Pabrik Hidrogen Hijau Pertama Pertamina Siap Beroperasi Tahun Ini
Pertamina menargetkan pabrik hidrogen hijau pertama di PLTP Ulubelu, Lampung, mulai beroperasi pada November 2026.
Mungkin laki-laki yang usianya sudah menginjak kepala enam ini layak dinobatkan sebagai tukang reparasi dan pembuat alat musik kendang tertua di Kulonprogo. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Switzy Sabandar.
Di usianya yang beranjak senja, Mbah Mo, demikian Parmo akrab disapa, mempertahankan pekerjaannya yang digelutinya sejak belia, sekalipun terlihat menantang arus.
Dibilang melawan zaman, karena kian lama semakin minim orang yang memanfaatkan jasa Mbah Mo. Pelanggan tetap yang diandalkan mayoritas berasal dari kelompok kesenian. Jumlahnya mungkin banyak, tetapi mereka hanya datang ketika peralatan musik tabuhnya rusak. Dalam satu bulan terdapat tujuh kendang rusak yang membutuhkan perbaikan di bengkel reparasi yang berlokasi di Dusun Graulan, Kelurahan Giripeni, Kecamatan Wates, Kulonprogo.
Namun, hal itu tidak menyurutkan niat laki-laki yang sudah purna tugas dari pekerjaannya sebagai PNS di RRI Jogja untuk mempertahankan usaha warisan almarhum bapaknya. “Memperbaiki kendang menjadi satu-satunya kesibukan saya di masa pensiun ketimbang nglangut menunggu uang pensiunan,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Selain warisan berupa usaha reparasi kendang, keahlian Mbah Mo juga diturunkan dari bapaknya yang kala itu kondang dengan sebutan Sastro Ripiblik, sebagai pembuat kendang dan perangkat gamelan di Kota Binangun.
Parmo muda kerap membantu ayahnya membuat kendang. Memang, tidak langsung berwujud kendang utuh seperti sekarang, melainkan dimulai dari memasang tali janget atau pengatur nada kendang, membuat tebokan atau kulit tabuh, selongsong tubuh kendang, dan sebagainya. Ketrampilannya terasah sehingga ia mulai dapat menyetem atau mengatur nada kendang serta menghasilkan seperangkat alat gamelan.
Selain alasan menunggu waktu, laki-laki yang hidup sendirian sejak istrinya meninggal empat tahun silam ini merasa pekerjaannya bagian dari mempertahankan kebudayaan bangsa. Ia bercerita semasa usahanya masih dipegang oleh bapaknya, terdapat beberapa perajin kendang di Kecamatan Lendah dan Pengasih. Seiring berjalannya waktu, usaha-usaha tersebut gulung tikar karena tidak ada penerusnya.
Ia tidak menampik, saat ini terdapat banyak bengkel reparasi untuk partai besar. Maksudnya, tidak dikerjakan secara manual seperti yang ia lakukan. Tetapi, ia berkukuh untuk mempertahankan keberadaan usahanya, walaupun ia bekerja seorang diri tanpa dibantu siapapun.
Untuk reparasi kendang, bapak dari dua anak ini mematok biaya Rp180.000 hingga Rp450.000. Rata-rata persoalan kendang adalah pecah kulit, Kulit yang terkena air mengakibatkan rentan pecah saat dikencangkan. Sesekali ia juga melayani pembuatan kendang dengan pasaran di DIY sekitar Rp450.000 hingga Rp2 juta per unit. Hanya saja, pembuatan sebuah kendang memakan waktu hingga tiga bulan, sehingga tak banyak yang bisa ia produksi dalam satu tahun.
Kalau ditanya harapan, Mbah Mo masih menyimpan keinginan membuat pendapa yang dapat digunakan anak-anak berlatih gamelan. “Tapi yang terutama saya ingin ada salah satu dari anak saya meneruskan usaha ini,” tutupnya penuh harap.
Harian Jogja/Switzy Sabandar
Mbah Mo membuat kendang di rumah yang sekaligus berfungsi sebagai bengkel reparasi, beberapa waktu lalu.
Kendang Mbah Mo Bertahan Melawan Zaman
Mungkin laki-laki yang usianya sudah menginjak kepala enam ini layak dinobatkan sebagai tukang reparasi dan pembuat alat musik kendang tertua di Kulonprogo. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Switzy Sabandar.
