Mau Jual Mobil Bekas? Begini Menghitung Harganya

Pedagang mobil bekas menunggu calon pembeli di WTC Mangga Dua, Jakarta, Jumat (9/8 - 2019). / ANTARA
10 Juli 2021 17:27 WIB Muhammad Khadafi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Saat hendak menjual atau membeli mobil bekas, satu hal yang harus diperkirakan dengan benar, yakni harga jualnya. Apabila penjual mematok harga yang terlalu tinggi, tentu akan sulit mencari konsumen. Sebaliknya, jika harga jual terlalu rendah, penjual akan rugi. 

Mengutip situs resmi Daihatsu, Sabtu (10/7/2021), menghitung penyusutan mobil bekas adalah prosedur perhitungan nilai aset selama masa penggunaan. Setiap pemilik mobil atau perusahaan harus tahu soal perhitungan ini agar lebih paham tentang penyusutan nilai atau harga jual mobil yang dimiliki.

Seperti kita tahu, mobil termasuk salah satu aset jangka panjang yang sifatnya bakal mengalami depresiasi. Apa itu depresiasi? 

Depresiasi mobil adalah selisih harga mobil saat Anda membeli dan menjualnya alias penyusutan nilai. Itulah sebabnya ketika ingin membeli mobil, Anda harus lebih fokus pada potensi depresiasi mobilnya ketimbang seberapa hemat bahan bakar sampai performa mesin. 

Orang yang paham akan konsep penyusutan nilai mobil cenderung memilih untuk beli mobil bekas. Sebab, mobil baru memiliki potensi penyusutan harga yang jauh lebih tinggi. Dengan demikian saat mobil dijual, kerugian yang bakal ditanggung juga bakal lebih besar. 

Bahkan penyusutan nilai mobil baru sudah terjadi setelah pembeli meninggalkan dealer mobil bahkan dalam waktu kurang dari 5 menit. Ketika roda mobil sudah menyentuh aspal jalan untuk pertama kali, saat itulah harga mobil berubah jadi harga grosiran. Artinya, nilai kebaruan mobil sudah hilang. 

Biasanya, nilai mobil akan anjlok sebanyak 15 sampai 20 persen pada tahun pertama. Setelah itu, penyusutan nilainya akan melambat. Namun perhitungan nilai depresiasi mobil bekas tergantung oleh beberapa faktor, seperti; 

1. Merek mobil 
Merek mobil jadi faktor utama cepat atau lambatnya penyusutan nilai mobil. Reputasi serta kualitas yang sudah dikenal luas membuat potensi penyusutan cenderung lambat. 

2. Warna mobil 
Tak banyak orang menyadari ini, warna mobil dapat memengaruhi cepat atau lambatnya potensi penyusutan mobil. Sangat disarankan untuk memilih mobil dengan warna dasar seperti hitam, putih dan merah meskipun Anda tak menyukainya. Sebab jika mobil ingin dijual, maka peminatnya masih banyak ketimbang warna-warna lainnya. 

3. Kondisi mobil 
Mobil yang dirawat dengan baik, bodi mulus hingga jarak tempuh yang tidak terlalu jauh cenderung memiliki nilai jual yang lebih tinggi.  

4. Menentukan harga
Mobil-mobil yang dikeluarkan dalam edisi terbatas biasanya punya harga jual yang tinggi. Peminatnya pun cukup banyak ketimbang mobil biasa. Hal ini sangat berpengaruh pada prinsip utama dalam pasar otomotif, yaitu permintaan dan penawaran. 

Lebih lanjut, dalam perhitungan penyusutan nilai mobil bekas ada sejumlah metode, mulai dari penurunan aktiva tetap garis lurus hingga aktiva tetap menurun ganda. Namun pada kendaraan seperti mobil, hampir semua pebisnis mobil memiliki patokan yang sama dalam menghitung penyusutan nilai mobil. 

Pada mobil baru, penyusutan nilai mobil berkisar antara 15–20 persen pada tahun pertama. Sementara itu kalau Anda beli mobil bekas, penyusutan nilai mobil hanya 10-15 persen. 

Kemudian pada tahun kedua, penyusutan harganya sekitar 8–10 persen. Semakin tua mobilnya, maka depresiasi juga semakin kecil. 

Potensi depresiasi mobil bekas yang minim ini termasuk sebagai keunggulan dari membeli mobil bekas. Dengan membeli mobil bekas, berarti Anda memiliki kendaraan yang depresiasinya tidak terlalu besar.

Meskipun namanya mobil bekas, tapi Sahabat tidak perlu khawatir soal kualitasnya. Apalagi saat ini sudah banyak dealer dan marketplace yang menyediakan mobil bekas dengan kondisi baik. Apabila Anda tekun mencari, mobil bekas dengan jarak tempuh kecil, bodi dan mesin bagus bisa Anda temukan. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia