Harga Bawang, Cabai, hingga Telur Kompak Turun Hari Ini
Harga pangan nasional hari ini, Rabu (15/10/2025) mengalami penurunan, seperti beras, cabai, bawang, hingga telur ayam.
Epidemiolog dari Griffith Dicky Budiman memastikan bahwa subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 akan lebih mematikan dibanding varian Delta ketika menyerang pasien lansia, penderita komorbid, dan anak usia di bawah 5 tahun yang belum mendapatkan vaksinasi Covid-19./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA – Epidemiolog menilai kapan puncak wabah Covid-19 dari varian baru akan sulit diprediksi
Sejumlah prediksi gelombang puncak Covid-19 yang dinarasikan pemerintah dinilai kurang relevan dengan kondisi pengendalian yang kurang maksimal.
Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane mengatakan pihaknya tidak bisa memprediksi kapan dan berapa lama puncak Covid-19 akibat BA4 dan BA5 berlangsung.
"Kalau kami secara epidemiologi tidak bisa mengukur itu pada saat ini. Mengapa? Karena kapasitas testing rendah disbanding waktu puncak Omicron Februari-Maret ," katanya saat dihubungi Bisnis, Rabu (6/7/2022).
Dia merujuk pada jumlah testing spesimen diagnostik saat ini yang rendah berkisar 40 ribu sampai 60 ribu per hari.
Ditambah dengan standar tes PCR yang sama rendahnya, sekitar 20-40 persen. Bahkan untuk PCR sendiri saat ini 70 persen merupakan hasil testing di DKI Jakarta.
"Kalau kita mau bicara tentang bagaimana kondisi transmisi di Indonesia saat ini yang bisa kami pegang hanya di Jakarta dengan testing yang sangat baik daerah lain kita enggak bisa ukur kondisi transmisinya," paparnya.
Menurut Masdalina, tidak relevan jika saat ini sudah mulai melakukan pengukuran puncak gelombang Covid-19 keempat. Pasalnya, kondisi pengendaliannya masih belum maksimal.
"Kalau dikatakan 'oh ini puncaknya', akan sepertiga lebih rendah dibandingkan Omicron, Delta, tidak akan mungkin mencapai Omicron yang kemarin, karena tesnya cuma 40-60 ribu per hari," jelasnya.
Hal serupa dikatakan ahli epidemiologi dari Griffith University Dicky Budiman bahwa prediksi puncak Covid-19 sulit untuk dicetuskan.
“Saya kira sekali lagi ini agak tricky ya memprediksinya karena masih didominasi kasus yang tidak bergejala ydengan modal imunitas yang jauh lebih besar, maka kita harus berhati-hati dalam menyampaikan atau menarasikan puncak gelombang,” tukas Dicky.
Dia tak ingin narasi puncak Covid-19 disalahartikan. Ketika lewat masa tersebut artinya kondisi dapat lebih bebas, ternyata tidak.
“Ini pandemi dan kita sudah membuktikan dengan mengalami bahwa gelombang silih berganti dan ini bukan gelombang terakhir bukan varian atau varian terakhir juga,” ujarnya.
Epidemiolog mengatakan hal yang menjadi urgensi saat ini adalah perlindungan mitigasi dengan melakukan peningkatan testing harian dan mempercepat capaian vaksin primer maupun booster.
Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah merespons peningkatan kasus Covid-19 dengan mewanti-wanti masyarakat akan munculnya gelombang keempat didominasi subvarian Omicron BA4 dan BA5.
Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, bahwa perkiraan puncak kasus akan terjadi pada pekan kedua dan ketiga Juli 2022.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga memprediksi gelombang baru setelah melihat kasus pada awal Juli meningkat drastis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Harga pangan nasional hari ini, Rabu (15/10/2025) mengalami penurunan, seperti beras, cabai, bawang, hingga telur ayam.
Cuaca panas bisa memengaruhi baterai mobil listrik. Simak 6 cara menjaga baterai EV tetap awet dan efisien saat suhu ekstrem.
Pemkab Kulon Progo berkomitmen selalu proaktif dalam penyelesaian terkait kepentingan masyarakat tersebut dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-kehatian
Alex Rins mengaku syok melihat kecelakaan horor Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026 hingga jantungnya seperti berhenti berdetak.
Jennifer Coppen dan Justin Hubner mengumumkan rencana pernikahan di Bali pada Juni 2026 dengan tiga konsep adat berbeda.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.