Harga Emas Perhiasan Hari Ini 25 Juli 2026, 24 Karat Rp2,275 Juta
Harga emas perhiasan hari ini Sabtu 25 Juli 2026 naik tipis. Simak daftar harga emas 24 karat hingga 5 karat di Lakuemas dan Rajaemas.
Ilustrasi/Pixabay
Harianjogja.com, JAKARTA - Covid-19 menjadi pandemi global terbesar dalam 100 tahun yang telah menewaskan lebih dari 600.000 orang dan memukul perekonomian global. Di masa depan, pandemi serupa bisa kembali muncul, tetapi bisa dicegah.
Andrew Dobson, seorang profesor ekologi dan biologi evolusi di Princeton dan koleganya Stuart Pimm dari Duke University memperkirakan biaya yang dibutuhkan dunia untuk mencegah hal ini terjadi lagi, dan apa tindakan utama yang perlu dilakukan.
Mereka mengumpulkan tim yang di dalamnya terdiri dari ahli epidemiologi, ahli biologi penyakit satwa liar, praktisi konservasi, ahli ekologi, dan ekonom. Tim peneliti ini berpendapat bahwa investasi tahunan sebesar US$30 miliar akan diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya pandemi baru di masa depan.
"Setidaknya ada empat patogen virus lain yang telah muncul dalam populasi manusia sejauh abad ini. Investasi dalam pencegahan mungkin merupakan kebijakan asuransi terbaik untuk kesehatan manusia dan ekonomi global di masa depan," kata Pimm dikutip dari phsy.org.
Dia mengatakan dua faktor utama tampak sebagai pendorong timbulnya patogen yakni perusakan hutan tropis dan perdagangan satwa liar. Masing-masing telah berkontribusi dua dari empat penyakit yang muncul yang muncul dalam 50 tahun terakhir adalah Covid-19, Ebola, SARS, dan HIV.
Baik deforestasi dan perdagangan satwa liar juga menyebabkan kerusakan luas pada lingkungan di berbagai bidang, sehingga ada beragam manfaat yang terkait dengan pengurangannya, catat para peneliti.
Peningkatan pemantauan dan pengawasan kegiatan ini akan memungkinkan virus yang muncul di masa depan terdeteksi pada tahap yang jauh lebih awal, ketika kontrol dapat mencegah penyebaran lebih lanjut. Semua bukti genetik menunjukkan Covid-19 muncul dari spesies kelelawar yang diperdagangkan sebagai makanan di China.
Perdagangan satwa liar adalah komponen utama ekonomi global, dengan produk-produk ekonomi utama termasuk makanan, obat-obatan, hewan peliharaan, pakaian dan furnitur. Beberapa di antaranya diperdagangkan sebagai barang mewah, yang dapat menciptakan hubungan intim yang meningkatkan risiko penularan patogen ke pedagang atau pembeli. Pasar satwa liar selalu diatur dengan buruk dan tidak bersih.
Dobson mengatakan untuk mengatasi hal itu, organisasi yang bertugas memantau perdagangan satwa liar internasional Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES) memiliki anggaran global bersih hanya US$6 juta.
Secara khusus, para ilmuwan membutuhkan informasi penting tentang patogen virus yang beredar di spesies hewan dan makanan potensial. Mereka menyarankan menggunakan kelompok-kelompok pemantauan perdagangan satwa liar regional dan nasional, terintegrasi dengan organisasi internasional untuk memantau kesehatan hewan.
Tujuannya, bukan hanya memastikan perlindungan yang lebih kuat untuk banyak spesies yang terancam oleh perdagangan, juga akan membuat perpustakaan sampel genetik yang dapat diakses secara luas yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi patogen baru ketika mereka muncul.
Langkah ini juga akan menghasilkan perpustakaan genetika virus dengan dua peran kunci: lebih cepat mengidentifikasi sumber dan lokasi patogen yang muncul di masa depan, dan mengembangkan tes yang diperlukan untuk memantau wabah di masa depan.
Pada akhirnya, perpustakaan ini akan berisi informasi yang dibutuhkan untuk mempercepat pengembangan vaksin di masa depan. Meskipun telah ada seruan untuk menutup "pasar basah" tempat hewan liar dan domestik dijual, untuk mencegah wabah patogen yang muncul di masa depan, para penulis menyebut banyak orang bergantung pada makanan dan obat-obatan yang bersumber dari alam, dan menyarankan pengawasan kesehatan yang lebih baik.
