Krisis Energi Landa Sejumlah Negara, Indonesia Aman?

Petugas mengecek instalasi di PLTP Kamojang, Garut, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021). Pertamina menargetkan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada tahun 2030 diantaranya melalui pemanfaatan energi rendah karbon dan efisiensi energi sebagai komitmen perseroan terhadap implementasi Environmental, Social and Governance (ESG). ANTARA FOTO - Indrianto Eko Suwarso
11 Oktober 2021 07:27 WIB Muhammad Ridwan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Negara-negara di belahan dunia tengah mengalami krisis energi karena kurangnya pasokan untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, Indonesia saat ini dinilai masih dapat dikatakan aman dari kondisi krisis energi.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto mengatakan dalam hal ketahanan energi nasional, terdapat empat aspek yang perlu diperhatikan yaitu adalah ketersediaan energi, keterjangkauan harga energi, kemampuan akses terhadap energi, dan energi yang ramah.

Dalam hal ini, terdapat 5 tingkat kondisi energi dari penilian aspek tersebut yakni sangat rentan dengan skala nilai 0—1,99; rentan dengan skala nilai 2—3,99; kurang tahan dengan skala nilai 4—5,99; tahan 6—7,99; dan sangat tahan 8—10.

"Indeks ketahanan energi kita [Indonesia] dari 4 variabel itu kita ada di angka 6,57 dikategori tahan," katanya dalam webinar 'Krisis Energi Mulai Melanda Dunia, Bagaimana Strategi RI?', Minggu (10/10/2021).

Djoko mengatakan, nilai ketahanan energi Indonesia sejak 2014 silam setiap tahunnya mengalami tren yang meningkat. Capaian nilai ketahanan energi nasional pada 6,57 merupakan yang tertinggi sejak lima tahun ke belakang.

Adapun, pada 2014 nilai ketahanan energi Indonesia hanya berada pada 5,82 atau kurang tahan, namun meningkat pada tahun selanjutnya menjadi 6,17, 6,38 pada 2016, 6,4 pada 2017, 6,43 pada 2018.

"Sejak tahun lalu Presiden mengumpulkan rapat terbatas dengan adanya Covid-19 kemarin kemungkinan akan terganggu supply dan demand-nya, ternyata harga juga seperti itu, dan untungnya sekarang sudah membuat Grand Strategi Energi Nasional," jelasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia