OJK Ungkap Perbankan Pangkas Target Laba di 2024, Ternyata Ini Penyebabnya
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan sejumlah bank melakukan revisi dengan memangkas target laba pada 2024 ini.
Banjir di Sudan menewaskan sedikitnya 134 orang dan menghancurkan puluhan ribu rumah di musim hujan yang sedang berlangsung di negara timur laut Afrika itu, menurut pihak kepolisian kemarin./Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA—"Titik kritis" iklim, seperti hilangnya hutan hujan Amazon atau hilangnya lapisan es Greenland, bisa terjadi dalam masa hidup manusia dan diperkirakan mencapai puncaknya pada 2038.
Studi baru memperingatkan soal ekosistem bumi yang mungkin mengalami keruntuhan lebih cepat daripada yang diperkirakan oleh para ilmuwan.
Menurut penelitian, lebih dari seperlima titik kritis akan mencapai puncaknya pada 2038 dan berpotensi menyebabkan bencana ekologis global secara permanen.
Titik kritis merujuk pada titik di mana perubahan lingkungan mencapai ambang batas yang mengarah pada perubahan drastis yang tidak bisa dipulihkan lagi.
Seperti, mencairnya permafrost di Arktik, runtuhnya lapisan es Greenland, dan bagaimana tiba-tiba hutan hujan Amazon berubah menjadi sabana secara permanen.
Baca juga: Kronologi 3 Warga Semanu Meninggal Dunia karena Antraks, Berawal dari 4 Sapi Mati Mendadak
Seorang profesor di Universitas Bangor di Inggris Simon Willcock mengatakan ketika suatu ekosistem mencapai titik kritis, maka upaya perbaikan atau pemulihan akan sangat sulit untuk dilakukan.
Menurutnya, perlu tindakan yang lebih proaktif untuk melindungi dan memulihkan ekosistem yang terancam. Berbeda dengan penelitian yang sudah mapan soal hubungan pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan iklim.
Penelitian soal titik kritis sendiri masih jadi perdebatan, lantaran pemahaman ini perlu mempertimbangkan kompleksitas dan interaksi alam yang ada di dalamnya.
Bahkan, simulasi dan prediksi mengenai titik kritis dalam ekosistem dapat meleset jika mereka tidak mempertimbangkan elemen atau interaksi penting secara menyeluruh.
Hal ini seperti laporan terbaru milik Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), badan yang mengkaji ilmu iklim atas nama PBB yang menyatakan hutan hujan Amazon dapat mencapai titik kritis yang mengubahnya menjadi sabana pada 2100.
Namun, para peneliti di studi baru ini menyatakan prediksi tersebut terlalu optimis.
Mereka mengatakan sebagian besar studi titik kritis cenderung memusatkan perhatian pada satu penyebab utama keruntuhan, seperti deforestasi di hutan hujan Amazon.
Padahal, ekosistem tidak hanya bersaing dengan satu masalah. Padahal kenaikan suhu, degradasi tanah, polusi air, dan tekanan terhadap ketersediaan air pun bisa saling mempengaruhi.
Sejauh ini, profesor geografi fisik di Universitas Southampton di Inggris John Dearing memaparkan keruntuhan bisa terjadi 23 hingga 62 tahun lebih awal, tergantung pada sifat tekanan yang ada.
“Apabila titik kritis dulunya diprediksi akan terjadi pada 2100 (sekitar 77 tahun dari sekarang), maka akan lebih cepat, tergantung sejauh mana peningkatan gangguan pada ekosistem,” jelasnya.
Menurut Dearing, sekarang sangat sulit untuk memprediksi secara pasti bagaimana titik kritis dalam ekosistem yang disebabkan oleh perubahan iklim dan tindakan manusia lokal akan saling terhubung.
Namun, temuan penelitian menunjukkan perubahan iklim dan tindakan manusia lokal saling berinteraksi dan dapat memperburuk dampak satu sama lain pada ekosistem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan sejumlah bank melakukan revisi dengan memangkas target laba pada 2024 ini.
Kemenhub menyesuaikan fuel surcharge pesawat domestik mulai 13 Mei 2026 akibat kenaikan harga avtur demi menjaga operasional maskapai.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 17 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta, tersedia keberangkatan pagi sampai malam hari.
Manchester City juara Piala FA 2026 setelah mengalahkan Chelsea 1-0 di final Wembley lewat gol Antoine Semenyo.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 17 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tersedia keberangkatan pagi sampai malam.
Pelatih PSIM Yogyakarta Jean-Paul van Gastel menargetkan kemenangan saat menghadapi Madura United di Stadion Sultan Agung Bantul.