ANGGUK ISLAMI: Dianggap Kehilangan Ruh, tetapi Bakal Dikembangkan

Sejumlah penari Angguk Islami unjuk kebolehan di salah satu kegiatan menyambut Tahun Baru 2019 di Alun-Alun Wates, Kulonprogo, Senin (31/12/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
04 Januari 2019 13:25 WIB Jalu Rahman Dewantara News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pementasan perdana Tari Angguk Syariah, yang kemudian berganti nama menjadi Angguk Islami mengundang beragam respons dari khalayak dan pelaku seni tari. Ada yang suka, ada yang kecewa lantaran merasa ruh kesenian khas Kulonprogo itu malah luntur begitu dimodifikasi. Angguk Islami akan dikembangkan berbarengan dengan angguk konvensional yang telah diakui secara nasional. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Jalu Rahman Dewantara.

Nia Kushendar, 26, telah tiba di Alun-alun Wates, Kabupaten Kulonprogo, sejak Senin (31/12/2018) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Perempuan berkerudung ini ingin menyaksikan hiburan malam Tahun Baru 2019 yang Dinas Kebudayaan Kulonprogo.

Pada spanduk yang terpasang di sejumlah ruang publik di Kulonprogo, kegiatan menyambut tahun baru ini diberi tajuk Refleksi Budaya Akhir Tahun 2018. Tertulis jua, dr Hasto Mengajak Tahun Baruan dengan Mengaji di Alun-alun Wates. Hasto adalah Bupati Kulonprogo.

Acara ini, sesuai dengan yang dituliskan di spanduk, menampilkan sejumlah kegiatan. Selain pengajian sebagai pokok acara, ada hiburan musik Islami dari kelompok gambus berpadu musik modern, yang kemudian ditutup pesta kembang api. Nia, begitu perempuan itu dipanggil, tidak hanya datang untuk itu. Dia adalah penyuka tari tradisional dan ingin menyaksikan Tari Angguk Islami yang ditampilkan sebagai pengisi acara, meski tidak disebutkan di spanduk.

“Kemarin, denger-denger mau ada pementasan Tari Angguk Islami di sini, saya penasaran pengin nonton seperti apa,” ucap Nia.

Rasa penasaran Nia terjawab. Angguk Islami jadi ditampilkan. Namun, Nia kecewa lantaran perbedaan mencolok antara tarian kreasi baru yang mengakomodasi unsur religius itu dengan tari angguk biasa. Tiga pembeda yang paling kentara menurut Nia adalah kemasan busana, gerakan tari, dan iringan musik.

Pada Angguk Islami, penari mengenakan kostum tertutup dengan kerudung hitam membungkus kepala yang ditambah sebuah mahkota keemasan. Celana pendek sepaha yang biasa digunakan diganti dengan rok panjang bermotif batik. Gerakan pinggul dan pundak yang menjadi ciri khas tarian tersebut juga kurang terlihat. Alunan musik khas angguk diubah menjadi musik nuansa Timur Tengah yang diiringi grup gambus.

“Enggak tahu kenapa kok jadi merasa kehilangan makna tari angguk yang sebenarnya, topi [pet yang biasa dikenakan penari angguk] juga enggak ada, padahal kan itu unik, kacamata yang biasa dipakai juga enggak ada sama sekali, gerakan-gerakan khasnya yang goyang pinggul dan pundak juga tidak ada, aneh saja lihatnya meski memang masih keliatan kalau itu tari angguk sih,” ungkap perempuan yang berdomisili di Wates ini. 

Secara pribadi, Nia kurang menyukai Tari Angguk Islami karena menghilangkan kekhasan tari angguk konvensional. Meski begitu, dia tetap mengapresiasi upaya mengkreasikan tarian ini agar lebih bisa diterima di semua kalangan masyarakat.

“Kalau buat orang lain ya mangga aja enggak apa-apa, ini kan selera, tapi ya mungkin ini memang angguk yang ditujukan untuk ngisi acara kelompok tertentu seperti saat pengajian atau acara organisasi Islam gitu.”

Tanggapan berbeda diutarakan Yogi, 27. Menurut dia, Tari Angguk Islami dapat mengakomodasi para penari agar bisa mengisi acara-acara keagamaan, seperti pengajian. Tarian ini juga lebih sederhana dibandingkan tari angguk biasanya, tanpa meninggalkan kekhasan tarian tersebut. “Bagus sih ada kreativitasnya, semoga bisa dikembangkan lagi,” kata Yogi singkat.

Menabrak Pakem

Kemasan Tari Angguk Islami memang menabrak pakem angguk konvensional. Menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, pada umumnya para  penari angguk menyerupai serdadu Belanda. Mereka dihiasi gombyok barang emas, sampang, sampur, pet warna hitam, celana pendek sepaha dan kaus kaki warna merah atau kuning serta mengenakan kacamata hitam. Para penari berlenggak-lenggok selama kurang lebih satu jam. Gerakan pinggul dan bahu juga lebih kentara.

Dalam pementasaan, kalimat-kalimat yang ada dalam kitab Tlodo ditulis menggunakan huruf Arab, tetapi dilagukan dengan cengkok tembang Jawa.

