Update Trans Jogja 2026: Rute Baru dan Tarif Terjangkau
Rute Trans Jogja 2026 makin luas hingga pinggiran. Tarif tetap murah, jadi solusi transportasi hemat dan bebas macet di Jogja.
Ilustrasi./Solopos-Ardiansyah Indra Kumala
Harianjogja.com, JOGJA--Kondisi sapi yang suspek antraks di Gunungkidul rupanya sempat dijualbelikan. Bahkan, sejumlah keluarga mengonsumsi daging tersebut. Namun berdasarkan penjelasan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY kondisi keluarga tersebut sampai saat ini masih baik.
Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembayun Setyaning Astutie mengatakan jika daging yang dibawa ke Kulonprogo tidak dijual ke warga hanya dikonsumsi oleh satu keluarga. Daging tersebut dikonsumsi oleh satu keluarga di Kulonprogo. Hal itu berdasarkan hasil penelusuran Dinkes.
"Tujuh orang dalam keluarga itu sehat semua. Mereka sudah diberi antibiotik. Nah yang di Kota Jogja, sudah kami lacak dan dagingnya belum diolah. Mudah-mudahan itu benar pengakuannya," katanya di sela-sela kegiatan HKP, Senin (27/5/2019).
Dia mengatakan jika satu keluarga di Kulonprogo, sudah diberikan antibiotik dan akan terus diawasi. Dia berharap selama masa 120 hari pemantauan, masa inkubasi, tidak ada kasus serupa (antraks). Menurutnya, gejala manusia terpapar bakteri antraks juga mengalami gejala umum seperti demam dan lainnya.
Hanya saja, untuk memastikan apakah penyebabnya bakteri antraks harus dilakukan pemeriksaan. "Sebelumnya kami sudah sosialisasi sejak ada kasus ternak mati itu. Yang jelas manusia tidak boleh kontak dengan ternak dalam keadaan luka," katanya.
Kasus tersebut, kata Pembayun, merupakan kasus yang masih diduga (suspek) terkontaminasi antraks. Masyarakat diharapkan tidak panik. Sebab penularan antraks bukan terjadi antara manusia dengan manusia, tetapi dari hewan ke manusia. "Pemeriksaan warga sudah kami lakukan. Manusia bisa terinfeksi kalau kontak dengan ternak yang diduga terkana antraks. Bisa saja sapi terinfeksi, tetapi belum tentu dengan manusia," katanya.
Kasus ini, katanya, bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat agar membeli daging dari lokasi yang sudah terdaftar. Dia juga menghimbau agar masyarakat tidak mengkonsumsi ternak yang mati. Apapun alasannya. "Harus periksa dulu ke RPH. Kami juga berharap konsumsi air yang matang. PHBS juga perlu diperhatikan," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Sasongko mengatakan ternak yang diduga terpapar bakteri spora masih terus diteliti. Sebab meski ada tanda-tanda terpapar antraks, namun hasilnya masih belum bisa dipastikan. Meski begitu, ratusan sapi di Karangmojo sudah diberikan vaksinasi.
"Lokasi sudah kami lokalisir. Lahan yang kemarin untuk memotong dicor. Untuk mengurangi penyebaran bakteri, diberi formalin 10 persen," katanya.
Agar masyarakat tidak khawatir mengonsumsi daging sapi, dia meminta agar pemotongan sapi dilakukan di RPH. Alasannya, di RPH ada ada petugas untuk memeriksa sapi yang akan dipotong.
"Kalau daging yang dihasilkan dari RPH higenis. Ada cap teregister. Sebagian besar daging di DIY dari RPH Jogja dan Bantul. Tapi di Gunungkidul masih belum ada," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rute Trans Jogja 2026 makin luas hingga pinggiran. Tarif tetap murah, jadi solusi transportasi hemat dan bebas macet di Jogja.
PT Importa Jaya Abadi (Importa) meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pencapaian penjualan 1 juta unit lemari pakaian besi
Kasus Ebola di Kongo meningkat. Dosen UMY mengingatkan Indonesia memperkuat kewaspadaan, deteksi dini, dan sistem kesehatan menghadapi ancaman penyakit menular.
Kemhan mengevaluasi total Latsarmil SPPI 2026 usai lima peserta meninggal, mencakup seleksi kesehatan, latihan fisik, dan metode pembelajaran.
Bareskrim menyelidiki 15 perusahaan yang diduga menjadi sponsor 321 WNA dalam kasus sindikat judi online Hayam Wuruk.
Xpeng G6 AWD resmi meluncur di Indonesia dengan motor ganda, tenaga 358 kW, akselerasi 4,13 detik, dan identitas baru Black Edition.