Di usianya yang beranjak senja, Mbah Mo, demikian Parmo akrab disapa, mempertahankan pekerjaannya yang digelutinya sejak belia, sekalipun terlihat menantang arus.
Dibilang melawan zaman, karena kian lama semakin minim orang yang memanfaatkan jasa Mbah Mo. Pelanggan tetap yang diandalkan mayoritas berasal dari kelompok kesenian. Jumlahnya mungkin banyak, tetapi mereka hanya datang ketika peralatan musik tabuhnya rusak. Dalam satu bulan terdapat tujuh kendang rusak yang membutuhkan perbaikan di bengkel reparasi yang berlokasi di Dusun Graulan, Kelurahan Giripeni, Kecamatan Wates, Kulonprogo.
Namun, hal itu tidak menyurutkan niat laki-laki yang sudah purna tugas dari pekerjaannya sebagai PNS di RRI Jogja untuk mempertahankan usaha warisan almarhum bapaknya. “Memperbaiki kendang menjadi satu-satunya kesibukan saya di masa pensiun ketimbang nglangut menunggu uang pensiunan,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Selain warisan berupa usaha reparasi kendang, keahlian Mbah Mo juga diturunkan dari bapaknya yang kala itu kondang dengan sebutan Sastro Ripiblik, sebagai pembuat kendang dan perangkat gamelan di Kota Binangun.
Parmo muda kerap membantu ayahnya membuat kendang. Memang, tidak langsung berwujud kendang utuh seperti sekarang, melainkan dimulai dari memasang tali janget atau pengatur nada kendang, membuat tebokan atau kulit tabuh, selongsong tubuh kendang, dan sebagainya. Ketrampilannya terasah sehingga ia mulai dapat menyetem atau mengatur nada kendang serta menghasilkan seperangkat alat gamelan.
Selain alasan menunggu waktu, laki-laki yang hidup sendirian sejak istrinya meninggal empat tahun silam ini merasa pekerjaannya bagian dari mempertahankan kebudayaan bangsa. Ia bercerita semasa usahanya masih dipegang oleh bapaknya, terdapat beberapa perajin kendang di Kecamatan Lendah dan Pengasih. Seiring berjalannya waktu, usaha-usaha tersebut gulung tikar karena tidak ada penerusnya.
Ia tidak menampik, saat ini terdapat banyak bengkel reparasi untuk partai besar. Maksudnya, tidak dikerjakan secara manual seperti yang ia lakukan. Tetapi, ia berkukuh untuk mempertahankan keberadaan usahanya, walaupun ia bekerja seorang diri tanpa dibantu siapapun.
Untuk reparasi kendang, bapak dari dua anak ini mematok biaya Rp180.000 hingga Rp450.000. Rata-rata persoalan kendang adalah pecah kulit, Kulit yang terkena air mengakibatkan rentan pecah saat dikencangkan. Sesekali ia juga melayani pembuatan kendang dengan pasaran di DIY sekitar Rp450.000 hingga Rp2 juta per unit. Hanya saja, pembuatan sebuah kendang memakan waktu hingga tiga bulan, sehingga tak banyak yang bisa ia produksi dalam satu tahun.
Kalau ditanya harapan, Mbah Mo masih menyimpan keinginan membuat pendapa yang dapat digunakan anak-anak berlatih gamelan. “Tapi yang terutama saya ingin ada salah satu dari anak saya meneruskan usaha ini,” tutupnya penuh harap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pertamina menargetkan pabrik hidrogen hijau pertama di PLTP Ulubelu, Lampung, mulai beroperasi pada November 2026.
Kredivo menghentikan sementara penagihan dan menonaktifkan debt collector usai dugaan pelanggaran penagihan di Purworejo.
Film dokumenter Jalan Pulih terkurasi di Djourno Fest 2026. Karya ini mengangkat perjuangan perempuan dengan disabilitas psikososial dan makna pemulihan.
Dewan Pendidikan DIY menyoroti dugaan ketidaksetaraan fasilitas belajar siswa non muslim di SMA Negeri dan meminta seluruh sekolah memenuhi hak belajar setara.
Destry Damayanti ditunjuk sebagai Gubernur sementara BI. LHKPN mencatat total harta kekayaannya mencapai lebih dari Rp100,236 miliar.
Bareskrim Polri menangkap AKP Pardiman dan lima anggota Polres Tangsel terkait dugaan narkoba. Polri menegaskan tidak ada impunitas.