Antartika di musim panas./Sputniknews-CCO Pixabay
Harianjogja.com, JOGJA-Tim peneliti Turki telah mengunjungi Antartika tiga kali dalam dua tahun terakhir. Ankara berharap Turki nantinya bisa menjadi pemain utama kekuatan ilmiah dunia.
Turki akan bergabung dengan 30 negara lainnya, dan secara resmi [akan] membuka stasiun penelitian Antartika sendiri pada 2019, tulis Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam akun Twitter resminya.
"Pada 2019, kami akan membuat stasiun penelitian di Antartika. Melalui stasiun itu, kami akan bergabung dengan 30 negara yang sudahlebih dulu ada di sana. Ini adalah saatnya kita bervisi global. Ini adalah saatnya fajar baru bagi Turki!" Erdogan menulis.
Turki merupakan salah satu negara yang menandatangani Traktat Antarktika 1959 yang mewajibkan negara hanya terlibat dalam aktivitas ilmiah di zona kutub selatan ini. Lebih dari 50 negara menandatangani perjanjian itu, termasuk Rusia, AS, China, Jepang, Australia, Selandia Baru, Argentina, dan sejumlah negara Eropa.
Sekitar dua puluhan negara memiliki sekitar 90 stasiun penelitian permanen atau musiman di wilayah tersebut.
Pekan lalu, media Turki melaporkan Pangkalan Penelitian Ilmiah Turki akan berlokasi di Horseshoe Island, wilayah yang mengekstrusi dari Antartika ke arah Amerika Selatan.
Peneliti dari Universitas Teknik Istanbul diharapkan nantinya memimpin proyek pembangunan pangkalan penelitian itu sehingga diminta untuk mempelajari sejumlah masalah termasuk perubahan iklim.
Para ilmuwan Turki melakukan kunjungan pertama mereka ke Antartika pada 2017; dua kunjungan susulan selanjutnya dilakukan termasuk satu kunjungan yang diakhiri pada Februari 2018.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Sputniknews Intenational