Garasi Ketua RW di Mergangsan Disulap Jadi Dapur Umum untuk Bantu Mahasiswa Sulteng

Dapur umum untuk mahasiswa Sulawesi Tengah yang kuliah di DIY. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
10 Oktober 2018 10:25 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJAMasyarakat Jogja memiliki kepedulian besar terhadap para mahasiswa Sulawesi Tengah di DIY yang ikut menderita karena lindu dan tsunami. Mereka sukarela membuka dapur umum untuk menyiapkan makanan sehari dua kali. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Sunartono.

Sejak lindu berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat (28/9) lalu, Heri Nugroho kerap menengok Asrama Mahasiswa Sulteng yang berada di depan rumahnya, hanya dipisahkan jalan kampung.

Ia ikut nelangsa karena ratusan mahasiswa di asrama itu tak bisa menghubungi keluarga dan sanak famili di kampung halaman. Setelah gempa, jalur komunikasi di beberapa wilayah Sulteng putus dan baru pulih beberapa hari lalu.

Asrama di Jalan Bintaran Tengah, Mergangsan, Kota Jogja, itu kemudian menjadi tempat berkumpul.

Heri Nugroho adalah Ketua RW di kampung sehingga dia merasa memiliki tanggung jawab terhadap nasib ratusan mahasiswa. Apalagi ia banyak mendengar cerita dari mahasiswa yang tak bisa mengontak keluarganya, tak lagi mendapatkan kiriman uang saku, hingga terpaksa meninggalkan rumah indekos karena uang sudah habis dan tak mampu membayar sewa kepada induk semang.

Bantuan ke asrama pun mengalir. Makanan sehari-hari juga datang, tetapi tidak rutin. Heri Nugroho dan istrinya, Nurul Monica, kemudian membuka dapur umum di rumahnya untuk mahasiswa Sulteng secara rutin. Garasi sisi barat rumah Heri jadi dapur dadakan. Tiga kompor dan tabung gas, beberapa panci besar, serta seabrek perkakas memasak disiapkan.

“Saya menganggap adik-adik mahasiswa Sulteng ini seperti anak saya sendiri. Saya punya anak yang tinggal jauh, ngekos di Jakarta. Maka saya berpikir bagaimana dia [mahasiswa] bisa tercukupi kebutuhannya terutama makan,” ujar dia saat berbincang dengan Harian Jogja, Selasa (9/10) sore.

Selasa kemarin menjadi hari pertama ia membuka dapur umum bersama warga RW 01 Bintaran, Wirogunan, Mergangsan Kota Jogja. Pagi hari ibu-ibu anggota PKK RW mulai gugur gunung memasak, dibantu oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Ambarrukmo (Stripram) yang sudah memiliki kemampuan mengolah makanan. Sayur sop, sambel dan tempe goreng menjadi menu makan siang bagi para mahasiswa.

Setelah makan siang selesai, tim pemasak sif kedua yang terdiri atas 15 orang mulai bekerja pukul 15.00 WIB.  Tepat pukul 17.30 WIB, dua loyang telur dadar, dua baskom besar mi goreng, satu baskom besar tumis buncis, serta satu panci besar nasi yang masih berada di atas kompor sudah siap. Makanan itu diangkat menuju asrama sebagai hidangan makan malam para mahasiswa.

Menghimpun Sumbangan

Untuk membuat asap dapur umum itu mengebul, Heri Nugroho menghimpun sumbangan sukarela dari warga serta beberapa kenalannya, termasuk alumni SMP Pangudi Luhur dan beberapa yayasan lainnya.

Respons warga sangat besar. Bahkan Heri yakin uang yang terkumpul bisa dipakai membuka dapur umum hingga sebulan ke depan. Dalam hitungannya, satu porsi makanan senilai Rp10.000. Dalam sehari, dapur umum itu setidaknya harus menyediakan Rp1,6 juta untuk menyiapkan 160 porsi: 60 porsi untuk makan siang dan 100 porsi untuk makan malam.

“Jumlah itu sesuai dengan hasil koordinasi dengan para mahasiswa. Siang hari menu yang disiapkan lebih sedikit karena mahasiswa yang berada di asrama lebih sedikit,” kata Heri.

Dia memperkirakan makanan yang dimasak akan lebih banyak setelah banyak mahasiswa mengetahui dapur umum khusus mahasiswa Sulteng. Masakan di dapur umum ini setiap hari bervariasi.

“Saya berharap ke depan ada bantuan lagi untuk terus menghidupkan dapur umum ini,” ucapnya.

Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan HB X meminta jajarannya membuat dapur umum untuk mahasiswa Sulteng yang keluarganya menjadi korban lindu dan tsunami.

Menurut Sultan, berdasarkan hasil verifikasi sementara, terdapat 590 mahasiswa asal Sulteng di DIY. Mereka tidak lagi mendapatkan kiriman dari keluarganya untuk biaya pendidikan dan biaya hidup.

Sekretaris Daerah DIY Gatot Saptadi mengatakan ratusan mahasiswa Sulteng merasakan beragam dampak lindu dan tsunami yang mengguncang provinsi itu. Ada mahasiswa yang kehilangan semua anggota keluarga, ada yang belum bisa komunikasi dengan keluarga, dan ada pula yang sudah berhasil komunikasi dengan keluarga tetapi belum bisa mendapatkan biaya kuliah.

Pemda DIY berencana menyiapkan dapur umum setiap hari di Posko Mahasiswa Sulteng di Bintaran, Mergangsan, Kota Jogja, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Ransum akan diberikan untuk tiga kali. “Masak untuk sekali makan hampir 600 orang itu kan cukup berat, sehingga kami kerahkan tenaga sukarelawan,” kata Gatot.

Sejauh ini, dapur umum yang digagas Heri dan warga di sekitar asrama belum memakai bantuan dari Pemda DIY.