KISAH INSPIRATIF : Bayi Kembar Siam yang Berbagi Tengkorak Akan Dipisahkan

Bayi kembar dempet (Dailymail)
11 Februari 2016 20:55 WIB News Share :

Kisah inspiratif berikut mengenai rencana operasi pemisahan kembar dempet.

Harianjogja.com, ARAB-Bayi kembar siam yang berbagi tengkorak akan dipisahkan melalui sebuah operasi.

Dilansir dari Daily Mail, Rabu (9/2/2016), bayi perempuan, Tuga dan Yakeen Al Khadr dilahirkan siam sejak empat tahun lalu. Keduanya berbagi tulang tengkorak tetapi tidak untuk otak.

Bayi kembar dempet kepala merupakan fenomena yang terjadi tiap 2,5 juta kelahiran bayi.

Minggu ini, bayi tersebut akan dioperasi di pusat Rumah Sakit Anak di Riyadh, Saudi Arabia. Operasi ini akan dibiayai pemerintah Arab Saudi sebagai bentuk kemanusiaan.

Operasi serupa telah dilakukan empat kali dan kembar Suriah ini merupakan pasien yang akan ditolong dalam waktu dekat.

Persiapan dilakukan sejak April 2014. Juru bicara King Abdulaziz Medical City (KAMC) mengatakan ada kemajuan besar dalam tindakan ini.

Berita ini pertamakali dipublikasikan pada 2013, tepatnya saat sang ayah meminta Raja Arab Saudi, Abdullah membantu pengobatan.

Emirate247.com melaporkan meski dalam keadaan darurat, Hussein Al Khadr mengatakan tak dapat berbuat banyak. Sebab 11 anggota keluarganya berada di daerah perang, Suriah. Pada saat itu, kembar berusia 16 bulan. Al Khadr merupakan seorang petani dari Al Raqqa, Suriah Selatan.

"Kami memohon pada raja untuk membantu kami, apalagi Aran dikenal kerap membantu kembar siam di seluruh negara islam," jelasnya.

Dokter Ahmad Al-Furrayan, ketua tim medis operasi tersebut mengatakan, operasi akan diadakan pada 12 jam lagi. Kepada Arab News, dia mengatakan operasi ini merupakan upaya pemisahan paling sulit dan rumit.

Tingkat kesuksesan operasi diperkirakan 60% dan Al-Furrayan positif dia dapat melakukan operasi ini.

Arab Saudi telah melakukan operasi pemisahan kembar siam sebanyak 37 kali sejak tahun 1990. Kasus berasal dari berbagai negara, seperti sudan, Suriah, Yaman,Mesir, Malaysia, Filipina, Polandia, Maroko dan Irak.

Ada 30 kasus lain yang tengah ditangani, tetapi dokter menyatakan upaya pemisahan tidak dapat dilakukan.