KM Mutiara Sentosa 2 Terbakar, 4 Tewas dan 218 Penumpang Selamat
Update kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 di utara Sumenep, empat orang meninggal, 218 penumpang selamat, operasi SAR masih berlangsung.
Panen perdana varietas Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar di Kawasan Agro Techno Park (ATP), Klaten, Jawa Tengah, Selasa (22/10/2019). /Ist-Batan.
Harianjogja.com, JOGJA—Teknologi nuklir tidak hanya dikenal sebagai senjata pemusnah massal. Namun nuklir untuk tujuan damai bisa bermanfaat untuk masyarakat, seperti bisa meningkatkan kualitas varietas padi.
Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui teknologi nuklir yang dimiliki berhasil memperbaiki varietas padi Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk di Kawasan Agro Techno Park (ATP), di Klaten, Jawa Tengah.
Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Totti Tjiptosumirat menjelaskan, pihaknya mempunyai peran penting di bidang pertanian guna menghasilkan varietas unggul dengan memanfaatkan nuklir. Meski pun banyak varietas padi lain, namun varietas padi hasil penelitian nuklir diharapkan banyak disukai masyarakat sehingga dapat mendukung program ketahanan pangan nasional.
Keberhasilan memperbaiki kualitas varietas ini, kata dia, merupakan komitmen Batan dalam memanfaatkan nuklir untuk tujuan damai, khususnya di bidang pertanian. Selain itu, dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemanfaatan teknologi nuklir tidak hanya untuk senjata dan energi saja, melainkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang.
“Kami ingin membuktikan bahwa nuklir bukan hanya dikenal sebagai pemusnah massal dan hingga saat ini banyak masyarakat yang mempunyai persepsi negatif pada energi nuklir, namun teknologi nuklir dapat dimanfaatkan di bidang lain, seperti pangan,” terang dia dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (22/10/2019)
Ia berharap, varietas padi Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk dapat mendukung produksi padi di Klaten, yang tentunya bisa memberikan dampak terhadap produksi padi di Jawa Tengah.
Peneliti Batan, Sobrizal menambahkan riset varietas Rojolele ini dimulai sejak 2013, sesuai permintaan masyarakat agar Batan memperbaiki varietas tersebut. Perbaikan dilakukan dengan radiasi sinar gamma pada dosis 200 Gy. Kemudian dihasilkan varietas baru yakni Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar yang lebih unggul. “Keunggulan dua varietas ini dibandingkan dengan induknya antara lain mempunyai umur lebih pendek kurang dari 120 hari sedangkan umur induknya mencapai 155 hari,” ucapnya.
Keunggulan lain, lanjutnya, tinggi tanaman sekitar 105 sentimeter sehingga tidak mudah roboh serta memiliki ketahanan hama penyakit lebih baik. Produksinya pun lebih tinggi mencapai sembilan ton per hektare, padahal induknya hanya mencapai tujuh ton hektare.
“Mutu fisik beras dan mutu organoleptik [rasa nasi, aroma] setidaknya sama dan bahkan cenderung lebih baik dibandingkan induknya,”ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Update kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 di utara Sumenep, empat orang meninggal, 218 penumpang selamat, operasi SAR masih berlangsung.
DPK Kota Jogja mengenalkan layanan Amarta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menyelamatkan dan mengelola arsip keluarga.
Dokter mengingatkan gaya hidup sedentari pada anak dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan hipertensi. Simak aktivitas fisik yang dianjurkan.
UMY mengembangkan lima prototipe AI untuk membantu deteksi limfoma, tumor otak, kanker payudara, penyakit jantung, dan stres.
BGN memberi tenggat hingga 10 Agustus 2026 bagi SPPG mengurus SLHS. Dapur tanpa sertifikat laik higiene dan sanitasi akan ditutup permanen.
Harga emas Antam naik Rp50.000 menjadi Rp2,679 juta per gram. Cabai rawit merah juga melonjak mendekati Rp60.000 per kilogram.