Pola-Pola Penerbangan Lion Air PK-LQP sebelum Jatuh ke Laut

Anggota Basarnas memindahkan kantung jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Selasa (30/10/2018). - Antara Foto/Akbar Nugroho Guma
31 Oktober 2018 17:25 WIB Budi Cahyana & Ilham Budhiman News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penyebab kecelakaan Lion Air JT610 dengan nomor registrasi PK-LQP masih diselidiki. Namun, hasil pelacakan situs penerbangan dan pendapat sejumlah ahli aviasi menunjukkan keganjilan pesawat nahas tersebut sebelum jatuh di Teluk Karawang.

Pesawat jenis Boeing 737 Max 8 itu terbang dalam ketinggian tak menentu pada dua penerbangan: yakni Minggu (28/10) malam dari Denpasar menuju Jakarta dan Senin (29/10) pagi dari Jakarta menuju Pangkalpinang. Penerbangan Lion Air JT610 pada Senin pagi tak pernah sampai tujuan. Baru 13 menit mengudara, pesawat gagal mencapai ketinggian jelajah untuk rute yang akan dilalui dan jatuh ke laut.

Sebelumnya, salah satu penumpang rute penerbangan JT43 Denpasar-Jakarta yang dilayani dengan pesawat yang sama mengungkapkan masalah teknis sehingga keberangkatan tertunda. Lion Air seharusnya berangkat pukul 19.30 Wita, tetapi mundur menjadi pukul 22.21 Wita.

Lion Air menyatakan masalah teknis sudah dibereskan dan pesawat dinyatakan siap terbang. Namun, berdasarkan data Flight Radar 24 yang dilansir The Guardian, Selasa, pesawat menunjukkan kecepatan dan ketinggian yang tak lazim satu menit setelah lepas landas. Saat akan naik, Lion Air PK-LQP malah turun 875 kaki dalam waktu 27 detik sebelum akhirnya terbang stabil menuju Jakarta. Namun, ketinggian pesawat maksimal hanya di kisaran 28.000 kaki. Padahal, di rute yang sama sepekan sebelumnya, ketinggian pesawat bisa mencapai 38.000 kaki.

Tak lama setelah pesawat jatuh, sebagaimana dilansir detik.com, beredar dokumen log book Lion Air PK-LQP saat menempuh perjalanan dari Denpasar menuju Jakarta. Berdasarkan data yang ada di log book tersebut, kerusakan muncul pada panel navigasi yang ada di sisi kapten pilot. Adapun panel navigasi di sisi kopilot tak mengalami gangguan. Pesawat terbang dengan mengandalkan panel navigasi milik kopilot.

Hari Nahas

Kemudian, pada hari nahas kala terbang dari Jakarta menuju Pangkalpinang, JT610  terbang sangat tidak stabil selama 13 menit sebelum terjatuh ke laut dari ketinggian 3.000 kaki atau sekitar 1.400 meter selama 21 detik.

Normalnya, sebagaimana diutarakan pengamat penerbangan John Cox kepada Bloomberg, penurunan ketinggian pesawat adalah 450 meter sampai 650 meter per menit. Namun, JT610 rata-rata turun 9.500 meter per menit sebelum masuk ke laut.

Analisis data situs Aviation Safety yang dilansir news.com.au memperlihatkan kecepatan dan ketinggian JT610 selama 13 menit sangat tak menentu, jauh lebih tidak stabil ketimbang saat terbang dari Denpasar menuju Jakarta pada malam sebelumnya.

Setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, pesawat menanjak ke arah kiri ke ketinggian 640 meter sebelum turun ke ketinggian 450 meter. Pesawat kemudian mendaki lagi ke ketinggian 1.370 meter sampai 1.630 meter sebelum kecemplung di laut. Pola terbang setelah lepas landas yang naik turun ini hampir mirip dengan yang ditunjukkan pada malam sebelumnya di Denpasar.

Dua nelayan yang melihat detik-detik penerbangan terakhir PK-LQP kepada Reuters mengatakan pesawat tak mengeluarkan suara ketika jatuh. Pesawat juga tidak menukik, tetapi terbang nyaris mendatar dengan moncong sedikit turun. Begitu PK-LQP menyentuh permukaan laut, terdengar ledakan yang diikuti kolom asap.

Cuaca di Teluk Karawang cerah saat pesawat yang membawa 189 penumpang dan kru itu jatuh. Sebelum pesawat yang dikendalikannya celaka, pilot Bhavye Suneja meminta kembali ke Bandara Soekarno-Hatta dan menyatakan ada masalah di flight control.

Kecelakaan JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang memancing rasa penasaran banyak kalangan. Musababnya, Boeing 737 Max 8 yang dipakai Lion Air itu masih anyar.

