Modus Lempar Paket ke Dalam Lapas Digagalkan, Diduga Berisi Sabu
Lapas Kelas I Semarang menggagalkan penyelundupan diduga sabu dan ratusan butir obat melalui modus pelemparan paket dari luar.
Ilustrasi - Pengemis/Kemsos.go.id
Harianjogja.com, JAKARTA—Bharat Jain dari India menjadi pengemis terkaya di dunia. Dia memiliki kekayaan bersih nyaris Rp15 miliar.
Dilansir dari Financial Express, Kamis (20/7/2023), perjalanan Bharat Jain dari yang sederhana hingga menjadi pengemis kaya raya sungguh luar biasa.
Lahir dari keluarga yang terbatas secara finansial, dia tidak dapat mengejar pendidikan formal, yang membatasi prospeknya untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil.
Terlepas dari kendala ini, Bharat Jain berhasil menciptakan kehidupan untuk dirinya dan keluarganya melalui profesinya yang tidak lazim.
Dengan kekayaan bersih US$1 juta atau sekitar Rp15 miliar, pendapatan Bharat Jain dari mengemis sangatlah banyak. Penghasilan bulanannya berkisar antara Rs60.000-Rs75.000 atau sekitar Rp10 juta hingga Rp 13 juta.
Baca juga: Kepala Dinas Krido Tersangka Tanah Kas Desa, Sultan Jogja: Dia Tega, Saya Juga Tega
Dia menginvestasikan hasil mengemisnya di bidang real estate. Dia juga memiliki flat dua kamar tidur di Mumbai dan dua toko di Thane yang menghasilkan pendapatan sewa bulanan sebesar Rs30.000 atau sekitar Rp5 juta.
Dalam rentang waktu 10 hingga 12 jam, dia berhasil mengumpulkan sekitar Rp450.000 hingga Rp500.000 per hari.
Bharat Jain adalah pria yang sudah menikah dan ayah dari dua putra. Dedikasinya untuk memastikan anak-anaknya mengenyam pendidikan patut diacungi jempol dan keduanya berhasil menyelesaikan studinya. Pencapaian ini merupakan bukti ketangguhan Bharat Jain dan tekadnya untuk memutus lingkaran kemiskinan.
Terlepas dari kekayaannya yang besar dan sumber pendapatan alternatifnya, Bharat Jain terus terlihat mengemis di jalanan Mumbai. Pilihannya untuk bertahan dalam pekerjaan ini, terlepas dari permintaan anggota keluarganya, cukup membingungkan.
Banyak yang berpendapat bahwa dedikasinya untuk mengemis didorong oleh kombinasi kebiasaan, rasa kebersamaan dengan sesama pengemis, dan kepuasan emosional yang dia peroleh dari interaksinya dengan orang-orang yang memberinya sedekah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Lapas Kelas I Semarang menggagalkan penyelundupan diduga sabu dan ratusan butir obat melalui modus pelemparan paket dari luar.
Komisi Eropa menyetujui penjualan 51% saham Everlence milik Volkswagen kepada Bain Capital dalam transaksi senilai €7,4 miliar
Film Istimewa, drama keluarga yang terinspirasi dari kisah nyata enam anak penyandang disabilitas, menggelar special screening di Empire XXI Cinema Yogyakarta,
TNI mengerahkan prajurit, pesawat Hercules, dan KRI untuk membantu evakuasi serta distribusi logistik pascagempa di NTT.
Bangladesh resmi menggantikan India di FIFA ASEAN Cup 2026. BFF menyebut kesempatan menghadapi lawan lebih kuat menjadi alasan utama menerima undangan turnamen.
DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam membuka ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menembus ekosistem industri kreatif nasional.