Advertisement
Cerita Muslim di Hong Kong Berpuasa di Tengah Pandemi
Imam Besar Hong Kong Muhammad Arshad. - Istimewa
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Hong Kong merupakan kota yang menjunjung keberagaman. Karenanya, ada banyak pilihan tempat makan dan toko halal bagi para wisatawan dan umat muslim lokal. Hong Kong juga memiliki sejumlah masjid dan musala di banyak tempat.
Umumnya, selama bulan puasa seluruh aktivitas akan terpusat di masjid. Mulai dari berbuka puasa, salat berjamaah hingga saling berbagi kebutuhan di antara masyarakat setempat. Setidaknya ada lima masjid besar di Hong Kong, yakni Masjid Kowloon, Masjid Al Ammar, Masjid Jamie, Masjid Chai Wan dan Masjid Stanley.
Advertisement
Imam Besar Hong Kong Muhammad Arshad mengungkapkan Ramadan di Hong Kong terasa berbeda sejak pandemi Covid-19 melanda tahun lalu. Pada 2020, masjid ditutup sekitar setengah bulan Ramadan. Setelahnya, masjid dibuka namun dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, yang mana para jamaah diwajibkan menjaga jarak, dan mengenakan masker selama shalat di masjid.
Baca juga: 3 Hari, Iuran di Masjid Jogokariyan untuk Beli Kapal Selam Terkumpul Rp1 Miliar
“Ramadan tahun lalu dan tahun ini memang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, kami masih melaksanakan salat Tarawih di dalam masjid, dengan protokol kesehatan yang ketat termasuk menjaga jarak," kata Arshad melalui keterangan pers, Jumat (30/4/21).
Masjid juga tidak lagi menggelar buka puasa, yang mana biasanya para jamaah membawa makanan dan minuman untuk berbuka puasa, dan juga untuk dibagikan ke warga setempat.
Sebelum pandemi, jamaah salat tarawih di Masjid Raya Kowloon biasanya diikuti 1.500-2.000 orang. Namun sejak pandemi, salat tarawih hanya diikuti staf masjid.
Pandemi juga memengaruhi restoran halal di Hong Kong dan mengubah strategi bisnis restoran selama Ramadan.

Ma's Restaurant, salah satu restoran China halal di Hong Kong, menerapkan sistem reservasi terlebih dulu bagi pelanggan sekaligus memesan makanan untuk berbuka puasa. Kini, kebanyakan orang merasa lebih aman untuk bersantap di rumah lantaran ada pembatasan pergerakan dan penerapan protokol kesehatan.
Ma, pemilik Ma’s Restaurant, mengatakan dirinya mulai lebih berfokus pada pengiriman menggunakan operator dan pengambilan sendiri pesanan oleh pelanggan. "Itu karena mereka merasa lebih nyaman saat makan di rumah mereka sendiri.”
Imam Baihaqi, warga negara Indonesia yang bekerja di Dompet Dhuafa Hong Kong, mengaku banyak cerita menarik terjadi selama puasa Hong Kong. Sebelum pandemi Covid-19, salah satu tradisi di sana adalah mengadakan kampanye berbagi dengan komunitas nonmuslim tentang Ramadan dan praktik puasa.

"Kami akan menggelar acara buka puasa dan tarawih di mana kami mengundang beberapa ustad dan ustadzah dari Indonesia untuk memberikan ceramah di aula yang kami sewa dan satu ritual besar lainnya, shalat Idul Fitri di taman-taman besar yang ada di Hong Kong,” ujar Imam Baihaqi.
Namun karena pandemi, banyak dari aktivitas fisik itu beralih ke platform online. Imam telah tinggal di Hong Kong selama lebih dari dua tahun. Dalam penugasannya, ia membawa serta istri dan ketiga anaknya ke Hong Kong.
Bagi Imam, kepindahannya ke Hong Kong merupakan kesempatan baginya untuk melihat dunia dan menjangkau sesama muslim Indonesia yang bermukim di Hong Kong.
Menurutnya, Hong Kong bagaikan sebuah bejana, di mana ia bisa melihat dan merasakan budaya berbeda. Imam juga melihat bahwa masyarakat Hong Kong sangat terbuka akan agama dan budaya lain.
Tak hanya itu, Imam juga sangat mengapresiasi betapa dinamisnya sekolah di Hong Kong. Anak perempuan tertuanya yang sudah masuk SD juga berbagi hal yang sama, dimana dia diberi kebebasan untuk shalat di sekolah oleh para guru.
”Beberapa teman sekolahnya penasaran dengan doanya. Dia kemudian memberikan penjelasan dan mereka memahami serta menghormati rutinitasnya,” jelas Imam.
Ia juga menyoroti bagaimana tempat wisata internasional seperti Hong Kong Disneyland dan Ocean Park telah menyediakan restoran halal dan mushola.
Meski ada banyak hal yang berubah kali ini, Ramadan tetaplah bulan yang menyerukan umat Islam untuk berbagi dan menyatu dengan semua umat manusia secara keseluruhan tanpa memandang latar belakang agama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Trump Ingin Konflik Iran Cepat Usai, Tekanan Justru Meningkat
- Pelecehan Berlangsung 8 Tahun, DPR Kejar Keadilan Korban Syekh AM
- Sebelum ke Beijing, Trump Kejar Gencatan Senjata dengan Iran
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
Advertisement
Jogja Diserbu Wisatawan Pengeluaran Sekali Jalan Tembus Jutaan
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Mercedes Diminta Tak Jemawa Usai Dominasi GP Australia dan China
- Jadwal KSPN Malioboro ke Obelix Sea View dan Pantai Ndrini 26 Maret
- Sampah Lebaran Sleman: Volume TPST Turun, Waspada Lonjakan 15 Persen
- OJK dan Bareskrim Polri Tangkap Tersangka Pidana Perbankan BPR DCN
- Astra Motor Yogyakarta Tanam 1.000 Pohon Aren di Desa Bonosari Kebumen
- Jumlah Penumpang Bandara YIA Melonjak 31 Persen Saat Puncak Arus Balik
- Pemkot Jogja Kaji WFH Bagi ASN Guna Tekan Biaya Operasional Kendaraan
Advertisement
Advertisement







