mirage 2000-5 dari Qatar.
Meski pada akhirnya pembelian pesawat tempur bekas itu ditunda, tetap saja hal itu menjadi bahan pertanyaan dalam debat ketiga dalam Pilpres 2024, dengan tema Pertahanan, Keamanan, Hubungan Internasional, dan Geopolitik di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/1/2024). Prabowo pun beralasan, 50 persen alat perang di negara lain, juga dibeli dalam kondisi bekas.
Menurut Prabowo, pertimbangan pembelian alutsista tersebut bukan soal barang bekas atau baru. Namun mengenai alih teknologi terbaru yang bisa dijangkau dan mempertimbangkan usia pakai alutsista.
“Alutsista bekas yang dibeli itu menggunakan teknologi terbaru dan usianya masih 15 tahun,” katanya.
BACA JUGA: Data Prabowo Dinilai Tak Lengkap saat Debat, Pengamat: Defensif dan Tak Transparan
Mendengar jawaban tersebut, Ganjar yang membeberkan dirinya sudah berdialog dengan pilot di sektor pertahanan. Hasilnya, mayoritas mengatakan rencana pembelian satu skuadron pesawat tempur Mirage 2000-5 itu tak matang dan gegabah.
“Perencanannya terlalu gegabah. Keseriusan itu tidak dimunculkan oleh pengelola industri pertahanan dalam negeri. Mudah-mudahan masyarakat menjadi jelas dengan ini,” katanya.
Pakar Hubungan International Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Teuku Rezasyah, tak terlalu mempersoalkan apakah alutsista tersebut bekas atau baru. Namun, kata dia, harusnya klaim ada alih teknologi dan transfer knowledge, serta apakah teknologinya proven (teruji) dapat dibuktikan.
“Saya tidak mau terjebak pembicaraan apakah alutsista ini bekas sepenuhnya atau masa berlakunya sampai kapan, namun alangkah baiknya kalau para capres itu juga membahas apakah alutsista tersebut teknologinya proven (terbukti dan teruji) saat ini,” katanya.
Selain itu, perlu juga ditunjukkan kepada publik apakah alutsista itu memenuhi kriteria State of the Act. Serta, apakah sudah digunakan untuk perlindungan EEZ Indonesia atau pernah digunakan dalam kerjasama terbatas di lingkungan ASEAN.
“Harusnya memang dibuktikan, kita hanya berbicara ini alutsista tapi kita tidak mengecek lebih dalam dari alutsista tersebut,” katanya.
Alutsista sendiri menjadi salah satu topik panas selama debat Capres 2024 kali ini. Debat Capres 2024 ini merupakan putaran ketiga dari rangkaian debat yang dijadwalkan KPU RI dengan mempertemukan kembali para capres, yaitu capres nomor urut 1 Anies Baswedan, capres nomor urut 2 Prabowo Subianto, dan capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo.
Pada debat kali ini, para capres beradu gagasan terkait dengan tema politik luar negeri, globalisasi, pertahanan, keamanan, hubungan internasional, dan geopolitik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Progres Tol Jogja-Solo Seksi 2 Sleman terus dikebut. Pemasangan girder di Ring Road Utara ditarget selesai Juni 2026, termasuk pembangunan ramp off.
OpenAI meluncurkan ChatGPT Finance yang bisa terhubung ke rekening bank dan investasi untuk analisis keuangan personal pengguna.
Ekonom UAJY menilai pelemahan rupiah tetap berdampak ke warga desa dan kritik pernyataan Prabowo soal dolar AS.
KKMP di Kota Jogja sudah produksi ribuan batik ASN dan siapkan 65.000 seragam sekolah meski belum punya gerai permanen.
Apple mulai uji produksi chip iPhone dan Mac di Intel untuk kurangi ketergantungan pada TSMC di tengah tekanan AI dan geopolitik