Padusan Ramadan 2026, Wisata Air Klaten Siap Diskon
Wisata air Klaten siapkan padusan Ramadan 2026 dengan tambahan rescue, pentas budaya, dan promo tiket tanpa kenaikan harga.
Pengurus Guyub Bebeng mengecek kondisi mata air Bebeng di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, Kamis (2/12/2021)./Istimewa-Guyub Bebeng
Harianjogja.com, KLATEN – Sedikitnya 10.000 warga Klaten yang berada di lereng Merapi kesulitan air bersih akibat pipa induk di mata air Bebeng, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY rusak diterjang banjir lahar pada Rabu (1/12/2021) sore.
Kaur Perencanaan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jainu, mengatakan pasokan air dari Bebeng macet sejak Rabu sekitar pukul 16.00 WIB. Sebelumnya, hujan deras mengguyur wilayah puncak dan lereng Merapi yang mengakibatkan banjir lahar di sejumlah sungai yang berhulu di gunung tersebut.
"Pada Rabu sekitar pukul 16.00 WIB ada banjir yang sebelumnya tidak pernah terjadi di Kali Bebeng. Kemungkinan kemarin akibat hujan deras, tanah di lereng Merapi banyak yang longsor dan membendung sungai. Karena tanahnya tidak kuat, akhirnya mengakibatkan banjir yang besar melewati Bebeng," kata Jainu, Jumat (3/12/2021).
Akibat banjir itu, pipa induk sepanjang 500 meter rusak dan hanyut terbawa banjir. Kondisi itu membuat saluran air Bebeng yang dimanfaatkan warga empat desa di dua provinsi itu macet. Warga pemanfaat air Bebeng yakni warga Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, serta warga Desa Balerante, Sidorejo, dan Panggang di Kecamatan Kemalang, Klaten.
"Air sementara tidak bisa dimanfaatkan sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Pengguna air Bebeng ada sekitar 15.000 jiwa dan pengguna paling banyak ada di Klaten," kata Jainu yang juga pengurus Guyub Bebeng.
Jainu menuturkan pengurus sudah menggelar rapat darurat membahas macetnya saluran air Bebeng itu. Untuk membikin air dari Bebeng bisa disalurkan lagi, dibutuhkan pipa pengganti.
Selain itu, pembersihan dan perbaikan demi mendapatkan sumber air harus menerjunkan alat berat. "Sesuai estimasi kami, dana yang saat ini dimiliki paguyuban tidak mencukupi. Estimasi kasar kebutuhannya sekitar Rp200 juta. Oleh karena itu, desa yang ada di Sleman berkoordinasi dengan BPBD Sleman. Sementara, kami yang ada di Klaten akan berkoordinasi dengan BPBD Klaten," kata Jainu.
Salah satu warga Dukuh Mbangan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Sukiman, mengatakan lantaran air dari Bebeng macet, warga sementara waktu menggunakan air hujan. "Selama ini, kami memanfaatkan air dari Bebeng dengan iuran untuk pengganti biaya operasional dan perawatan. Kalau di wilayah kami per meter kubik Rp4.000," kata dia.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Rujedi Endro Suseno, mengatakan ada sekitar 10.000 jiwa warga Klaten yang terdampak terputusnya pasokan air dari Bebeng. "Kami sudah laporan ke pimpinan. Dengan hasil rapat dari paguyuban kemarin, ya harus mengganti pipa yang rusak. Segera dirapatkan untuk duduk bersama menyelesaikan ini," kata Rujedi.
Mata air Bebeng selama ini menjadi andalan warga empat desa di lereng Merapi antara Klaten dan Sleman. Pada erupsi Merapi 2010 lalu, mata air Bebeng sempat tertutup material vulkanik. Setelah dilakukan penggalian, aliran air dari Bebeng bisa dinikmati lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Wisata air Klaten siapkan padusan Ramadan 2026 dengan tambahan rescue, pentas budaya, dan promo tiket tanpa kenaikan harga.
Tawuran pelajar kembali pecah di dekat Stadion Mandala Krida, Jogja. Polisi menyebut aksi dipicu provokasi kelompok pelajar.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Jadwal puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 jatuh 25–26 Mei berdasarkan penetapan awal Zulhijah Kemenag
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Ducati jual fairing asli MotoGP GP25 Márquez dan Bagnaia lewat MotoGP Authentics untuk kolektor