Perang Dagang Bakal Berdampak Buruk pada Perekonomian Dunia

Penasihat Negara dan Menlu China Wang Yi (kiri) berjabatan tangan dengan Menlu Jepang Taro Kono dalam pertemuan keduanya di Tokyo, Jepang, Minggu (15/4). - Reuters/Behrouz Mehri
17 April 2018 13:17 WIB Annisa Margrit News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Pemerintah Jepang dan Tiongkok menggelar dialog tingkat tinggi untuk pertama kalinya setelah hampir delapan tahun lalu. Dalam dialog tingkat tinggi itu, kedua negara bersepakat perang dagang akan membawa dampak negatif bagi perekonomian di seluruh dunia.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang Taro Kono setelah dialog tingkat tinggi dengan Tiongkok, Senin (16/4/2018). Dialog ini menjadi yang pertama dilakukan kedua negara dalam hampir delapan tahun terakhir.

"Kami telah memiliki pemahaman yang sama bahwa perang dagang, tidak peduli negara mana yang melakukannya, akan berdampak besar terhadap kemakmuran ekonomi internasional," paparnya, seperti dilansir dari Reuters.

Dalam pertemuan itu, Kono bertemu dengan Penasihat Negara dan Menlu Tiongkok Wang Yi. 

Seperti diketahui, Tiongkok sedang berada di ambang perang dagang dengan AS. Kedua negara telah saling membalas kebijakan impor masing-masing negara sejak akhir Maret 2018.

Kono juga mengungkapkan peluang kerja sama antara Jepang dengan Tiongkok dalam proyek Belt and Road Initiative, yang digadang-gadang sebagai Jalur Sutra modern. Lewat proyek yang diluncurkan pada 2013 itu Tiongkok berambisi menghubungkan Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika melalui jalur darat dan laut.

Wang menuturkan perubahan iklim ekonomi turut menghadirkan peluang-peluang baru.

"Setelah membuka pertemuan ini, kami berdua berada di awal baru untuk mendiskusikan kerja sama masa depan yang diharapkan dapat membawa pertumbuhan ekonomi bagi kedua negara," jelasnya.

Wang sekaligus menjadi Menlu China pertama yang menyambangi Jepang dalam konteks hubungan bilateral dalam sembilan tahun terakhir. Selain membahas soal ekonomi, keduanya juga membicarakan isu Korea Utara.

Sumber : Reuters/Bisnis Indonesia