Advertisement

Poin Penting Pasca-perundingan AS-Iran di Islamabad

Newswire
Senin, 13 April 2026 - 09:57 WIB
Sunartono
Poin Penting Pasca-perundingan AS-Iran di Islamabad Bendera Iran.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Upaya meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah perundingan panjang di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Meski sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan, kedua pihak masih berselisih tajam pada isu strategis seperti nuklir dan penguasaan jalur energi global.

Kebuntuan ini terjadi setelah negosiasi maraton selama sekitar 24 hingga 25 jam pada Sabtu (11/4/2026) yang melibatkan delegasi tingkat tinggi kedua negara. Dari pihak AS hadir Wakil Presiden JD Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Sementara Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Advertisement

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Bagaei, menyebut masih ada perbedaan mendasar dalam dua hingga tiga isu krusial, sehingga kesepakatan tidak tercapai.

Konflik ini sendiri kembali memanas sejak akhir Februari, ketika serangan militer yang melibatkan AS dan Israel menargetkan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Serangan tersebut memicu balasan dari Teheran berupa serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk target yang berkaitan dengan kepentingan militer AS.

Batasi Pergerakan Kapal

Situasi dengan cepat berkembang menjadi krisis regional, terutama setelah Iran membatasi pergerakan kapal di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Dampaknya, harga minyak global sempat bergejolak dan meningkatkan kekhawatiran pasar internasional.

Dalam masa gencatan senjata, Iran mengajukan 10 poin tuntutan, termasuk penghentian total operasi militer AS, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pengakuan hak pengayaan uranium. Teheran juga menegaskan ingin mempertahankan kontrol strategis di Selat Hormuz.

Proposal Trump

Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump mengajukan proposal 15 poin yang menitikberatkan pada penghentian program nuklir Iran, pembongkaran fasilitas rudal, serta jaminan keterbukaan jalur pelayaran energi global.

Perbedaan pendekatan menjadi ganjalan utama. Iran menginginkan kesepakatan permanen yang menyentuh akar masalah, sementara AS memilih langkah bertahap dengan tekanan maksimal di sektor keamanan dan nuklir.

Ketegangan Meningkat

Ketegangan semakin meningkat setelah serangan udara Israel di kawasan Dahiyeh, selatan Beirut, Lebanon, sehari setelah gencatan senjata disepakati. Iran menilai serangan tersebut mencederai semangat perundingan, meski Washington menegaskan hal itu di luar kesepakatan.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bahkan memperingatkan bahwa eskalasi di Lebanon dapat membuat negosiasi menjadi sia-sia.

Meski gagal mencapai kesepakatan, kedua pihak masih membuka peluang dialog lanjutan. Trump menyebut pembicaraan berjalan cukup baik meski isu nuklir belum menemukan titik temu.

Peluang Perdamaian

Pengamat hubungan internasional, Andrea Abdul Rahman Azzqy, menilai peluang kesepakatan tetap ada jika Iran mendapatkan jaminan keamanan dan kedaulatan.

"Jadi, titik tengahnya dicapai, ya, kalau Iran mendapatkan jaminan keamanan dan kedaulatan," ujarnya.

Menurutnya, solusi realistis untuk isu Selat Hormuz adalah pengawasan bersama di bawah kerangka internasional, bukan dominasi sepihak salah satu pihak.

Pakistan Komitmen Juru Damai

Sementara itu, Pakistan menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi dialog. Tekanan internasional pun diperkirakan akan terus meningkat mengingat pentingnya stabilitas kawasan terhadap pasokan energi global.

Gencatan senjata dua pekan ini dinilai bukan akhir konflik, melainkan awal fase negosiasi yang lebih kompleks. Masa depan kawasan kini bergantung pada kesediaan kedua negara untuk menemukan titik temu di tengah tarik-menarik kepentingan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Museum DIY Dinilai Sepi Kolaborasi, DPRD Dorong Peran Edukasi

Museum DIY Dinilai Sepi Kolaborasi, DPRD Dorong Peran Edukasi

Jogja
| Senin, 13 April 2026, 11:17 WIB

Advertisement

Kanada Negara Paling Ramah 2026, Indonesia Peringkat 33

Kanada Negara Paling Ramah 2026, Indonesia Peringkat 33

Wisata
| Minggu, 12 April 2026, 15:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement