Aksi Teatrikal Warnai Peringatan 30 Tahun Kudatuli di Kantor PDIP
PDIP memperingati 30 tahun Kudatuli dengan aksi teatrikal, ritual adat, dan pembacaan puisi di Gedung DPP PDIP di Jakarta.
Presiden Joko Widodo di Banten. /Okezone
Harianjogja.com, JAKARTA--Presiden Joko Widodo menyebut kemungkinan perlunya menteri investasi dan menteri ekspor karena dua hal itulah yang menjadi kunci kemajuan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Saya sudah sampaikan minggu lalu dalam forum rapat kabinet, saya bertanya apakah perlu kalau situasinya seperti ini, yang namanya menteri investasi dan menteri ekspor," kata Presiden Jokowi di Tangerang, Banten, Selasa (12/3/2019).
Presiden Jokowi, Selasa ini, membuka Rapat Koordinasi Nasional Investasi Tahun 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai Tangerang, Banten. Hadir dalam acara itu Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas T Lembong, Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Presiden Jokowi menyebutkan dua menteri itu secara khusus akan menangani masalah sesuai bidangnya. "Wong penyakit kita ada di situ," kata Jokowi.
Ia menyebutkan di negara lain seperti di kawasan Eropa, juga ada dua menteri itu. "Di EU ada menteri investasi, ada menteri khusus ekspor, negara lain saya lihat juga sama. Mungkin dari sisi kelembagaan memang kita harus memiliki menteri investasi dan menteri ekspor. Dua menteri itu mungkin perlu," katanya.
Presiden mengaku gregetan karena sudah tahu masalah atau kekurangan yang dihadapi tapi tidak juga bisa menuntaskan masalah yang ada. "Saya akan melihat alur ceritanya, akan saya lihat, ini ada yang gak bener di titik titik tertentu. Akan saya lihat, saya pasti akan menemukan, insya Allah saya akan menemukan titik masalahnya," katanya.
Pada awal sambutannya Presiden mengatakan kunci kemajuan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini adalah investasi dan ekspor. Terkait investasi, Jokowi mengatakan perang dagang AS Tiongkok merupakan peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi.
"Investor yang investasi di Tiongkok itu mulai goyang, mulai mencari tempat baru investasinya," katanya.
Ia mencontohkan industri mebel di negara itu yang mulai keluar dari Tiongkok. "Kami lihat industri menggunakan kayu, bambu, rotan di Guangzhou mulai keluar tapi kenapa datangnya ke Vietnam? Padahal kayu ada di kita, raw material ada di kita, kayu ada di kita, bambu ada di kita, apa yang salah dari Indonesia?," katanya.
Ia juga menyebutkan ekspor mebel Indonesia ke AS saat ini hanya tiga persen sementara Vietnam sudah menguasak 16 persen. "Ini koreksi buat kita semua. Ini baru satu produk atau barang yang kita ceritakan, produk lain ya kurang lebih ya sama," katanya.
Dalam kesempatan itu Presiden juga meminta semua pihak mempercepat pelayanan perizinan untuk investasi yang mengarah pada sektor hilir atau pengolahan dan industri petrokimia. "Kalau sudah investasi sektor hilir dan petrokimia sudah dengan tutup mata berikan saja," katanya.
Khusus untuk investasi petrokimia, ia menyebutkan impor produk petrokimia saat ini sangat besar sehingga kontribusinya kepada defisit neraca transaksi berjalan juga besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
PDIP memperingati 30 tahun Kudatuli dengan aksi teatrikal, ritual adat, dan pembacaan puisi di Gedung DPP PDIP di Jakarta.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan fitur kesehatan berbasis AI untuk trail running, diving, dan pemantauan kebugaran harian.
Fenomena upwelling di Waduk Kedung Ombo Boyolali menyebabkan 10 ton ikan mati dan kerugian petani KJA mencapai Rp247 juta.