Di pengujung pementasan, beberapa penari tak sadarkan diri atau ndadi. Sebagian masyarakat percaya  penari angguk mengalami trans lantaran kerasukan arwah yang dipanggil menggunakan sajen.

Dalam Angguk Islami yang dipentaskan di Alun-Alun Wates, unsur-unsur pembentuk tarik angguk dikurangi, sebagian bahkan dihilangkan.

Para penari membalut dirinya dengan kostum rok panjang bermotif batik, atasan warna merah dengan dominasi hitam serta kerudung dengan mahkota keemasan. Gerakan pinggul dan bahu yang menjadi ciri khas tarian tersebut tak kelihatan. Iringan musik yang biasanya menggunakan tembang Jawa diganti alunan musik gambus.

Risti Prihasiwi, satu penari yang turut mementaskan Tari Angguk Islami tidak menampik perbedaan tersebut. Perbedaan ini membuatnya kurang nyaman. “Pandangan saya sebagai seniman tari, Angguk Islami memang berbeda, yang biasanya memakai kostum asli karena itu ciri khas, kalau sekarang lebih tertutup, rasanya jadi agak gimana gitu,” kata Risti seusai pementasan.

Nur Aisyah yang juga ikut menarikan angguk yang sudah dimodifikasi itu menilai meski tubuh penari lebih tertutup dan banyak gerakan yang dikurangi, Angguk Islami tidak menghilangkan ciri khas angguk konvensional.

“Nyaman aja sih. Secara keseluruhan hampir sama kok, cuma memang untuk busana, gerakan dan iringan musik beda, tetapi intinya sama-sama angguk.”

Tak Jadi Soal

Kendati melahirkan perbedaan yang mencolok, kreasi Angguk Islami menurut salah seorang seniman tari angguk, Umiyati, tidak perlu dipermasalahkan. Baik yang Islami maupun konvensional memiliki peminat masing-masing. Keduanya juga ditampilkan menyesuaikan acara.

“Kalau buat saya dua-duanya nyaman. Angguk Islami hanya ditampilkan sesuai permintaan saja, seperti acara ini kan dikemas untuk pengajian jadi dibungkus islami,” kata perempuan yang telah berkecimpung di seni tari angguk sejak 1991 tersebut.

Umiyati menganggap kreasi tari ini sebagai jawaban dari sejumlah penolakan terhadap tari angguk konvensional. Telah lama citra kesenian tersebut di mata kalangan tertentu buruk karena menonjolkan kesan erotis. Lewat Angguk Islami, Umiyati berharap stigma terhadap tarian khas Kulonprogo lama-lama bisa sirna.

“Tantangan terbesar sejauh ini memang mengubah image tari angguk yang buruk di masyarakat, semoga dengan [Angguk Islami] ini bisa membantu kami para seniman tari angguk.”

Cap erotis dan menyimpang dari kaidah agama, khususnya ihwal busana menjadi akar musabab, pro kontra tari angguk. Polemik ini membuat Dinas Kebudayaan Kulonprogo kudu mencari solusi agar kesenian khas Bumi Binangun itu bisa diterima semua kalangan.

Tari Angguk Islami dinilai sebagai jawaban. Menurut Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulonprogo Joko Mursito, saat ini masyarakat terbagi dua kelompok. “Yang menerima kesenian apa adanya atau yang harus sesuai kaidah agama.”

Dia mengaku kritik masyarakat terhadap jawatannya menyoal keberadaan angguk konvensional cukup besar. Tekanan dari kalangan tertentu untuk tidak menampilkan kesenian tersebut selalu ada. Sebagai jalan keluar, tarian yang diakulturasikan dengan simbol islami ini dipilih.

“Ini respons dari seniman. Setiap produk seni budaya pasti ada pro kontra. Kami ikuti alur zaman saja karena angguk kan berkembang. Dulu yang ditampilkan laki-laki, kini perempuan,” kata Joko kepada Harian Jogja di sela-sela penyelenggaraan acara yang menyuguhkan Tari Angguk Islami di Alun-alun Wates.

Namun dia tidak memaksakan masyarakat untuk memilih Angguk Islami atau konvensional. Kepada publik, dia mempersilahkan penilaian secara pribadi.

“Kalau enggak suka A bisa B, enggak suka band-bandan ya hadrah. Juga ada angguk versi asli, kontemporer, dan islami. Mangga saja,” kata dia.

Kesenian, menurut Joko, bukan barang mati, melainkan dinamis, bisa hidup, berkembang dan mengikuti zaman. Kesenian yang enggan beradaptasi dengan masyarakat akan sirna perlahan.

“Kesenian yang hebat bisa menyesuaikan lingkungan dan alam kekinian, maka itu ada Angguk Islami untuk mengakomodasi segala kalangan.”

Joko menegaskan angguk konvensional akan tetap dirawat. Ini sudah menjadi tugas jawatannya dalam menjaga kelestarian seni dan budaya di Kulonprogo. Angguk, baik konvensional maulun islami, akan berjalan di jalur yang sama.

“[Angguk Islami] kalau disukai masyarakat pasti kami kembangkan, ini tugas kami. Intinya secara umum, angguk adalah kesenian hiburan Kulonprogo yang sudah berprestasi, jadi tetap kami lestarikan.”