Harga Tembaga Tembus U$10.000 per Ton
harga tembaga ditutup naik 1% menjadi U$10.013 per ton di LME pada pukul 17:50 waktu setempat pada Rabu (10/9/2025) kemarin. Semua logam lainnya juga tercatat.
Kompleks perumahan bersubsidi di kawasan Jalan Kecipir, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (15/7/2022)./Antara-Makna Zaezar
Harianjogja.com, JAKARTA— Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) menyebut hampir 50 persen pengembang properti menahan pengembangan proyek baru dan penjualan rumah subsidi. Penyebabnya adalah kenaikan harga material dan ongkos produksi.
Wakil Ketua Umum REI Hari Gani bercerita tentang pengalamannya mengunjungi beberapa daerah dan menemukan sejumlah pengembang yang semakin merasa kesulitan untuk memproduksi rumah baru.
BACA JUGA: BBM Naik, Retribusi Wisata Pansela Tak Ikut Dinaikkan. Ini Alasan Pemkab...
Hari menuturkan antara cost production atau ongkos produksi dengan harga jual rumah subsidi saat ini sudah tak sebanding. Para pengembang pun enggan menjual karena margin profit yang terlampau tipis.
"Saya tiap minggu itu keliling daerah, pengembang-pengembang rumah subsidi di daerah itu udah teriak-teriak, mereka gamau jualan rumah dulu karena production cost-nya lebih mahal," kata Hari saat dihubungi JIBI, Senin (5/9/2022).
Dia mengungkapkan ada beberapa faktor yang menyebabkan pengembang menahan penjualan dan pengembangan proyek rumah subsidi. Beberapa faktor yang dimaksud adalah peningkatan harga material di kisaran 15-20 persen tahun ini, kenaikan harga BBM, dan tidak adanya penyesuaian harga rumah subsidi.
Di sisi lain, kerugian tak hanya akan dirasakan pengembang, tapi juga para calon pembeli rumah yang merupakan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
"Kalau kayak begini kan kondisi serba salah, yang rugi bukan hanya pengembang yang nggak bisa dapat cash flow dan nggak bisa jualan karena marginnya terlalu tipis atau bahkan enggak ada margin," ujarnya.
Hari melihat pembeli rumah subsidi yang butuh rumah pun akan kesulitan memperoleh rumah layak huni. Jika dilihat, pembeli rumah subsidi rata-rata merupakan end user yang disasar oleh MBR.
"Mereka sama-sama akan merugi, yang satu nggak bisa jual rumah dan yang satu nggak bisa beli rumah sekarang," kata Hari.
Lebih lanjut, Hari membandingkan dengan rumah komersial yang dikembangkan oleh developer properti besar. Kesulitan yang sama juga terlihat dari keputusan untuk menaikkan harga.
BACA JUGA: Viral Arthur Irawan Mengamuk dan Ajak Duel Fans Persik
"Kenaikan harga kayak gini ya dia [pengembang rumah komersial] lihat pasar, pasar baru pulih masak sudah naikin harga. Susah juga, paling dia efisiensi atau menurunkan profit margin," ujarnya.
Namun, rumah komersial memiliki keuntungan yaitu tak hanya menyasar konsumen end user, tapi juga investor properti. "Investor ini yang sekarang melihat properti sebagai sarana untuk menyimpan dana yang tepat, karena properti kan dilihat stabil nilainya," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
harga tembaga ditutup naik 1% menjadi U$10.013 per ton di LME pada pukul 17:50 waktu setempat pada Rabu (10/9/2025) kemarin. Semua logam lainnya juga tercatat.
Kemendagri dorong aturan larangan perang suku di Papua Pegunungan lewat Raperdasus dan Raperdasi demi menjaga keamanan.
Lonjakan penumpang KAI Daop 4 Semarang capai 220 ribu saat libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026. Ini rute favoritnya.
Bahasa Inggris akan jadi pelajaran wajib SD mulai 2027. Pemerintah siapkan pelatihan guru dan strategi peningkatan mutu pendidikan.
Leo/Daniel juara Thailand Open 2026 usai kalahkan pasangan India. Kemenangan ini jadi momentum menuju Olimpiade 2028.
Ratusan warga Seloharjo Bantul menolak mantan dukuh kembali menjabat. Gugatan ke PTUN picu aksi dan pemasangan spanduk protes.