Advertisement
11 Pertanyaan dari Cak Nun untuk Capres dan Cawapres
Budayawan Emha Ainun Najib (tengah) saat berdialog dengan wartawan di sebuah rumah makan di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Rabu (3/4/2019). - JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.
Advertisement
Harianjogja.com, SEMARANG — Budayawan Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun belum memutuskan arah dukungannya kepada calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres).
Cak Nun memiliki 11 pertanyaan sederhana yang diperuntukan bagi capres maupun cawapres. Ke-11 pertanyaan sederhana itu disampaikan Cak Nun saat bertatap muka dengan puluhan pewarta di Kota Semarang, Rabu (3/4/2019).
Advertisement
“Pertanyaan ini saya buat beberapa bulan kemarin, sebelum debat capres. Ada 45 poin yang saya buat untuk capres dan cawapres. Dari 45 poin itu saya rangkum jadi 11 pertanyaan. Seandaninya saya dilibatkan [menjadi panelis], ini pertanyaan yang akan saya ajukan,” ujar Cak Nun.
Ke-11 pertanyaan yang dibuat Cak Nun itu sebenarnya cukup sederhana karena berisi tentang dasar-dasar negara serta arah tujuan bangsa Indonesia. Meski demikian, membutuhkan pemahaman yang sangat mendalam untuk menjawab pertanyaan itu.
Seperti contoh, faktor apa yang melatarbelakangi Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, arti pemindahan kekuasaan sesuai alinea kedua Teks Proklamasi, pengertian negara kesatuan, target pemberantasan korupsi, hingga startegi yang akan diambil capres maupun cawapres untuk mengatasi rusaknya budaya birokrasi dan mentalitas pejabat.
Ke-11 pertanyaan itu, lanjut Cak Nun, belum pernah sama sekali diajukan langsung kepada pasangan calon (paslon) maupun pendukungnya yang terlibat kontestasi Pilpres 2019. Ia mengaku enggak melayangkan pertanyaan tersebut secara pribadi baik kepada paslon nomor urut 01 maupun 02.
“Saya ini bukan tipe orang yang suka nyelonong. Sudah ada media massa, media sosial [medsos]. Kalau mereka mau belajar, bisa buka di sana. Ideologi Kiai Kanjeng itu tidak pernah menawarkan diri. Makanya saya tidak pernah menawarkan diri,” ujar budayawan kelahiran Jombang itu.
Dalam kesempatan itu, Cak Nun juga menyebut bahwa bangsa Indonesia saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki aura pawang. Menurutnya, Indonesia damai jika presidennya punya aura pawang.
“Indonesia butuh pemimpin nasional yang benar-benar memahami kebutuhan sejarah bangsa, bukan sekadar memenuhi selera darurat rakyat dan survivalisme warga negara. Pemimpin yang memiliki kelengkapan ilmu, kewibawaan, kebijaksanaan, kekuatan, dan awu pawang,” ujar Cak Nun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Lapak Asik BPJS Ketenagakerjaan Kini Dilengkapi Antrean Digital
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- Sindikat Oplos LPG Subsidi Terbongkar, Keuntungan Rp1,3 Miliar Perhari
- Harga Pangan Global Naik Lagi, FAO Soroti Dampak Konflik Timur Tengah
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan bagi 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
Advertisement
Advertisement









