Theresa May Sibuk Siapkan Transisi Pemerintahan Jelang Mundur

Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May meninggalkan lokasi konferensi pers setelah memberikan pernyataan tentang pengunduran dirinya di London, Inggris, Jumat (24/5/2019). - Reuters/Toby Melville
01 Juli 2019 03:07 WIB Nirmala Aninda News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Theresa May akan mundur dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris pada bulan depan.

Dengan sisa masa kepemimpinan selama tiga pekan, sang perdana menteri kini justru menjadi lebih sibuk daripada sebelumnya di tengah upayanya menyiapkan transisi pemerintahan dan meninggalkan jejak yang ambisius.

Pekan lalu, May terbang ke Jepang untuk menghadiri KTT G20, di mana dia mencoba membujuk Vladimir Putin untuk berhenti mengguncang dunia dan mendesak Donald Trump untuk mengatasi perubahan iklim.

May juga mengisyaratkan bahwa dia tidak akan menjadi penumpang gelap ketika dia bergabung kembali dengan Partai Konservatif.

Terkait dengan Brexit, May telah memperingatkan dia tidak akan patuh mengikuti perintah dari Boris Johnson atau Jeremy Hunt, dua pesaing untuk menggantikannya, dengan tuntutan mereka yakni membawa Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

"Pemerintahan terus berjalan seperti biasa. Saya masih memiliki sisa pekerjaan yang harus dipenuhi sebagai perdana menteri hingga saatnya tugas tersebut saya pindah tangankan ke penerus berikutnya," ujar May seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (30/6/2019).

May mengatakan, komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca Inggris hingga ke tingkat nol adalah contoh dari pekerjaan yang harus dia lakukan.

Inisiatif lain yang dia jagokan baru-baru ini termasuk upaya untuk meningkatkan perumahan, mereformasi aturan pernikahan, dan mengubah strategi penggunaan bantuan luar negeri.

Tapi aktivitasnya yang berlebihan juga menunjukkan bahwa dia tahu waktunya hampir habis dan mungkin merupakan pemulihan psikologis dari dampak syok saat kehilangan pekerjaan yang dia cintai.

May didorong untuk mundur sebagai pemimpin Partai Konservatif Inggris yang berkuasa bulan lalu setelah gagal tiga kali untuk mendapatkan kesepakatan Brexit melalui Parlemen.

Dalam sebuah pernyataan emosional di luar kantor Downing Streetnya, May mengumumkan dia sebenarnya enggan mengundurkan diri namun negara akan membutuhkan perdana menteri baru.

Saat ditanya kapan dia menyadari bahwa waktunya telah habis, May menjawab bahwa dirinya telah segala cara yang dia bisa pikirkan untuk mendapatkan kesepakatan Brexit melalui pemungutan suara di House of Commons, termasuk menawarkan untuk mengundurkan diri lebih awal dari yang direncanakan.

 "Sayangnya, bahkan cara itu tidak membantu," katanya.

Partai Konservatif sendiri nampaknya sudah tidak sabar menunggu May mengundurkan diri.

Pemilihan internal partai Tory untuk mencari pengganti sekarang sedang berlangsung, dengan Johnson dan Hunt, bersaing untuk jabatan teratas.

May akan tetap bekerja untuk konstituennya di distrik yang diwakilinya sejak 1997, dan bahkan bisa tetap berjuang untuk pemilihan umum berikutnya pada tahun 2022.

"Saya tentu akan terus sebagai anggota parlemen untuk Maidenhead, saya akan tinggal di Parlemen dan memainkan peran bagi konstituen saya sendiri. Saya berharap pemilihan berikutnya akan dilakukan pada tahun 2022 dan saya belum membuat keputusan terkait keikutsertaan dalam pemilihan berikutnya," kata May.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia