Pemerintah Indonesia Terlalu Liberal, Efeknya UMKM Kalah Bersaing

Pebisnis pakaian memaksimalkan aplikasi belanja online (Shopee) untuk menarik konsumen selama pandemi virus Corona. - Shopee
18 Maret 2021 01:37 WIB Jaffry Prabu Prakoso News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menilai berbagai perjanjian yang dilakukan pemerintah mulai dari Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) hingga perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement/FTA ditambah pasar digital melalui e-commerce membuat mereka kalah bersaing.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengatakan bahwa Indonesia yang terlalu liberal sehingga berdampak pada produk-produk dalam negeri didominasi impor. Di sisi lain, pemerintah dianggapnya minim persiapan.

“Ternyata kan di negara lain ada entry barrier-nya [pembatasan impor]. Di kita tidak ada. Hanya di sisi pajak dinaikkan dan seterusnya,” katanya saat dihubungi, Rabu (17/3/2021).

Ikhsan menjelaskan bahwa itu membuat barang impor membanjiri Indonesia dengan harga murah dan kualitas baik. Akan tetapi itu tidak bisa dilakukan UMKM Indonesia karena ada entry barrier dan dukungan dari Negara minim.

Oleh karena itu, pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan yang ada. Industri hulu harus disiapkan. Dengan begitu, bisa meningkatkan kualitas dan produk yang ditawarkan bisa bersaing.

“Presiden juga sudah bilang benci produk asing dan cintai produk dalam negeri. Makanya dievaluasi semua kebijakan yang tidak memihak, apalagi yang sangat liberal terhadap produk asing. Harganya murah, produknya bagus. Habislah kita,” jelasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta Kementerian Perdagangan mendukung program bangga produk buatan Indonesia dan menggaungkan benci produk luar negeri. Kepala Negara meminta kementerian tersebut mempunyai kebijakan strategis untuk mengembangkan produk nasional seperti mendukung program bangga buatan Indonesia.

Selain itu, Presiden meminta agar pusat perbelanjaan memberikan ruang bagi brand-brand lokal. Menurutnya, lokasi strategis mesti diberikan untuk brand dalam negeri. Sebaliknya brand asing ditempatkan pada wilayah tidak strategis.

“Ini harus mulai digeser. Mereka [brand luar negeri] digeser ke tempat yang tidak strategis. Tempat strategis yang baik diberikan ruang untuk brand-brand lokal,” katanya, Kamis (4/3/2021).

Sumber : Bisnis.com