Kemenaker Naikkan Kuota Magang Nasional 2026 Jadi 150.000 Peserta
Kemenaker menaikkan Program Magang Nasional Angkatan II menjadi 150.000 peserta pada 2026 dan memperluas akses bagi lulusan profesi dan penyandang disabilitas.
Anak Sakit/boldsky.com
Harianjogja.com, JAKARTA - Kabar multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) karena Covid-19 yang dialami sejumlah anak di Amerika Serikat membuat kekhawatiran baru bagi para orang tua. Hal ini karena MIS-C membuat anak-anak mengalami gejala berat ketika terinfeksi Covid-19.
PhD Candidate in Medical Science at Kobe University Adam Prabata menjelaskan MIS-C adalah kondisi banyak organ tubuh yang mengalami peradangan, yang terjadi pada anak saat terinfeksi Covid-19.
Menurut CDC, organ tubuh yang mengalami peradangan antara lain jantung, kulit, paru-paru, otak, saluran cerna, ginjal, dan mata.
BACA JUGA : 1 Warga Jogja Positif Corona, Masih Usia Anak
Keluhan MIS-C berupa demam, nyeri perut, muntah, diare, nyeri leher, kemerahan di kulit, mata merah, dan merasa lelah. Anak-anak dapat mengalami gejala yang berbeda.
Adapun yang perlu dikhawatirkan atau terbilang dalam kondisi gawat darurat ketika anak kesulitan bernapas, nyeri atau rasa tertekan di dada yang tidak hilang, kebingungan, tidak bisa bangun atau tidak bisa terjaga.
Kemudian kulit, kuku, atau bibir berwarna pucat atau kebiruan, dan nyeri perut berat. Disarankan apabila anak mengalami gejala tersebut segera dibawa ke IGD terdekat.
Sementara kriteria anak dinyatakan MIS-C ketika mereka mengalami demam lebih dari 24 jam, peningkatan penanda inflamasi, disfungsi multi-organ seperti pada jantung, kulit, saluran cerna, ginjal, pernapasan, darah, atau saraf.
Kriteria selanjutnya yakni hasil PCR positif atau hasil tes antibodi positif. Bisa juga mengalami kontak erat dengan pasien Covid-19 dalam 4 minggu sebelum gejala muncul. Juga, tidak ada alternatif diagnosis yang meyakinkan.
BACA JUGA : Gejala Baru pada Anak yang Terinfeksi Virus Corona
"MIS-C terjadi mayoritas pada 2-6 Minggu setelah infeksi Covid-19," sebut Adam mengutip Rubens.
Kata dia, mayoritas anak yang mengalami MIS-C merupakan anak usia sekolah yakni 8 tahun. Namun MIS-C juga tercatat ditemukan pada semua usia anak bahkan hingga dewasa muda yakni 0-20 tahun.
"66-73 persen anak yang mengalami MIS-C sebelumnya dalam keadaan sehat," tulis Adam.
MIS-C termasuk kasus jarang. Diperkirakan terjadi pada 0,14 persen anak yang terkena Covid-19. Kendati demikian, MIS-C dapat menyebabkan kondisi kritis, hingga menyebabkan kematian.
Setidaknya 64-80 persen anak dengan MIS-C masuk ICU. Sebanyak 13-30 persen anak butuh alat bantu pernapasan, 42-48 persen membutuhkan obat untuk meningkatkan tekanan darah, dan 2-4 persen anak dengan MIS-C meninggal dunia.
Oleh karena itu deteksi dini dan penanganan sesegera mungkin dinilai sangat penting. Pencegahan pun menjadi hal yang utama.
"Cegah anak dan anggota keluarga lainnya agar tidak terkena Covid-19 dengan melakukan protokol kesehatan semaksimal mungkin," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Kemenaker menaikkan Program Magang Nasional Angkatan II menjadi 150.000 peserta pada 2026 dan memperluas akses bagi lulusan profesi dan penyandang disabilitas.
Suahasil Nazara menegaskan komitmen menjaga APBN agar mendorong pertumbuhan dan stabilitas ekonomi Indonesia hingga 2029.
Desa Wisata Sasak Ende menghadirkan kehidupan tradisional Sasak lewat rumah adat, Gendang Beleq, Peresean dan aktivitas warga.
Pengacara di Semarang diduga dikeroyok setelah melerai keributan di kafe. Tiga orang dilaporkan dan polisi memastikan kasus masih berjalan.
Ranu Regulo tetap dibuka meski sejumlah titik di Gunung Bromo terbakar. Wisatawan diminta waspada dan tidak menyalakan api.
Pemkab Gunungkidul menyalurkan alat bantu bagi kelompok difabel untuk menunjang aktivitas dan mendorong kemandirian.