Mereka mengatakan risiko munculnya virus baru dapat dikurangi jika lebih banyak orang dilatih dalam pemantauan, deteksi dini dan pengendalian patogen dalam perdagangan satwa liar, dan bekerja dengan masyarakat setempat untuk meminimalkan risiko pajanan dan penularan selanjutnya. "
"Di China, misalnya, ada terlalu sedikit dokter hewan satwa liar, dan mayoritas bekerja di kebun binatang dan klinik hewan," kata rekan penulis Binbin Li, asisten profesor ilmu lingkungan di Universitas Duke Kunshan di Jiangsu, China.
"Dokter hewan berada di garis depan pertahanan melawan patogen yang muncul, dan secara global kita sangat membutuhkan lebih banyak orang yang terlatih dengan keterampilan ini," kata Dobson.
Perluasan dan pengembangan cara yang lebih baik untuk memantau dan mengatur perdagangan satwa liar dapat dilakukan dengan biaya sekitar US$500 juta per tahun, yang penulis sebut sebagai "biaya sepele" jika dibandingkan dengan biaya COVID saat ini, terutama mengingat manfaat tambahan seperti sebagai mengekang konsumsi satwa liar dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
Melambatnya deforestasi tropis juga akan memperlambat munculnya virus, ditambah lagi akan mengurangi input karbon ke atmosfer dari kebakaran hutan dan melindungi keanekaragaman hayati hutan. Di sisi lain, ini mengurangi pendapatan dari kayu, penggembalaan, dan pertanian.
Apakah layak untuk melepaskan manfaat-manfaat nyata, tetapi terfokus secara ekonomi ini? Para penulis melakukan bagian ini dari analisis biaya-manfaat dari dua perspektif ekonomi yang saling melengkapi: pertama mengabaikan dan kemudian memasukkan manfaat karbon yang disimpan sebagai lindung nilai terhadap perubahan iklim.
Mereka tidak berusaha untuk memberi nilai pada hilangnya keanekaragaman hayati. Artikel Forum Kebijakan dengan tajam berfokus pada biaya bottom-line yang diperlukan untuk mencegah Covid berikutnya. "Munculnya patogen pada dasarnya adalah peristiwa biasa yakni akan terjadi sekali setiap 4 hingga 5 tahun," kata co-penulis Peter Daszak, seorang ahli epidemiologi dengan Ecohealth Alliance di New York, menunjuk sejumlah penelitian.
"Kita mungkin melihat biaya Covid melonjak hingga melampaui US$8 hingga US$15 triliun dengan jutaan orang menganggur dan hidup dalam keadaan lockdown," kata rekan penulis Amy Ando, seorang profesor ekonomi pertanian dan konsumen di University of Illinois-Urbana Champaign.
Dia menjelaskan biaya tahunan untuk mencegah wabah di masa depan kira-kira sebanding dengan 1 hingga 2% dari pengeluaran militer tahunan oleh 10 negara terkaya di dunia.
"Jika kita melihat pertempuran berkelanjutan dengan patogen yang muncul seperti Covid-19 sebagai perang yang kita semua harus menangkan, maka investasi dalam pencegahan tampaknya seperti nilai yang murah," kata Dobson.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga emas perhiasan hari ini Sabtu 25 Juli 2026 naik tipis. Simak daftar harga emas 24 karat hingga 5 karat di Lakuemas dan Rajaemas.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Vietnam mempertahankan gelar Piala AFF 2026 setelah bermain imbang 2-2 melawan Thailand dan menang agregat 4-2 di final.
APBD Perubahan Kulonprogo 2026 mengalokasikan Rp8 miliar untuk Bank BPD DIY dan Bank Kulonprogo, tetapi dasar hukumnya disorot DPRD.
Bhutan dinobatkan sebagai negara paling tenang di dunia versi Noise-Free Nations Index 2026 dengan skor 89,44. Simak 10 negara paling tenang dan alasannya
Desta resmi keluar dari Vindes Corp setelah 5 tahun. Presenter itu minta publik tak berspekulasi. Hubungan dengan keluarga VINDES tetap baik