PENDAKI JATUH KE KAWAH MERAPI : Evakuasi Butuh Kerja Keras, Ini Alasannya

18 Mei 2015 09:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati News Share :

Pendaki jatuh ke kawah Merapi untuk evakuasi membutuhkan kerja keras.

Harianjogja.com, SLEMAN-Tim gabungan yang bertugas mengevakuasi mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Eri Yunanto, 21, yang terpeleset dan jatuh di kawah Gunung Merapi, memperkirakan korban berada di titik kedalaman 200 meter. Adapun pelaksanaan evakuasi butuh kerja keras.

Pelaksana Harian Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Tri Hatmojo mengatakan evakuasi yang akan dilakukan Senin (18/5/2015) membutuhkan kerja yang ekstra. Pasalnya, korban jatuh ke kawah Merapi di mana tempat tersebut diselimuti gas beracun yang dapat mengakibatkan kerusakan organ tubuh hingga kematian.

Tri mengatakan, tim gabungan perlu mempersiapkan skenario yang tepat karena waktu evakuasi di kawah Gunung Merapi juga memiliki batasan waktu.

"Untuk masuk ke kawah hanya diperbolehkan sekitar jam 11.00-13.00 WIB saja. Hanya dua jam. Selebihnya kondisi tidak memungkinkan," jelas Tri pada Harianjogja.com, Minggu (17/5/2015).

Seperti asap belerang yang semakin pekat, kontur tanah yang labil dan masih banyak variabel lainnya yang perlu dipertimbangkan.

Menambahkan, Humas SAR DIY, Daru Supriono mengatakan, tim yang diterjunkan untuk mengevakuasi korban memang terkendala lokasi yang sulit dijangkau.

"Di kawah itu harus benar-benar dipertimbangkan variabel-variabelnya seperti kontur tanah, suhu, morfologi, kemudian juga kandungan belerangnya. Semua itu satu kesatuan yang saling berhubungan. Jadi harus hati-hati," jelas Daru melalui sambungan telepon.

Titik duga lokasi korban sudah diketahui, maka selanjutnya tim akan melakukan evaluasi dan menentukan evakuasi yang memperhitungkan unsur keamanan.

"Evakuasi memang belum bisa hari ini [Minggu]. Maksimal jam lima [17.00 WIB] seluruh tim harus turun. Hari ini kita evaluasi dan tentukan skenario evakuasi yang safety," tegasnya.

Daru mengatakan, peristiwa seperti ini baru pertama kali terjadi di Merapi. Hal ini menjadi tantangan baru bagi tim gabungan karena selama ini hanya mengetahui teori penyelamatan korban di kawah namun belum melakukan praktiknya.

"Bagaimanapun meski teori sudah tahu tapi praktiknya tetap sulit," tegasnya.

Berdasarkan data kronologis dari Komandan SAR DIY, Brotoseno, Eri, mahasiswa semester enam UAJY ini melakukan pendakian dan berangkat dari rumahnya di Dusun Biru, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, pada Jumat (15/5/2015) sekitar 19.00 WIB. Ia berangkat bersama lima rekannya dan sampai di basecamp New Selo, Boyolali, Jawa Tengah pukul 22.00 WIB. Tiga temannya hanya sampai di pos 1 sementara Eri dan dua temannya melanjutkan pendakian.

Pukul 23.00 WIB rombongan pendaki melanjutkan perjalanan dan sampai di Pasar Bubrah pukul 03.30 WIB. Selanjutnya pada pukul 08.30 WIB, Eri bersama salah satu temannya bernama Dicky melanjutkan pendakian menuju puncak Merapi sementara satu temannya beristirahat di Pasar Bubrah. Satu jam kemudian, 09.30 WIB, Ery dan Dicky tiba di puncak Merapi.

Pukul 11.00 WIB, ketika hendak turun dari puncak, mereka sempat berfoto dan kemudian Eri terpeleset dan masuk ke kawah.

Tim gabungan yang telah diterjunkan ke lokasi di antaranya dari SAR DIY, SAR Klaten, SAR Boyolali, BARAMERU, BASARNAS Semarang, BASARNAS Solo, Palawa ATMAJAYA, Silvagama Kehutanan UGM, PMI Sleman, dan TNGM.