Indonesia Dapat Disebut Laboratorium Penanggulangan Bencana

Warga mengambil sisa-sisa bangunan yang masih bisa digunakan di lokasi terdampak pergerakan atau pencairan tanah (likuifaksi) di Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (14/10/2018). - ANTARA FOTO/Yusran Uccang
29 Oktober 2018 17:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, NUSA DUA-Indonesia dapat disebut sebagai laboratorium penanggulangan bencana alam. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Koordinator Kamaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

"BNPB mencatat 1589 bencana alam di seluruh Indonesia tahun 2017. Sejak Juli 2018 tercatat 289 kebakaran, kekeringan, angin puyuh, banjir, gempa bumi dan letusan dalam satu bulan itu. Karena perubahan iklim mempercepat laju bencana alam, mungkin saja jumlah dan biaya dari peristiwa ini meningkat," kata Luhut di Nusa Dua, Bali, Senin (29/10/2018).

Menko Kemaritiman di Nusa Dua menghadiri pertemuan bersama utusan 14 negara.

Peserta pertemuan di antaranya Presiden Palau Tommy Remengesau, Menteri Perikanan Fiji Semmy Korollavesau, Sekjen Kementerian Luar Negeri Federasi Micronesia, Menteri Ekonomi Kelautan Mauritius Premdut Koonjoo, serta utusan dari Selandia Baru, Bahrain, Timor Leste, Singapura, Irlandia.

Ia berharap negara-negara pulau dan negara kepulauan bisa duduk bersama-sama dan mencari solusi yang disesuaikan dengan tantangan negara-negara yang unik tersebut. "Ini bisa menjadi tempat untuk menghasilkan ide-ide baru, dikumpulkannya sumber daya bersama, dan mempertemukan persamaan kita," ucapnya.

Para utusan negara-negara peserta menyambut baik akan rencana diadakannya deklarasi bersama di Manado dan berharap hasil konferensi tersebut bisa membantu mereka mengadapi tantangan alam seperti perubahan iklim.

Luhut membahas dalam konteks tema Archipelagic and Island States (AIS), yang merupakan Forum atau Forum Negara-negara Pulau dan Kepulauan yang akan digelar pada 1-2 November 2018 di Manado, Sulawesi Utara.

Menko Luhut mengharapkan Forum AIS dapat mengkatalisasi pemikiran inovatif dan membantu menghasilkan solusi cerdas dan inovatif dari para anggotanya. Menurutnya yang dibutuhkan sekarang adalah aksi global, karena kita dituntut lebih tanggap, cepat bahkan kreatif menghadapi situasi seperti sekarang ini.

Sumber : Antara