Pesawat mengudara pertama kali pada 30 Juli 2018 dan dikirimkan ke Lion Air pada pertengahan 13 Agustus 2018. Jam terbangnya baru 800 sejak dioperasikan pada 18 Agustus 2018.

Meski demikian, berbagai spekulasi tentang penyebab jatuhnya Lion Air JT610 belum bisa dibuktikan secara valid selama kotak hitam pesawat belum ketemu.

“Hampir tidak mungkin mengetahui apa yang terjadi [tanpa mengetahui data yang ada di kotak hitam]. Sejauh ini, problem mekanis kemungkinan besar menjadi penyebabnya. Tetapi, semua teori murni spekulatif,” kata bekas pilot yang kini menjadi konsultan aviasi di Inggris, Alastair Rosenschein sebagaimana dikutip CNN.

Menurut dia, penemuan kotak hitam secara cepat akan sangat penting dalam mengungkap penyebab jatuhnya JT610 ke Teluk Karawang. Pesawat ini masih gres sehingga masalah-masalah teknis yang terjadi akan memengaruhi dunia penerbangan sipil dunia.

Greg Waldron, Redaktur Pelaksana  Flightglobal Asia memperkirakan kotak hitam PK-LQP akan lebih mudah ditemukan karena bangkai pesawat kemungkinan berada di kedalaman 30-50 meter.

Ini berbeda dengan AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata pada 2014 dan Air France 447 yang jatuh di Samudra Atlantik pada 2009. Kotak hitam kedua pesawat itu ditemukan dalam waktu yang lama karena terendam di laut yang dalam.

Penyelidikan

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum bisa memastikan berapa lama investigasi kecelakaan Lion Air JT610.

Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko mengatakan Komite masih bekerja dan terus mengumpulkan data-data yang komplet guna memudahkan proses investigasi ke depannya.

“Kami belum tahu berapa lama investigasi dan akan sampai sejauh mana akan dilakukan, tergantung situasi dan kondisi,” ujar dia saat konferensi pers, Selasa.

Ini lantaran kotak hitam yang menjadi sumber penting dalam proses investigasi masih dicari.

“Target kami adalah penemuan black box [kotak hitam]. Itu yang paling utama. Setelah berhasil ditemukan, akan ada analisis dan lain-lain. Dugaan kecelakaan masih dalam tahap investigasi. Apa yang menjadi penyebab memang masih tanda tanya,” ujar dia.

KNKT memerlukan peralatan yang mumpuni mengingat perangkat yang dimiliki KNKT tidak secanggih negara lain. Komite akan menerima bantuan tim investigasi dari negara lain yaitu Singapura, Argentina, Amerika Serikat, Malaysia dan Arab Saudi.

Haryo mengatakan Lion Air sudah menyerahkan data-data ke KNKT untuk memudahkan proses investigasi tersebut.

Sebagian data adalah soal rekaman percakapan antara pilot dan petugas Kontrol Lalu Lintas Udara AirNav ketika pilot meminta kembali ke Bandara Soekarno-Hatta.

“Namun untuk saat ini belum bisa kami sampaikan karena bagaimanapun kami harus mencocokkan apa yang ada di lapangan dengan ada yang di rekaman, tidak hanya single data.”

Haryo juga memastikan pesawat JT610 yang jatuh di Teluk Karawang tidak memuat barang berkategori berbahaya alias dangerous goods. Penegasan ini menepis spekulasi bom dalam kecelakaan ini lantaran ada nelayan yang mendengarkan ledakan saat pesawat jatuh.

“Kami sudah dapatkan datanya. Tidak ada dangerous goods. Volume kargonya saya lupa, tetapi telah sesuai.”

Investigator Moda Penerbangan KNKT Ony Soerjo Wibowo mengatakan tim penyelidik telah mendapatkan bantuan hydrophone dari Singapura untuk mencari kotak hitam Lion Air JT 610.

Hydrophone adalah alat untuk mendengarkan suara di air. Dengan bantuan perangkat tersebut, ia meyakini dapat mendengar sinyal dari underwater located beacon yang menempel pada kotak hitam. Apabila kotak hitam sudah ditemukan, Ony berharap seluruh badan pesawat berada di sekitar lokasi tersebut.

KNKT juga mendapat bantuan 10 teknisi Boeing dari Amerika Serikat untuk menyelidiki kasus ini. Mereka dijadwalkan tiba di Indonesia Rabu (31/10) malam ini.

“Mereka membawa beberapa bantuan dari Boeing yang terkait dengan pesawat ini,” kata Ony.

Dalam keterangan pers, Boeing menyatakan teknisi dikirim atas permintaan KNKT. Selanjutnya, semua analisis penyebab kecelakaan akan dilakukan oleh KNKT.