Kementerian PPPA Turunkan Tim Khusus Usut Pemerkosaan Anak di Luwu Timur
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) akan menurunkan tim khusus untuk mengusut pemerkosaan anak diKabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Presiden Joko Widodo (kiri) disuntik dosis pertama vaksin Covid-19 produksi Sinovac oleh vaksinator Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Prof Abdul Mutalib (kanan) di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1/2021). ANTARA FOTO/Setpres-Agus Suparto
Harianjogja.com, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) akhirnya angkat bicara mengenai beredarnya sertifikat vaksinansi Covid-19 milik Presiden Joko Widodo (Jokowi) di dunia maya.
Seperti diketahui, jagat maya sedang dihebohkan dengan beredarnya sertifikat vaksin Jokowi yang menampilkan data pribadi Jokowi yang meliputi meliputi Nomor Induk Kependudukan (NIK), tanggal lahir, tanggal vaksinasi, nomor identifikasi vaksinasi, serta jenis dan batch vaksin yang digunakan.
Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi menyatakan informasi terkait NIK yang digunakan untuk mengakses sertifikat vaksinasi Covid-19 tidak berasal dari sistem PeduliLindungi.
“Informasi NIK Bapak Presiden Joko Widodo telah terlebih dahulu tersedia pada situs KPU. Informasi tanggal vaksinasi Bapak Presiden Joko Widodo dapat ditemukan dalam pemberitaan media massa,” katanya melalui pernyataan resmi bersama Kementerian Kesehatan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dan Kemkominfo, Jumat (3/9/2021).
Lebih lanjut, Dody menjelaskan bahwa fungsi pemeriksaan sertifikat vaksinasi yang tersedia dalam platform PeduliLindungi sebelumnya mensyaratkan pengguna menyertakan nomor ponsel. Namun, akhirnya, kebijakan tersebut diubah dengan hanya menggunakan lima parameter, antara lain nama, NIK, tanggal lahir, tanggal vaksin, dan jenis vaksin setelah menimbang banyak masukan dari masyarakat.
Adapun, terkait dengan keamanan data pribadi pengguna platform PeduliLindungi, Dody menyebut pihaknya telah melakukan migrasi Sistem PeduliLindungi ke Pusat Data Nasional (PDN) pada 28 Agustus 2021 pukul 14.00 WIB. Migrasi tersebut meliputi migrasi sistem, layanan aplikasi, dan juga basis data aplikasi PeduliLindungi.
“Migrasi turut dilakukan terhadap Sistem Aplikasi SiLacak dan Sistem Aplikasi PCare,” ungkapnya.
Sebelumnya, ketika dikonfirmasi Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate juga menyatakan bahwa tidak ada kebocoran data pada platform PeduliLindungi. Adapun, terkait dengan beredarnya sertifikat vaksin Jokowi ke publik, dia malah meminta hal tersebut ditanyakan kepada Kementerian Kesehatan.
“Sebaiknya dengan Kemenkes saja sebagai wali data. Integrasi eHAC ke aplikasi PeduliLindungi dan migrasi aplikasi PeduliLindungi, PeduliLindungi Care, dan Silacak ke data center Kominfo baru saja dilakukan dan saat ini data PeduliLindungi di data center Kominfo aman,” katanya kepada Bisnis, Jumat (3/9/2021) melalui pesan instan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) akan menurunkan tim khusus untuk mengusut pemerkosaan anak diKabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Wali Kota Solo Respati Ardi prioritaskan guru dan nakes dalam rekrutmen CASN. Pemkot kejar solusi kekurangan tenaga pendidikan.
Menkeu Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil bahas strategi peningkatan PNBP, swasembada energi, dan listrik desa. Ini target dan datanya.
Merokok meningkatkan risiko kanker mulut secara signifikan. Ketahui penyebab, dampak, dan cara menurunkannya menurut dokter.
BGN akan menangguhkan SPPG tanpa Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi. Kebijakan ini demi menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis.
Serangan Israel ke Lebanon kembali meningkat. Puluhan wilayah dihantam, korban tewas bertambah. Simak perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.