KURIKULUM 2013 DIHENTIKAN : KTSP Dapat Tekan Pengeluaran

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra KumalaSiswa kelas V SD Negeri Jagalan bermain bola kasti saat pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes) di lapangan dekat sekolah, Jebres, Solo, Senin (20/1). Saat diberlakukan kurikulum 2013, mata pelajaran penjaskes akan dihapus secara bertahap mulai dari tahun ajaran 2013/2014 hingga 2016 - 2017.
23 Januari 2015 21:40 WIB Kusnul Isti Qomah News Share :

Kurikulum 2013 dihentikan, KTSP disebut dapat menekan biaya operasional sekolah. Disdikpora Gunungkidul berharap KTSP dapat diterapkan pekan depan.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Kembalinya sebagian besar sekolah ke Kurikulum 2006 disambut baik oleh sejumlah sekolah. Bahkan, pengeluaran pun bisa ditekan.

Kepala SDN 6 Wonosari Iryan Swasini mengatakan selama memakai Kurikulum 2006, pengeluaran pun membengkak. Pasalnya, selama ini buku ajar Kurikulum 2013 telat pengirimannya. Untuk itu, pihak sekolah mengakali dengan mencetak materi yang diunduh dari internet.

“Setiap hari kami harus memfotokopi 28 halaman materi untuk satu guru. Dana BOS yang harusnya bisa digunakan untuk keperluan lain, harus digunakan untuk pengadaan materi,” ungkap dia, Kamis (22/1/2015).

Sementara, begitu mendapatkan kabar harus kembali ke 2006, ia mengaku belum bisa serta-merta melakukannya. Pasalnya, harus ada persiapan jika akan kembali ke kurikulum lama. Langkah yang diambil antara lain, dengan melakukan pendataan kebutuhan setiap kelas.

“Secepatnya kami akan kembali ke Kurikulum 2006. Mungkin sudah bisa menerapkannya minggu depan,” imbuh dia.

Mengenai buku, ia menjelaskan, sekolah masih mempunyai buku pendukung pelaksanaan Kurikulum 2006. Meski begitu, ada beberapa buku yang sudah rusak sehingga harus ada pengadaan buku baru. Mengenai jumlah, ia mengaku belum mengetahuinya karena baru saja melakukan pendataan.

“Kalau pakai Kurikulum 2013 satu buku untuk satu bulan. Sekarang pakai Kurikulum 2006, jadi satu buku untuk satu tahun,” ungkap dia.

Ia mengaku, baru mendapatkan penjelasan dari Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kamis (22/1/2015). Penjelasan secara lisan itu diterima dalam pembinaan kepala sekolah dasar di SD Muhammadiyah Al-Mujahidin.

“Itu pun ketika ada yang tanya. Intinya, sekolah yang baru melaksanakan Kurikulum 2013 harus kembali ke Kurikulum 2006,” imbuh dia.

Ia mengaku, mengikuti keputusan pemerintah. Pasalnya, penerapan itu akan berpengaruh pada sertifikasi guru. Menurutnya, jika tidak kembali ke Kurikulum 2006, maka Data Pokok Pendidikan (Dapodik) tidak akan muncul.

Sekretaris Disdikpora Gunungkidul Bahron Rosyid berharap, seluruh sekolah yang kembali ke Kurikulum 2006 bisa segera menerapkannya.

“Paling tidak, Senin depan sudah mulai menerapkan kurikulum lama,” ungkap dia.