Meutya Kecam Israel Tahan Jurnalis RI di Misi Gaza
Menkomdigi Meutya Hafid mengecam Israel usai menahan jurnalis Indonesia dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
Kondisi jembatan di Dusun Karanggeneng, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, yang ambrol, Minggu (11/11/2018). jembatan yang menghubungkan Dusun Karanggeneng dan Gabugan di Desa Donokerto, Kecamatan Turi itu ambrol diterjang banjir Jumat (9/11/2018)./Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, SEMARANG - Debat calon presiden–wakil presiden Pilpres 2019 masih menyisakan empat putaran lagi. Calon-calon pemimpin bangsa ini didorong untuk mampu beradu gagasan tentang mitigasi bencana, karena Indonesia berada di ring of fire.
Bencana yang beruntun mulai dari Lombok, Palu, hingga Banten seolah menjadi titik puncak kegagapan pemerintah untuk mengantisipasinya. “Seharusnya dengan kejadian bencana mulai Palu NTB ini presiden kan getol perhatian masalah bencana [turun lansung ke lokasi]. Menteri Sri Mulyani harus mengalokasikan dana untuk membangun alat [baru] yang harus dipasang,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sarwa Pramana, Minggu (20/1/2019).
Menurut Sarwa, banyak juga kritik-kritik hingga habis-habisan kepada pemerintah, karena alat-alat EWS (early warning system) kuno tidak pernah ada revitalisasi dengan alat-alat yang canggih. "Tapi saya seneng itu realita. Ini sudah waktunya Negara untuk memberi prioritas bahwa bencana ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Dia pun mendukung dengan wacana debat capres-cawapres tentang gagasan untuk penanggulangan bencana. Apalagi, wilayah kerjanya Jawa Tengah juga tak luput dari ancaman beragam bencana mulai tsunami, letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor, banjir, kebakaran hutan, hingga kawah gas beracun.
“Harapannya, dari para calon presiden harus sensitif pada posisi Indonesia di ring of fire. Bagaimana komitmen seorang calon presiden - wakil presiden untuk bisa mitigasi secara masif seluruh masyarakat. Terutama untuk tsunami, kemudian gunung berapi, ketiga baru yang lain. Yang mematikan kan tsunami dan gunung api,” ucapnya.
Ia meminta petugas BPBD memiliki kapasitas yang layak untuk penanganan bencana. Sebab, selama ini BPBD belum dianggap sebagai lembaga vital, sehingga personelnya terkesan asal-asalan. Hal itu diperparah dengan minimnya anggaran yang dialokasikan untuk penanggulangan bencana.
“Lembaga BPBD tolong diposisikan dan di lembaga penting. Itu faktanya. Sekarang ini kondisinya di daerah anggarannya kan masih tipis, rata-rata Jawa Tengah kalau saya rekap hanya sekira Rp3 miliar (per tahun). Bahkan ada kabupaten yang hanya Rp1 miliar,” ujarnya.
Sarwa menilai, personelnya rata-rata dikasih orang-orang yang tidak berkapasitas, orang buangan. Ini di Jawa Tengah masih kaya begitu, bayangkan kalau di luar Jawa.
"Saya selalu marah-marah juga dengan daerah-daerah, semua masih tergantung pada pusat dan provinsi. Tapi ada kabupaten yang sudah top, misalnya Kebumen itu bagus komitmennya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Menkomdigi Meutya Hafid mengecam Israel usai menahan jurnalis Indonesia dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
PSIS Semarang resmi menunjuk Widodo C Putro sebagai pelatih anyar untuk memburu target promosi ke Liga 1 musim 2026/27.
BPBD Gunungkidul belum menetapkan siaga darurat kekeringan meski musim kemarau 2026 sudah dimulai sejak akhir April.
BNPB melaporkan banjir melanda Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat akibat hujan deras, ribuan rumah terendam.
KPK mendalami dugaan aliran uang kepada Bupati Tulungagung nonaktif Gatut Sunu Wibowo lewat pemeriksaan sembilan saksi.
Anwar Ibrahim mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan saat membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.