Advertisement
Fakultas Peternakan UGM Dirikan Posko Pengungsian Ternak Korban Gunung Agung
Advertisement
Fakultas Peternakan UGM merespon peningkatan aktivitas Gunung Agung Bali yang mencapai level awas
Harianjogja.com, SLEMAN - Fakultas Peternakan UGM merespon peningkatan aktivitas Gunung Agung Bali yang mencapai level awas dengan mendirikan posko khusus untuk pengungsian ternak.
Advertisement
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ali Agus, menjelaskan pemerintah telah menetapkan daerah di bawah radius kurang dari 12 km untuk dikosongkan. Sekitar 70.000 penduduk akan berpindah dalam barak pengungsian.
Keselamatan ternak menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pengungsian itu. Selain posko pengungsian manusia juga diperlukan posko pengungsian ternak. Karena itu Fakultas Peternakan UGM mendirikan posko pengungsian ternak di Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.
"Sebagian pengungsi ada yang rela mengambil risiko di KRB [kawasan rawan bencana] untuk tetap memantau dan memberi pakan ternaknya. Pada sisi lain, ada saja oknum yg memanfaatkan kesempatan dengan membeli ternak penduduk dengan harga murah," terangnya dalam rilis kepada Harianjogja.com, Kamis (5/10/2017).
Tim dari Fakultas Peternakan UGM telah berangkat ke Bali untuk berkoordinasi dengan BNPB dan Dinas Peternakan setempat pada Minggu (1/10/2017) lalu.
Terdiri atas Bambang Suwignyo, Prof. I Gede Suparta Budisatria, Prof. Budi Guntoro bersama dua mahasiswa selaku relawan. Sedangkan jumlah pengungsi sudah mencapai 144.000 orang dari perkiraan 70.000 orang.
Koordinator Tim Peternakan UGM Bambang Suwignyo menambahkan, saat ini ada 40 titik lokasi ternak yang telah disiapkan. Sapi sebanyak 3.000 ekor sudah dievakuasi dari 20.000 ekor yang ada. Sumber pakan hijauan saat ini sudah kurang. "Konsentrat relatif sudah tersedia. Meski kita belum bisa prediksi sampai berapa lama situasi darurat ini," ujarnya.
Pihaknya bersiap dengan stok pakan konsentrat serta menawarkan program edukasi pengurangan risiko bencana. Serta mengusulkan program membuat pakan fermentasi dengan melibatkan para pengungsi. Pakan fermentasi ini dapat disimpan dalam waktu lama dan tidak rusak sehingga dapat untuk antisipasi stok jika erupsi berlangsung lama.
"Membuat stok pakan fermentasi akan mengurangi frekuensi peternaik naik ke KRB satu dan dua," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
KRL Jogja Solo Siapkan 12 Jadwal Keberangkatan pada 19 Maret 2026
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Gelar Juara Senegal Dicabut, Maroko Resmi Dinobatkan Jawara AFCON 2026
- Gilang Ardha Petik Pelajaran Berharga Bersama Skuad Senior PSIM Jogja
- Tolak Perang di Iran, Direktur Kontraterorisme AS Joseph Kent Mundur
- Program Ramadan BRI, Tebar Kebahagiaan di Jogja
- Pesanan Parsel Lebaran Melejit, Rumah Parcel Jogja Tembus 700 Paket
- PSG Hancurkan Chelsea di Stamford Bridge, Melenggang Perempat Final
- Bale Santai Honda Siaga 24 Jam di Jalur Mudik Jogja, Kedu, Banyumas
Advertisement
Advertisement




