Pertemuan Airlangga dan Prabowo Jadi Sinyal Koalisi 2024

Ketua Umum Partai GolkarAirlanggaHartarto bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Jawa Barat pada Sabtu (13/3 - 2021) / Instagram
15 Maret 2021 15:17 WIB Rayful Mudassir News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menilai pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Hambalang bernuansa politis.

Airlangga bersama sejumlah pengurus Golkar diketahui berkunjung ke kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor pada Sabtu (13/3/2021). Pertemuan ini juga dihadiri oleh sejumlah pengurus dua partai besar tersebut.

Dia menilai boleh jadi kedua Ketum partai tersebut membahas tentang pemerintahan. Pasalnya, Airlangga dan Prabowo sama-sama menjadi pembantu Presiden Jokowi di kabinet Indonesia Maju. Kendati begitu, bukan tidak mungkin keduanya juga melakukan manuver menjelang Pemilu 2024.

BACA JUGA : Golkar DIY Gaungkan Airlangga Hartarto Capres 2024

“Jangan kaget bahwa manuver pertemuan antar ketua umum partai, ambisi akan lebih besar di periode kedua rezim. Sulit untuk kita melepaskan imej pertemuan itu tidak terkait 2024 walaupun bisa saja pertemuan dua menteri,” kata Yunarto saat dihubungi Bisnis, Minggu (14/3/2021).

Yunarto menuturkan pertemuan pada Sabtu pekan kemarin itu dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, dalam jangka pendek pertemuan ini sebagai upaya menguatkan koalisi di bawah pemerintahan Jokowi - Ma'ruf hingga 2024.

Bahkan bukan tidak mungkin pertemuan ini telah direstui oleh Jokowi. Hal ini lanjutnya, menunjukkan bahwa tercipta soliditas antarpartai di kabinet untuk menudukung pemerintahan.

Di sisi lain, keduanya diindikasi membuka komunikasi untuk kemungkinan koalisi 2024. Kondisi ini cukup memungkinkan lantaran bongkar pasang koalisi dan Capres Cawapres 2024 masih cukup terbuka.

BACA JUGA : Airlangga Hartarto Klaim Ekonomi Indonesia Akan Bangkit

“Kita tahu dua partai ini ketika digabung menjadi suara besar karena [Gerindra] partai pemenang kedua dan [Golkar] ketiga. Sangat mungkin dalam konteks mesin politik keduanya dianggap punya peluang kuat berpasangan,” ujarnya.

Dilihat dari kedua sosok itu, Airlangga dinilai masih memiliki pekerjaan rumah untuk mendongkrak sisi personalnya meski Golkar memiliki suara terbesar ketiga pada pemilihan dua tahun lalu.

Hal ini berbeda dengan Prabowo Subianto yang memiliki modal besar elektabilitas tinggi serta menjadi ketua umum di partai terbesar kedua di negeri.

“Bukan tidak mungkin muncul poros baru di luar PDIP walaupun masih jauh spekulasi ke sana,” ujar Yunarto.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia