Karena Corona, Jamu Asal Klaten Bisa Menembus Pasar Korsel dan Hongkong

Ibu-ibu membuat serbuk jamu instan di Kebonagung, Jarum, Bayat, Klaten, Senin (9/3/2020). Serbuk jamu instan dari daerah tersebut dicari pelanggan seiring merebaknya corona. - JIBI/Solopos/Ponco Suseno
10 Maret 2020 16:27 WIB Ponco Suseno News Share :

Harianjogja.com, KLATEN - Jamu yang diproduksi ibu-ibu di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, menembus pasar Hong Kong dan Korea. Dalam tiga tahun terakhir, ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Matahari di Dukuh Kebonagung RT 005/RW 001 Bayat ini mengolah empon-empon menjadi serbuk jamu instan.

Usaha memproduksi macam-macam serbuk jamu instan ini sempat terpuruk pada mulanya. Bukannya memperoleh keuntungan, usaha ibu-ibu di Dukuh Kebonagung itu mengalami kerugian.

Selain rugi, usaha yang dipimpin Sri Mulyani ini juga sering dikomplain pelanggan. Rasa yang dihasilkan dari serbuk jamu saat diseduh dinilai sangat pahit. Begitu ditambah gula, rasa minuman jahe justru teramat manis.

Tak putus asa. Itulah yang dilakukan anggota KWT Matahari Kebonagung. Komplain dari pelanggan di sekitar dukuhnya itu dijadikan sebagai cambuk untuk maju.

Sebanyak 20-an anggota KWT Matahari didampingi penyuluh pertanian lapangan (PPL) di desa setempat terus memperbaiki kualitas serbuk jamunya. Selain mengevaluasi rasa, ibu-ibu di Kebonagung itu juga menggelar studi banding ke daerah lain, termasuk ke Wonogiri.

Lambat laun, anggota KWT mampu menciptakan resep serbuk jamu instan yang dapat diterima di pasaran. Serbuk jamu yang diproduksi terdiri dari tujuh macam, seperti kencur, jahe merah, jahe emprit, temu lawak, kunyit putih, kunyit mangga, sere.

Berbagai serbuk jamu itu diproduksi di rumah pimpinan KWT Matahari Kebonagung, yakni Sri Mulyani.

Pucuk dicinta ulam tiba. Anggota KWT Matahari Kebonagung memperoleh kesempatan mewakili Kabupaten Klaten di festival jamu dan kuliner tingkat Jateng di Cilacap, akhir tahun 2019.

Tak disangka, produk serbuk jamu instan bikinan KWT Matahari Kebonagung memperoleh juara I mengalahkan 34 peserta dari kabupaten/kota lainnya dan 14 kuliner di Jateng. Ini menjadi awal manis serbuk jamu instan dari Kebonagung, Jarum.

“Sejak saat itu, kami sering memperoleh order-an. Tak hanya di Klaten, tapi ada yang dari luar daerah hingga luar Jawa. Produk kami semakin dikenal masyarakat las. Kami optimalkan promosi melalui media sosial (medsos) dan WhatsApp Group (WAG) juga,” kata Sri Mulyani, saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (9/3/2020).

Kemenangan dengan merebut juara I di festival jamu tingkat Jateng itu menjadi titik balik usaha yang digeluti KWT Matahari Kebonagung. Produk jamu dari KWT yang digawangi ibu-ibu rumah tangga ini semakin melejit saat merebaknya virus corona di berbagai penjuru dunia Internasional.

“Adanya virus Corona saat ini, produk kami juga dipasarkan hingga Korea Selatan (satu kali) dan Hong Kong (dua kali). Jamu yang kami bikin ini termasuk bagian empon-empon yang dapat mendukung ketahanan tubuh. Saat banyak yang butuh, produk yang kami bikin sudah dapat diterima masyarakat luas. Stok yang kami miliki pun sampai saat ini sudah habis terutama jahe emprit dan jahe merah],” katanya.

Jamu Klaten Sebelum Corona

Sri Mulyani mengatakan produksi serbuk jamu instan di KWT Kebonagung mengalami peningkatan signifikan saat merebaknya kasus corona. Saat ini produksi serbuk jamu instan menghabiskan 35 kilogram jahe setiap bulannya. Sebelum kasus corona merebak, produksi serbuk jamu hanya menghabiskan 15 kilogram jahe per bulan.

“Di waktu sebelumnya [sebelum corona merebak], kami memproduksi dua kali dalam satu bulan dengan bahan utama 15 kilogram jahe. Saat ini, kami memproduksi 35 kilogram jahe dalam sekali olahan. Andalan kami memang serbuk jahe karena berkhasiat memperkuat ketahanan tubuh. Saat ini, kami ingin menggabungkan empon-empon yang pahit menjadi satu [kunyit, jahe, temulawak, dan sere]. Ini merupakan permintaan pelanggan saat ini,” katanya.

Serbuk jamu instan bikinan KWT Kebonagung dikenal tidak begiu pahit saat diseduh. Proses pembuatan serbuk jahe di KWT Matahari Keonagung diawali dengan memarut jahe untuk diambil sari-sarinya dengan cara diperas. Setelah itu, diendapkan selama empat jam. Berikutnya dimasak hingga mendidih. Pati dari hasil endapan itu dibuang guna mengurangi rasa pahit.

“Selain tahan lama, dengan dibikin serbuk ini, rasa pahitnya tidak begitu terasa. Rasanya lebih mantap. Yang pasti, sudah tidak ada ampasnya. Omzet dari penjualan serbuk jamu ini senilai Rp2 juta per bulan. Harga jual serbuk jamu ini berkisar Rp15.000-Rp35.000 per bungkus atau per botol. Saat ini, kendala yang dihadapi dalam pembuatan serbuk jamu, yakni langkanya jahe emprit dan jahe merah di pasaran,” katanya.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Jarum, Irwan, mengatakan empon-empon sempat mudah diperoleh di Desa Jarum. Hal ini terkait dengan kegemaran warga mengoptimalkan lahan pekarangan dengan menanam empon-empon.

Di Jarum terdapat enam KWT yang sering mengoptimalkan pekarangan rumah ditanami tanaman yang memiliki nilai ekonomis. Masing-masing KWT di Jarum, seperti KWT Berkah Dukuh Pendem, KWT Matahari di Dukung Kebonagung, KWT Srikandi di Dukuh Jarum, KWT Bunga Cinta di Dukuh Kalisobo, KWT Cempaka di Dukuh Tunggul, dan KWT Melati di Dukuh Rirjan.

“Banyak yang menanam empon-empon juga. Tapi, sekarang stoknya memang lagi menipis,” katanya.

Aktivitas meracik jamu juga dilakukan anggota KWT Berkah di Dukuh Pendem. Di lokasi ini, KWT Berkah membikin jamu perpaduan dari kunir, jahe, dan asem.

“Harga jamu buatan kami biasanya berkisar Rp3.000-Rp10.000 per cup atau per botol. Omzet di sini bisa mencapai Rp1 juta. Kami juga pernah memperoleh juara harapan I saat mengikuti lomba Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) tingkat Kabupaten Klaten tahun 2019,” kata salah satu anggota KWT Berkah Dukuh Pendem, Yatmi Ratmatilah.

Sumber : JIBI/Solopos