Setelah Prabowo, Hotman Bertemu Hashim Djojohadikusumo

Hotman Paris Hutapea menerima kunjungan Hashim Djojohadikusumo di kediamannya, Selasa (1/12/2020) - Tangkapan Layar Instagram/@hotmanparisofficial
01 Desember 2020 14:57 WIB Aprianus Doni Tolok News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea menemui Hashim S. Djojohadikusumo, adik dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, pada hari ini, Selasa (1/12/2020).

Hal itu dipublikasikan oleh sang pengacara melalui unggahan dalam akun Instagram pribadinya @hotmanparisofficial, Selasa (1/12/2020). Dalam foto itu, Hotman berpose bersama Hashim di halaman garasi rumah pria yang dijuluki pengacara Rp30 miliar tersebut.

Hotman menuliskan pertanyaan ihwal pertemuan tersebut. Namun untuk jawabannya, dia meminta warganet untuk menunggu kabar selanjutnya.

“Hari ini 1 Desember 2020 Hotman ketemu dgn klien lama: Konglo Hasym (Adik Prabowo) di ruang meeting bebas Corona di Garasi Rumah Hotman Paris! Heh ada apa sampai Konglo datangin Hotman?? Tunggu berita lanjutan!!! Tunggu akan in action soon,” isi unggahan tersebut.

Sebelumnya, Hotman Paris bersama dua anaknya diketahui mengunjungi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada Kamis (26/11/2020). Sama seperti kunjungan Hashim pada hari ini, Hotman belum memerincikan ihwal tujuan pertemuan itu.

“Saat Hotman dgn 2 anak kunjungin Prabowo di rumah beliau,” demikian keterangan foto yang diunggah di akun Instagram @hotmanparisofficial pada Kamis (26/11/2020).

Namun, banyak warganet menduga kunjungan tersebut masih ada kaitannya dengan kasus korupsi ‘benur lobster’ yang melibatkan Menteri KKP sekaligus politisi partai Gerindra Edhy Prabowo.

Seperti diketahui, Edhy Prabowo dan rombongan ditangkap KPK saat baru tiba dari Amerika Serikat (AS).  Dia ditangkap dalam kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster.

Sebagai penerima suap, yakni Edhy Prabowo, Safri, Andreau Pribadi Misata, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amiril Mukminin. Sedangkan pemberi suap, yaitu Suharjito. KPK menduga Edhy menerima total Rp9,8 miliar dan 100 ribu dolar AS dalam kasus tersebut.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia