Kucing Hutan Masuk Kap Mobil Warga Klaten, Damkar Evakuasi
Damkar Klaten mengevakuasi seekor kucing hutan dari kap mobil warga di Cawas. Satwa dilindungi itu akan diserahkan ke BKSDA Jawa Tengah.
Toko mebel Rahayu yang terbakar di Dukuh Tanggul, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Klaten, Kamis (25/4/2019) malam. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
Harianjogja.com, KLATEN--Kasus kebakaran di Klaten mengalami peningkatan pada periode Januari-Juni 2019 dan banyak terjadi terjadi di tempat usaha.
Menurut hasil pendataan unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Klaten, dari total 37 kejadian kebakaran pada Januari-Juni, sekitar 19 kejadian kebakaran terjadi pada tempat usaha di antaranya warung, los tembakau, oven kayu, gudang mebel, dan kandang ayam.
Salah satu petugas unit Damkar Klaten, Irwan Santosa, mengatakan tren kebakaran setiap tahunnya mulai meningkat ketika memasuki Juni atau musim kemarau hingga akhir tahun.
“Ketika Oktober yang semestinya memasuki musim hujan, namun selama ini kejadian kebakaran masih tinggi hingga akhir tahun,” kata Irwan saat ditemui wartawan di unit Damkar Klaten, Rabu (3/7/2019).
Irwan menjelaskan berdasarkan pemetaan tingkat kejadian pada 2018, kebakaran kebanyakan terjadi pada tempat tinggal dan tempat usaha. Tren tersebut masih terjadi pada 2019. “Ada yang tempat usaha bergabung dengan tempat tinggal. Seperti usaha mebel yang juga menjadi tempat tinggal pemiliknya,” ungkapnya.
Soal penyebab kebakaran, Irwan menuturkan jika ditelusuri lebih jauh peristiwa kebakaran bisa terjadi lantaran faktor kelalaian. Ia mengakui selama ini korsleting kerap menjadi kambing hitam penyebab peristiwa kebakaran terjadi.
“Kesimpulan kami masih banyak yang menganggap sepele soal faktor penyebab kebakaran. Misalnya listrik dan memasak. Seperti menghubungkan beberapa perangkat elektronik pada satu stop kontak hingga overload dan memicu terjadinya kebakaran. Permasalahan lain seperti ketika memasak api kompor dibiarkan menyala dan ditinggal pergi. Persoalan-persoalan seperti ini yang terkadang masyarakat belum tahu dampaknya,” kata dia.
Irwan mengatakan secara teori pola pertumbuhan api sangat cepat. Bahkan, dalam waktu 10 menit api bisa membakar seluruh rumah. Apalagi, di sekitar lokasi munculnya api terdapat barang-barang yang mudah terbakar. “Asalkan ada panas, bahan bakar, dan oksigen, pertumbuhan api bisa sangat cepat,” ungkapnya.
Disinggung potensi kebakaran yang terjadi memasuki musim kemarau, Irwan mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan mereka. “Mulai waspada pada hal-hal yang berpotensi timbulnya api. Misalkan bakar sampah jangan ditumpuk banyak. Jika memasak, jangan ditinggalkan saat api masih menyala,” urai dia.
Sementara itu, pada awal Juli 2019, sudah ada sekitar lima kejadian kebakaran yang terjadi Selasa (2/7/2019). Kelima kejadian tersebut terjadi pada lahan dan tempat usaha. Kali terakhir peristiwa kebakaran terjadi pada tempat usaha oven kayu di Dukuh Krajan, Desa Majegan, Kecamatan Tulung. Dalam sehari, tempat usaha milik Heru, 49, tersebut terbakar dua kali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Damkar Klaten mengevakuasi seekor kucing hutan dari kap mobil warga di Cawas. Satwa dilindungi itu akan diserahkan ke BKSDA Jawa Tengah.
DPRD DIY menyoroti hak buruh transportasi terkait UMK, lembur, BPJS Ketenagakerjaan, sanksi pemotongan gaji, dan K3.
Tiga PPPK di lingkungan Pemkab Gunungkidul dipecat karena pelanggaran disiplin berat. Dua di antaranya terlibat perselingkuhan hingga hamil.
Bank Jateng menyatakan kesiapan mendukung Program SMK Go Global yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kompetensi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK)
Presiden Prabowo meninjau warga terdampak gempa M7,7 di Nagekeo, NTT. BNPB mencatat 103 orang meninggal dan 1.666 luka-luka.
Warga Kembangputihan, Bantul, mengolah sisa dapur menjadi pakan maggot. Hasil penjualan maggot dimasukkan ke kas untuk kegiatan warga.