Desil 1 hingga 4 Jadi Prioritas Penerima PKH, BPNT dan Beras 10 Kg
Desil 1 hingga 4 dalam DTSEN menjadi prioritas penerima PKH, BPNT, BLT Kesra, dan beras 10 kg pada Agustus 2026.
Ibu-ibu yang disebut sempat mengaku sebagai penjual dawet di Stadion Kanjuruhan meminta maaf.
Harianjogja.com, SOLO - Tragedi Kanjuruhan menyisakan berbagai teka-teki, namun beberapa di antaranya disebut sudah terjawab.
Salah satu yang sempat viral adalah kesaksian seorang ibu yang mengaku sebagai penjual dawet, yang konon berjualan di dekat pintu 13 Stadion Kanjuruhan.
Melalui rekaman suara, ibu tersebut mengatakan jika banyaknya kematian dalam tragedi Kanjuruhan disebabkan oleh aksi desak-desakan Aremania.
Yang paling kontroversial, "ibu penjual dawet" itu juga menyebut jika gas air mata yang ditembakkan di stadion tidak seberapa.
Sebaliknya, ia kembali menuduh jika Aremania itu sendiri yang menjadi penyebab banyaknya korban meninggal dalam tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu.
"Kalau gas air mata gak terlalu, tapi karena uyel-uyelan dan desak-desakannya itu," kata ibu yang mengaku penjual dawet dalam rekaman tersebut.
Akan tetapi dari berbagai penelusuran yang dilakukan, tidak ditemukan lapak dawet di sekitar Pintu 13 Stadion Kanjuruhan. Polisi pun mengatakan akan mengusut perempuan di balik rekaman itu.
Namun berdasarkan kabar terbaru, akun Twitter @AremaniaCulture mengunggah postingan yang mengejutkan pada Rabu, 12 Oktober 2022.
BACA JUGA: Puluhan Calon Pengawas Pemilu di Gunungkidul Malah Dicatut Jadi Anggota Parpol
Dalam unggahan tersebut, tampak seorang perempuan yang mengenakan pakai bak PNS meminta maaf kepada keluarga Aremania bernama Nawi Curva Nord.
@AremaniaCulture menyebut jika wanita dalam video tersebut meminta maaf karena sudah mengaku sebagai penjual dawet.
"Masih ingat rekaman suara yang viral memberikan kesaksian terkait tragedi di kanjuruhan dan mengaku sebagai penjual dawet? Berikut video yang bersangkutan meminta maaf ke salah satu keluarga korban yaitu mas Nawi Curva Nord. Penjual dawet PNS ya?" bunyi keterangan dalam unggahan tersebut.
Sambil menangis, ibu dengan baju mirip PNS tersebut meminta maaf dan mengatakan bahwa dirinya bukan suruhan siapa-siapa.
"Saya meminta maaf terkait (rekaman) yang beredar kemarin. Saya tidak ada tujuan apapun untuk menjelekkan nama almarhum. Demi Allah, saya meminta maaf kepada panjengan, tolong maafkan saya jika ada perkataan saya yang salah," kata ibu tersebut.
"Tidak ada tujuan saya untuk mencemarkan nama baik mas Nawi, tolong dimaafkan. Demi Allah nggak ada settingan apa-apa dan saya bukan suruhan siapa-siapa. Mohon maaf yang sebesar-besarnya mbak Eka ya," tambahnya.
Karena ibu tersebut menggunakan seragam bak PNS, beberapa netizen bahkan mengatakan jika dia adalah salah satu anggota DPRD dan anggota partai. Namun belum ada bukti tentang komentar tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Twitter @AremaniaCulture
Desil 1 hingga 4 dalam DTSEN menjadi prioritas penerima PKH, BPNT, BLT Kesra, dan beras 10 kg pada Agustus 2026.
Dito Ariotedjo mengungkap Raja Arab Saudi menawarkan tambahan kuota haji untuk Indonesia saat pertemuan dengan Jokowi pada akhir 2023.
Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 Pantai Baron memastikan ancaman ubur-ubur menghilang di kawasan pantai, tapi pengunjung diminta waspada potensi laka laut.
Anggota Komisi V DPR RI Edi Purwanto mengusulkan BMKG, Badan Geologi, dan BNPB disatukan dalam satu payung untuk memperkuat koordinasi bencana.
Wamenko Pangan Hanif Faisol menegaskan penyaringan SPPG tanpa SLHS terus berjalan. BGN sebelumnya menghentikan sementara 1.999 dapur MBG.
Sebanyak 7.363 KPM bansos Sleman masuk data klarifikasi. Sejumlah rekening terdeteksi transaksi judi online dan pinjaman online.