Konstruksi Tol Kulonprogo-Solo Dibangun Medio 2019

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/M. Ferri Setiawan
26 Oktober 2018 12:25 WIB Irene Agustine & Taufiq Sidik Prakoso News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Perusahaan pemrakarsa Tol Kulonprogo-Solo, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. menargetkan konstruksi proyek sepanjang 91,93 kilometer tersebut dikerjakan medio tahun depan. Di Jawa Tengah, jalur tol kemungkinan besar melewati persawahan.

Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (kode emiten ADHI) Budi Harto mengatakan saat ini perusahaannya masih memfinalkan izin penetapan lokasi (penlok), yang menjadi salah satu syarat untuk memulai lelang investasi. Dia memperkirakan lelang dapat dibuka dalam waktu dekat dan pemenang serta kontrak proyek prakarsa senilai Rp22,54 triliun tesebut bisa ditentukan pada Januari 2019.

“Jadi setelah izin penlok ada hasilnya, ini bisa langsung lelang. Januari mulai kontrak dan diharapkan pertengahan tahun sudah mulai konstruksi,” kata Budi kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) belum lama ini.

ADHI, lanjut Budi, juga harus berpartisipasi lebih dahulu dalam lelang tersebut kendati menjadi konsorsium pemrakarsa jalan tol bersama Gama Group dan PT Daya Mulia Turangga.

Namun, perusahaan pemrakarsa mendapatkan hak istimewa, yakni right to match atau hak menyamakan penawaran dalam lelang itu. Dalam rencana awal, ADHI membidik kepemilikan sebesar 40% dalam konsorsium itu.

Budi memperkirakan konstruksi pembangunan jalan tol tersebut dapat rampung dalam kurun waktu tiga tahun. Dengan kata lain, tol yang melintasi dua provinsi tersebut diharapkan sudah dapat beroperasi sepenuhnya pada 2022-2023.

Dia juga mengatakan pembangunan ruas tol sampai Cilacap akan dikaji seiring dengan pembangunan Tol Kulonprogo-Jogja-Solo. “Kami saat ini baru sampai Kulonprogo dulu, nanti sambil jalan kalau ada opsi sampai Cilacap.”

Sebelumnya, perseroan menyatakan kajian pembangunan ruas tol lebih dititikberatkan untuk rute Solo-Kulonprogo karena lebih menguntungkan. Musababnya, ruas tersebut telah memiliki jalan yang sudah ada (existing) yang terkoneksi dengan Tol Solo-Semarang dan tol Solo-Surabaya.

Selain itu, rute tersebut juga dinilai strategis karena akan tersambung dengan New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo. Rencananya, sebagian konstruksi proyek didesain untuk dibangun secara melayang (elevated).

Direktur QHSE dan Pengembangan ADHI Partha Sarati menaksir kebutuhan belanja modal tahun depan mencapai Rp20 triliun, yang kebanyakan akan dialokasikan untuk proyek-proyek tol yang digagas ADHI.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna mengatakan dengan sudah dikantonginya persetujuan prakarsa, lelang investasi proyek Tol Kulonprogo-Solo dapat dibuka pada akhir tahun ini dengan syarat konsorsium dapat melengkapi dokumen pendukung, utamanya rencana penetapan lokasi.

“Kami tinggal menunggu kelengkapannya. Kalau bisa cepat melengkapinya, lelang bisa dimulai sebelum tahun ini berakhir,” ujarnya.

Tol Kulonprogo-Solo belum masuk dalam daftar tol yang ditawarkan kepada investor melalui penjajakan pasar pada pertengahan tahun lalu oleh BPJT untuk dilelang pada tahun ini.

Keenam tol yang ditawarkan saat itu yakni Jembatan Tol Balikpapan-Penajam Paser Utara, Semarang-Demak, Semanan-Balaraja, Kamal-Teluknaga-Rajeg, Akses Pelabuhan Patimban dan Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap. Dari keenam tol tersebut, lima adalah tol prakarsa badan usaha dan satu tol, yakni Semarang-Demak, adalah tol prakarsa pemerintah

Persawahan

Sementara itu, tim survei proyek tol Kulonprogo-Jogja-Solo mendatangi sejumlah desa di Klaten untuk menyurvei lokasi. Sebagian proyek tol diperkirakan akan melintasi pesawahan.

Tim tersebut mendatangi pemerintah desa dan mengajukan pertanyaan ke aparatur desa. Desa-desa yang didatangi di antaranya berada di Kecamatan Karanganom dan Ngawen. Kepala Desa Beku, Kecamatan Karanganom, M. Mudrik, mengatakan survei dilakukan sekitar dua pekan lalu.

“Terakhir itu satu orang. Saya ditunjukkan gambar satelit soal wilayah yang rencananya dilewati jalan tol di Desa Beku,” kata Mudrik saat ditemui JIBI di Beku, Kamis.

Survei itu berkaitan dengan data-data kondisi area yang akan dilewati jalan tol. “Lokasi yang akan dilewati itu ada apa saja? Ada situs bersejarah atau tidak, ada makam atau tidak, apakah ada masjid atau perumahan? Pertanyaannya sebatas itu, tidak sampai menanyakan soal harga tanah,” kata dia.

Mudrik menuturkan dari gambar yang ditunjukkan mayoritas lokasi yang dilintasi berupa sawah meski ada sebagian rumah serta makam. Total panjang jalan tol yang akan melintasi Desa Beku sepanjang 1,2 km dengan lebar 90 meter hingga 120 meter.

Dia menyatakan gambaran tol yang melintasi Desa Beku bukan tol layang atau elevated. “Untuk jalan tol layang itu katanya di Jogja. Namun kepastiannya seperti apa saya sendiri juga tidak tahu,” urai dia.

Sekitar dua bulan lalu, tim sudah mendatangi pemerintah desa. Tim berasal dari BPJT untuk survei lapangan jalan Tol Kulonprogo-Jogja-Solo. Selain Desa Beku, tim survei mendatangi desa lainnya di Kecamatan Karanganom seperti Desa Ngabeyan, Desa Troso, serta Desa Jungkare. Kepala Desa Jungkare, Ananti, mengakui ada tim yang mendatangi desanya dan menjelaskan jika rencana jalan tol melintasi Desa Jungkare.

Rencana pembangunan jalan tol juga bakal melewati wilayah Kecamatan Ngawen. Salah satunya Desa Gatak. Informasi yang dihimpun, rencana pembangunan jalan tol mayoritas melintasi lahan persawahan di desa tersebut. Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa Gatak, Maryono, mengatakan kedatangan tim sebatas pemberitahuan ke pemerintah desa soal rencana pembangunan jalan tol.

Kepala Bappeda Klaten, Sunarno, mengaku belum ada pembahasan atau surat resmi terkait rencana proyek jalan tol Solo-Jogja-Kulonprogo yang rencananya mulai dibangun pada 2019. Hal itu termasuk surat tembusan survei yang dilakukan oleh tim Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Sebelumnya, Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono mengatakan tol tersebut dibangun demi mengurai kemacetan di jalan nasional Jogja menuju Solo. “Dulu waktu saya kuliah pakai motor satu jam dari Jogja ke Solo. Sekarang sudah empat jam, tiga jam paling cepat. Itu sudah tidak ekonomis lagi,” ujar dia.

Sekitar 80% konstruksi tol akan dibangun menggunakan tiang penyangga alias layang (elevated) untuk mengurangi pembebasan lahan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia & Solopos